July 21, 2009
Oleh : Suharyanto
Beberapa tahun ini, setiap sekolah menengah melaksanakan program yang disebut dengan Masa Orientasi Siswa (baru), yaitu masa untuk memberikan orientasi bagi siswa baru suatu sekolah. Suatu program yang bertujuan bagus, yaitu memberikan pengenalan bagi siswa untuk lebih siap dan mengetahui dalam mengikuti proses pembelajaran selama di bangku sekolah sehingga ketika sekolah nantinya siswa
Dalam praktiknya, MOS diisi dengan berbagai cara kreatif, unik dan lucu. Beberapa sekolah justru melakukannya dengan acara yang memberikan nilai-nilai positif bagi siswa, yaitu semangat bergotong royong, kerja sama, empati, kreatif dan nilai-nilai positif lainnya. Kemudian, dengan adanya pembekalan berupa MOS, siswa akan termotivasi untuk disiplin, kerja keras, memahami lingkungan baru (sekolah baru) dan lain sebagainya.
Namun demikian, baru-baru ini juga muncul kekhuatiran dari beberapa kalangan mengenai pelaksanaan MOS yang rawan adanya tindakan kekerasan. Masa orientasi bisa menjadi ajang “perploncoan”. Beberapa media massa juga mensinyalir hal demikian. Uniknya, kegiatan sejenis MOS dulu marak dilakukan di perguruan tinggi yang penuh dengan nuansa perploncoan. Tak pelak lagi ketika itu muncul berbagai tindak kekerasan dari senior kepada yuniornya. Syukur, belakangan “plonco” di perguruan tinggi sudah berganti menjadi lebih “beradab”. Bahkan sekarang masa “plonco” yang dikenal dengan nama Pengenalan Kehidupan Kampus (PKK) lebih banyak diisi dengan materi yang menggugah motivasi, berorganisasi, kerjasama, pemecahan masalah, bagaimana berempati, kreativitas dan lain-lain. Ini adalah kemajuan yang patut disyukuri dimana mahasiswa selaku calon-calon intelektual maka kegiatan yang dilakukan hendaknya juga mencerminkan perilaku intelek.
Mumpung belum berjalan jauh, mulai sekarang MOS hendaknya lebih diarahkan kepada muatan-muatan yang akan mendorong pada kepemimpinan, kreativitas, kerjasama, empati kesuksesan dalam belajar dan lain sebagainya. Apa yang disinyalir oleh berbagai media massa tentang kekhawatiran MOS salah arah, perlu diperhatikan untuk kemudian tidak terlanjur menjadi sebuah kebiasaan buruk dari tahun ke tahun. Jangan sampai apa yang dulu pernah terjadi pada mahasiswa (plonco) yang kini sudah hilang justru terjadi pada level siswa sekolah menengah.
Sekolah, dalam hal ini guru dan system, masyarakat dan pemerintah harus sudah mulai mengantisipasi hal yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan MOS. Dari sini maka MOS akan berlangsung seperti yang diinginkan, yaitu tertanamkannya nilai-nilai positif bagi siswa baru. Nilai-nilai positif ini akan membentuk jiwa dan perilaku siswa di kemudian hari. Sungguh, MOS memiliki sisi rawan penyelewengan, maka pengendalian dari pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah mutlak diperlukan.
MOS harus terus dipantau menjadi kegiatan yang kreatif[]
1 Comment |
Artikel Umum | Tagged: Kekerasan siswa, Masa orientasi Siswa, MOS, Ospek, Plonco, Siswa baru |
Permalink
Posted by suharyanto
July 9, 2009
Oleh : Suharyanto
Akhirnya pilpres kali ini dapat dilewati dengan “aman dan damai” sebagaimana pilpres 5 (lima) tahun lalu. Seperti halnya pilpres 5 tahun lalu, pilpres kali ini juga diwarnai berbagai dinamika politik. Bahkan, dua hari menjelang pilpres ada indikasi pilpres untuk ditunda. Ternyata semua itu tak terjadi. Malah kini sudah menghitung hasil pemungutan suara 8 Juli lalu.
Berdasarkan hasil hitung cepat dan perhitungan sementara KPU, terlihat bahwa capres incumbent memperoleh suara tertinggi yang bahkan melampaui 50% plus satu. Ini artinya pilpres cukup satu putaran. Gejolak yang diprediksi berbagai pengamat juga nyaris tidak terjadi. Kalaupun ada itu hanya riak-riak kecil yang mewarnai pilpres. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat sudah dewasa dalam berdemokrasi melalui pilpres. Tinggal bagaimana elit politiknya saja. Berbagai gejolak pasca pilkada tak terlepas dari peran elit politik daerah yang justru tidak mau memahami dan menerima kenyataan politik. Dus, perlunya penyelenggara pilkada ataupun pilpres meningkatkan netralitas dan profesionalismenya.
Rakyat telah menentukan pilihan, tinggal menunggu hasil perhitungan pilihan rakyat itu. Rakyat Indonesia hanya menginginkan kehidupan yang dama dan tentram serta meningkat kesejahteraannya. Oleh karenanya, apapun hasilnya dan siapapun yang memperoleh suara pilihan rakyat terbanyak, maka hendaklah itu semua dalam kerangkan mensejahterakan rakyat. Rakyat sudah terlalu lelah untuk selalu menderita dan disuguhi dengan drama-drama politik yang menegangkan seakan-akan itu hanya akal-akaln para elit dengan mengatasnamakan rakyat. Rakyat butuh kedamaian dalam menjalani hari-harinya. Rakyat tidak ingin di pentas perpolitikan negeri kita diwarnai dengan drama-drama “lucu” para badut politik. Kini, setelah memilih calon presiden, suasana aman dan damai ini tetap kita pelihara agar semuanya berjalan dengan baik.
Tanggal 8 Juli lalu, rakyat telah memberikan contoh kepada kita semua, khususnya elit-elit politik, bahwa berdemokrasi mereka telah mampu melaksnakan dengan damai tanpa kekisruhan. Masyrakat justru telah menunjukkan kepada kita bahwa seharusnya elit politik siap menang dan siap kalah. Masyarakat tidak lagi hiruk pikuk dengan siapa yang kalah dan siapa yang menang, mereka hanya memilih dengan ikhlas dan kemudian menghendaki kehidupan yang lebih baik. Untuk itu, tradisi yang baik seperti ini hendaknya dilanjutkan, yaitu tradisi aman dan damai di pemilu. Akan lebih baik lagi bila dalam berdemokrasi kita di pilpres dimulai dengan ucapan “selamat” dari yang kalah kepada yang menang. Alangkah indahnya. Sebaliknya, yang menang jangan sampai tinggi hati. Ingat dengan janji-janji yang telah disampaikan untuk kemudian ditunaikan dalam menjalankan pemerintahan dan kenegaraan lima tahun mendatang.
Jika rakyat telah memberikan contoh dalam pemilu kali ini, kenapa para elit politik tidak mengikuti teladan yang telah ditunjukkan oleh rakyat, berupa kompetisi dalam kedamaian dan kedamaian dalam kompetisi. Artinya, segala bentuk persaingan yang dilakukan adalah dalam kerangka fastabiqul khairat. Berlomba-loba dalam kebaikan. Rakyat yakin bahwa visi-misi dan program yang diemban oleh masing-masing pasangan capres-cawapres, hakikatnya adalah demi kebaikan rakyat dan bagsa Indonesia dan demi kesejahteraan rakyat. Bukan untuk beberapa gelintir orang di Negara ini. Akhirnya, rakyat telah mendemonstrasikan demokrasi dengan baik, maka ikutilah dan tunaikan janji-jani bagi kandidat terpilih dan sama-sama kita control dalam pelaksanaan pemerintahan mendatang. Bagi yang kalah, maka “legowo” merupakan kebaikan yang tak ternilai.[]
5 Comments |
Artikel Umum | Tagged: JK_WIN, KPU, Mega-Prabowo, Neolib, Neoliberalisme, pilpres 2009, Presiden terpilih, Quick Count, SBY, sistem politik Indonesia |
Permalink
Posted by suharyanto
July 3, 2009
Oleh : Suharyanto
Ini adalah kali kedua Indonesia menyelenggarakan pemilihan presiden secara langsung. Pertama adalah tahun 2004 yang menghasilkan pemenang pasangan SBY-JK. Kini, pasangan yang bertanding ada tiga, Mega-Prabowo, SBY-Boediono dan JK-WIN. Kampanye demi kampanye telah dan sedang dilalui, berbagai pernak-perniknya juga telah muncul ke permukaan. Ada yang mengatakan sebagai black campaign, ada yang mengatakan ini strategi lawan dan lain sebagainya. Isu yang digunakan jug abermacam-macam, ada yang menggunakan isu aliran (ideology) ekonomi, SARA dan lain sebagainya.
Pokoknya terkesan panas. Saling kritik, saling serang dan saling tuding selalu menghiasi kampanye dan iklan politik masing-masing pasangan. Kontras dengan apa yang kita saksikan pada layar kaca pada saat ”debat” capres maupun cawapres. Arena debat yang seharusnya menjadi ajang adu gagasan dan langkah penyelenggaraan negara dan bangsa ini secara baik dan benar dengan argumen yang menguatkan justru terlihat sebagai ajang pemaparan visi-misi tanpa deferensiasi. Banyak yang merasa “kurang puas” karena “debat” yang diharapkan tidak terjadi. Memang, sempat terjadi lontaran yang cukup menggelitik, tetapi tidak pada substansi.
Ada yang pro dan ada yang kontra dengan cara ”debat” capres dan wapres kita. Ada yang berpendapat, jika debatnya seperti yang terjadi pada debat capres USA maka ini tidak sesuai dengan kultur bangsa kita sehingga dengan cara seperti yang saat ini terjadi merupakan cara yang cocok. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa debat seharusnya melontarkan ide dan kritik terhadap pesaingnya, bukan adu tuding perkara pribadi.
Apapun, ini semua masih dalam proses menuju kedewasaan berdemikrasi. Yang penting jangan sampai pada saat dan setelah pilpress terjadi kerusuhan, yang sama-sama tidak kita inginkan. Seorang tokoh terkemuka dalam suatu resonansinya di harian nasional mengatakan bahwa jangan sampai pemilu Iran ”diimpor” oleh Indonesia. Yang dimaksudkan tentu saja kerusuhan pasca pemilu Iran baru-baru ini. Selama ini, Iran menyelenggarakan pemilu relatif tanpa gejolak. Nah, sekarang terjadi gejolak yang tidak terbayangkan sebelumnya hingga menelan korban puluhan orang. Hal inilah yang tidak diinginkan terjadi di Indonesia. Kita sudah terlalu lama mengalami kerusuhan. Sejak reformasi bergulir, hampri setiap hari kita disuguhkan dengan menu kerusuhan. Rakyat sudah letih dan bangsa ini menginginkan kedamaian. Masyarakat menginginkan ketenangan dalam menjalani hidup dan untuk menggapai kesejahteraan, bukan kerusuhan. Untuk itu, hal ini sangat membutuhkan kearifan para tokoh-tokoh politik, formal maupun informal untuk menciptaan suana yang damai, aman dan menyenangkan khususnya dalam pelaksanaan pilpress kali ini. Jangan hanya karena kepentingan kekuasaan, masyarakat menjadi korban. Mari kita ciptakan kedamaian dalam pilpress ini.[]
Leave a Comment » |
Artikel Umum | Tagged: demokrasi Indonesia, JK-WIN, Megapro, Pilpres satu putaran, SBY, sistem politik Indonesia |
Permalink
Posted by suharyanto