Bunga Rafflesia

September 8, 2009

Oleh: Suharyanto

Masyarakat Bengkulu telah mahfum bahwa Bunga Rafflesia merupakan bunga terbesar di dunia dan menjadi ikon Bengkulu dan bahkan dianggap bunga ini hanya tumbuh di daerah ini. Oleh karenanya Bengkulu kita juluki sebagai Bumi raflesia. Kita, ya kita yang menjuluki diri kita sendiri, bukan orang lain. Kondisi seperti itu bias kita mengerti karena nama Rafflesia dinisbatkan kepada Gubernur Jendral Inggris ketika masih menjajah Bengkulu di awal abad 19 yang bernama Stomford Raffles. Ketika itu, eksplorasi ilmu pengetahuan dan dunia flora di bawah Raffles cukup mendapat perhatian, konon Raffles sendiri sangat tertarik dengan bidang biologi. Nah, pada masa penjajahannya itulah ditemukan bunga oleh Dr Joseph Arnold yang merupakan tim ekspedisinya Raffles. Kemudian bunga ini kita kenal sebagai bunga Rafflesia, dengan spesies Rafflesia arnoldi, kombinasi antara Raffles dan Dr Arnlod.

Barang kali Karen ahal tersebut di atas maka kita menganggap rafflesia merupakan milik khas Bengkulu sehingga ketika ada iklan pariwisata Malaysia yang menayangkan bunga Rafflesia sempat membuat sejumlah masyarakat ingin memprotesnya. Benarkah bunga tersebut hanya ada di Bengkulu? Rafflesia itu sendiri merupakan nama genus dan terdiri dari beberapa spesies. Kebetulan yang ditemukan dan tumbuh di bumi Bengkulu adalah berspesies Rafflesia Arnoldi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa masih banyak jenis yang lainnya yang diperkirakan mencapai 26 spesies. Juga, sebaran tumbuhnya tidak hanya di Bengkulu. Cakupan sebaran tumbuh bunga ini ada di kawasan Asia Tenggara, khususnya Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan dan Filipina. Jadi Bunga Rafflesia bukan khas hanya tumbuh di Bengkulu.

Namun demikian bukan berarti kita terus meniadakan arti ikon Rafflesia dari Bengkulu. Hal ini karena keterkaitan sejarah dan frekuensi tumbuh yang tinggi di kawasan pegunungan Bengkulu. Hanya saja, apa yang telah diupayakan oleh segenap komponen Bengkulu belum bergaung besar. Hingga kini, masih sangat banyak warga Indonesia yang belum tahu bahwa rafflesia identik dengan Bengkulu. Berbeda dengan empek-empek yang diidentikkan dengan Palembang sekalipun empek-empek bisa dijumpai dan diproduksi di kawasan lain di luar Sumatera Selatan. Bahkan dalam sebuah novel terkenal, yang berjudul Saman, karya Ayu Utami, si penulis menyebutkan bahwa bunga Rafflesia tumbuh di tanah Malaya. Mengapa tidak menyebutkan Bengkulu yang jelas Bengkulu ada di Indonesia. Apakah ini indicator bahwa promosi Rafflesia identik dengan Bengkulu belum berhasil?

Kiranya kita masih membutuhkan upaya keras untuk mengiklankan diri bahwa rafflesia itu identik dengan Bengkulu tetapi bukan dengan memarahi Malaysia yang juga menampilkan Rafflesia di iklan promosi pariwisatanya.[]


Tambal Sulam

August 7, 2009


Oleh : Suharyanto

Tambal sulam adalah suatu istilah untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu hanya “ditambal dan diganti” dari sesuatu yang ‘rusak”. Contohnya roda kendaraan yang pecah atau bocor, maka mengatasinya dengan ditambal atau diganti dengan yang baru sama sekali. Bila ditambal maka kekuatannya akan lebih rendah bila dibandingkan dengan yang baru sama sekali. Contoh untuk sulam, misalnya, dalam suatu luasan kebun tanaman ada beberapa yang mati, maka tanaman yang mati itu diganti dengan yang baru (disulam).

Sekalipun ini benar menurut kaidah ilmu pertanian, makna “sulam” seperti ini menjadi kurang tepat untuk konteks perbaikan sesuatu. Tambal sulam merupakan memperbaiki secara parsial dan tidak mendalam hingga ketemu pangkal masalah suatu kerusakan. Hasil dari perbaikan tambal sulam ini adalah cepat atau mudahnya sesuatu yang diperbaiki itu rusak kembali. Apa lagi jika perbaikan tambal sulam itu hanya untuk “make up” saja.

Tambal sulam boleh dan perlu dilakukan bila tingkat kerusakan sesuatu itu bersifat minor dan kasuistik. Hal-hal yang begini memang diperbaiki secara “tambal-sulam” dan setiap kegiatan, katakanlah “proyek pembangunan” pastilah dianggarkan untuk tambal sulamnya. Termasuk untuk biaya perawatan. Berbeda halnya bila tingkat kerusakan itu sudah dalam skala massif dan mayor, maka perbaikannya tidaklah bisa tambal sulam, melainkan perbaikan secara menyeluruh. Selain perbaikan secara menyeluruh, yang tak kalah pentingnya adalah mencari sebab mengapa kerusakan bisa terjadi secara cepat, masif dan menyeluruh. Bila sudah ditemukan maka kemudian selanjutnya dikeluarkan rekomendasi supaya penyebab kerusakan tidak ada lagi.

Kita bisa melihat di sekitar kita apa yang tengah terjadi. Kerusakan yang ada pun bisa bermacam-macam dimensi: social, lingkungan dan fisik. Hal paling terlihat secara fisik adalah kerusakan jalan. Jalan yang ada di kota dan provinsi kita sudah sangat parah tingkat kerusakannya. Perbaikan yang dilakukan selama ini tak kunjung usai, justru semakin memperparah kondisi jalan menjadi semakin tidak layak dilalui. Dalih perbaikan menjadi bemper dari keresahan masyarakat akan kondisi jalan yang dilalui. Seiring dengan itu, kerusakan di sisi lain terus berlangsung. Penyebab kerusakan sudah diketahui, kini tinggal giliran saling lempar tanggung jawab dan kewenangan. Masyarakat pengguna jalan tidaklah tahu ini jalan siapa dan itu jalan siapa. Yang diketahui oleh warga pengguna jalan adalah bahwa mereka telah membayar pajak dan pemerintahlah yang harus bertanggung jawab atas kerusakan jalan.

Melihat kenyataan yang demikian ini maka kiranya perbaikan harus secara menyeluruh, bukan saja perbaikan secara menyelurh atas kerusakan jalan yang ada, tetapi juga perbaikan menyeluruh dari sikap dan perilaku serta paradigm berfikir-bertindak para pembuat kebijakan. Dengan demikian maka kerusakan yang ada dapat segera diperbaiki dengan sebenar-benarnya.[]


Kecewa dan Marah

June 19, 2009

Oleh: Suharyanto

Baru-baru ini, petinggi kota merasa kecewa dengan kerusakan jalan kota. Kecewa karena jalan raya kita semakin susah dilewati dan membahayakan bagi pengguna jalan. Maka kemudian, banyak kalangan justru bertanya, kepada siapakah petinggi kota ini marah? Bukankah kerusakan ini semakin diperparah dengan lalu lalangnya truk-truk fuso yang konon katanya kendaraan tersebut masuk kota atas restu sang petinggi. Jadi kepada siapakah beliau marah?

Jika alasan marah karena jalan rusak, mestinya marahnya sudah dari dulu-dulu, soalnya kerusakan jalan bukan baru seminggu dua minggu ini. Perbaikan yang dilakukan justru memperparah kerusakan karena perbaikannya “tidak” pernah selesai. Kerusakan yang semakin menjadi juga akibat truk-truk fuso yang melintasi jalan kota. Apakah marahnya kepada “fuso?”. Jika iya, tentunya harus diikuti dengan melarang fuso melintasi jalanan kota yang memang seharusnya tidak boleh lewat di dalam kota.

Lantas marah kepada siapa? Kepada masyarakat? Bukankah seharusnya yang marah adalah masyarakat si pengguna jalan? Dengan kerusakan yang semakin parah maka perjalanan menjadi terganggu dan berbahaya? Belum lagi bila berpapasan atau bersimpangan dengan truk-truk besar? Sebagai warga kota maka pertanyaan tersebut wajar timbul. Warga masyarakat telah membayar pajak yang seharusnya dapat menikmati perjalanan yang menyenangkan di dalam kotanya sendiri. Bahkan, bisa-bisa kekecewaan ini menimbulkan kemarahan. Buktinya, sudah beberapa kali jalan yang rusak kemudian ditanami pohon pisang. Ini adalah cara protes dan menunjukkan kemarahan mereka.

Wajar masyarakat kecewa dan protes walaupun dengan cara yang agak aneh karena cara yang biasanya tidak membuahkan hasil. Berbagai cara, mulai dari kirim layanan singkat di media massa, surat pembaca, demonstrasi, dan mendatangi kantor wali kota dan lain-lain. Meskipun tidak juga membuahkan hasil, dengan menanami pohon pisang ding tempat jalan yang rusak, paling tidak mendapat tanggapan dengan mencabut pohon dan meratakan kubangan jalan dengan korang. Semua tahu bahwa “perbaikan” yang seperti itu bukanlah jawaban. Masyarakat hanyalah menginginkan respon yang kemudian akan diikuti dengan tindakan perbaikan yang sesungguhnya dan mengeliminasi faktor-faktor yang mempercepat kerusakan jalan, termasuk melarang truk fuso melewati jalan.

Pemecahan masalah fuso di tengah kota harus diselesai terlebih dahulu maka kemudian satu faktor penghancur jalan sudah teratasi, tinggal faktor-faktor lainnya. Bila ketentraman masyarakat dari pengguna jalan dapat ditunaikan maka tinggal di dalam gang, lalu di dalam rumah. Jalan, adalah awal kesan bagi orang luar kota untuk menilai kondisi di dalam rumah warganya. Bila jalan yang ada terlihat bagus, indah, elok dan lain sebagainya maka kesan ini akan menetap di memori pengunjung kota. Maka klop antara program pemerintah dengan kenyataan yang ada, yaitu menjadikan Bengkulu sebagai kota wisata yang ditunjang dengan keindahan jalanannya. Dan, tidka menutup kemungkinan adipura yang lepas dari genggaman kita akan diraih kembali. Jangan sampai masyarakat kecewa dan marah hanya karena jalan.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 18 Juni 2009


Titi DJ

June 12, 2009

Oleh: Suharyanto

Siapakah orangnya yang tidak kenal Titi DJ? Rasanya kebanyakan kita mengenal sosok yang satu ini. Ia seorang penyanyi papan atas Indonesia yang juga mendapat julukan diva pop Indonesia. Sebuah julukan yang memperlihatkan si empunya nama sebagai “empu” dalam dunia tarik suara.

Namun, dalam dunia plesetan, kita juga mahfum dengan istilah Titi DJ. Biasanya kalangan remaja atau orang dewasa yang sedang plesetan, istilah ini biasa digunakan bila temannya akan bepergian. “Titi DJ, ya”. Maksudnya “hati-hati di jalan”. Kemudian dilanjutkan dengan “Dedi Dores, ya”. Kali ini maksudnya “dengan diiringi do’a restu”. Dedi Dores juga seorang penyanyi papan atas era 80-an. Demikianlah plesetan segar dengan mengambil nama-nama orang terkenal.

Saya tertarik dengan Titi DJ. Maksudnya plesetan hati-hati di jalan, bukan sosok Titi DJ-nya. Hati-hati di jalan memang sangat diperlukan demi keselamatan pengguna jalan dan masyarakat umum. Banyak kecelakaan yang terjadi karena para pengguna jalan tidak berhati-hati di jalanan. Bahkan, di salah satu pinggir jalan di kota kita ada tulisan yang menginformasikan pentingnya berhati-hati di jalan. “Jangan tumpahkan air mata dan darah sia-sia di jalan ini”, demikian kira-kira pesannya. Belakangan ini, di dinding facebook, Walikota juga menyampaikan pesan agar masyarakat pengguna jalan berhati-hati karena sedang ada perbaikan jalan.

Pesan Walikota tersebut menekankan pada alasan sedang ada perbaikan jalan. Dengan adanya perbaikan jalan maka banyak gangguan dalam perjalanan. Oleh karena itu perlu berhati-hati. Kita tidak tahu sampai kapan perbaikan itu berlangsung. Yang jelas, tentang berhati-hati di jalan harus selalu sepanjang menggunakan jalan dan dalam kondisi apapun jalan itu. Pun, sebenarnya, sudah cukup lama jalan raya di kota kita butuh perbaikan total. Bukan baru-baru ini saja. Banyak ruas jalan kota yang berlubang, berkubang dan bergelombang. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan lalu-lalangnya truk-truk besar melintasi jalanan kota. Wal hasil lubang, kubang dan gelombang jalan semakin berkembang.

Inilah kondisi infrastruktur kota (dan Provinsi kita). Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu singkat menjadi berlarut-larut di atas jalanan. Kendaraan yang seharusnya tidak boleh melintasi kota, malah diperbolehkan. Tingkat kerusakan dan gangguan lingkungan menjadi meningkat. Lalu, masyarakat protes, tetapi kemudian “tidak ditanggapi”. Maka, jalan yang di tempuh adalah dengan menanami pepohonan di tempat rusaknya jalan. Ternyata cara ini menarik perhatian sehingga segera diberikan tindakan berupa “perbaikan” sementara. Perbaikan yang sesungguhnya juga kita tidak tahu sebab, setiap hari kita hanya melihat seperti itu terus: pemerataan, penambahan koral, pemerataan, penimbunan koral dan seterusnya. Praktis, jalan kita semakin tidak layak berada di tengah kota.

Jadi, kita harus semakin berhati-hati di jalan. “Titi DJ, ya”.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 12 Juni 2009.


Meniti Jalan Kota

June 5, 2009

Oleh Suharyanto

Menelusuri seluk beluk Kota Bengkulu, sesungguhnya cukup mengasikkan. Sekalipun kata orang Bengkulu merupakan Kota kecil untuk ukuran ibukota sebuah provinsi, sebenarnya Kota ini memiliki kekhasan. Masing-masing kota memiliki cirri khas masing-masing. Di kota ini, hampir setiap simpang terdapat tugu. Ada tugu yang tepat di tengah-tengah persimpangan, ada pula yang tidak tepat di tengah-tengah. Peraturan memutari tugu persimpangan bagi kendaraan yang akan belok kanan menjadi kewajiban, oleh karenanya kadang cukup merepotkan bila posisi tugu tidak ada di tengah-tengah. Kadang-kadang jika hendak belok ke kanan, berhubung harus memutari bundaran (tugu) yang posisinya jauh ke arah sebelah kiri justru terasa jauh dan merepotkan. Malahan, deratan kendaraan dari posisi kita belum selesai memutari tugu, kendaraan dari simpang di sebelah kanan kita sudah lampu hijau, otomatis mereka berjalan dan akhirnya kendaraan bertemu di tengah-tengah jalan simpang. Tapi unik juga, jika dinikmati. Masing-masing kota punya proble sendiri-sendiri.

Namun demikian, karena kota kecil, maka tidaklah sampai meinmbulkan kemacetan. Suasana kota yang tenang tetap terasa. Di kota ini juga tidak ada rumah yang nyaris berbatasan langsung dengan badan jalan sebagaimana ditemui di kota-kota lain. Beberapa ruas jalan dua jalur cukup rindang oleh pepohonan kota. Hanya pada ruas dua jalur baru yang masih gersang, mungkin belum akan ditanami hijauan. Dulu ada yang coba di tanam pohon Jarak untuk menunjukkan bahwa Bengkulu peduli dengan sumber energi alternatif biodiesel sekalipun sekarang kita tidak tahu lagi kelanjutannya, tetapi pohon jara itu mati semua. Sekalipun tidak ada hijauan terbuka, kota ini masih terasa hijaunya karena memang populasi manusia dan kendaraan relatrif masih sedikit dan hijauan tanaman penduduk masih banyak. Tidak tahu beberapa puluh tahun yang akan dating. Ini musti ada perencanaan kota yang baik supaya tidak terjadi kesemerawutan kota masa depan seperti yang sekarang terjadi di kota-kota besar.

Suasana damai, sejuk, hijau dan beberapa jenis ketenangan lainnya nampaknya mulai memudar. Bukan oleh pertumbuhan kota, tapi oleh kerusakan ruas jalan kota. Jalan-jalan kota ini banyak yang bergelombang, berlubang, berkubang, aspal pecah, tinggal berkoral saja dan lain sebagainya. Debu beterbangan kian kemari terhempas oleh debutan truk-truk besar yang seharusnya tidak boleh melintasi jalan tengah kota. Sekarang juga semakin banyak ditemui lubang dan kubang jalan kota akibat tidak kuat menahan beban kendaraan besar melintas. Tak ayal lagi, protespun berdatangan dari segenap lapisan masyarakat. Tetapi nampaknya kucing-kucingan masih tetap terjadi. Malahan, ada warga yang kembali menanam pohon pisang di tengah jalan tepat pada lubang atau kubang jalan. Mereka protes dengan cara seperti itu karena melalui jalur yang semestinya tidak membuahkan hasil. Jika hal seperti ini tetap berlanjut maka di tengah-tengah jalanan kota kita akan menjadi kebun pisang. Jika musim hujan datang, tidak menutup kemungkinan kubangan di tengah jalan tak ubahnya kubangan kerbau. Apakah bentuk protresnya nanti dengan menambatkan kerbau di tengah jalan? []

Bengkulu Ekspress, Jumat 5 Juni 2009.


Gunung Api di Laut Bengkulu

May 29, 2009

Inilah temuan terbaru ahli geologi. Mereka menemukan gunung berapi di lautan Bengkulu. Tepatnya 330 barat Bengkulu. Berita lengkapnya berikut ini

Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Kamis, 28 Mei 2009 | 18:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatera. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dan berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.

Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

“Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).

Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330 km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.

“Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera.

Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).

WAH
Sumber : Antara


Jembatan Sungai Serut

May 25, 2009
Sungai Serut mengalir dengan tenang menuju muara (foto diambil dari atas jembatan)

Sungai Serut mengalir dengan tenang menuju muara (foto diambil dari atas jembatan)

Oleh: Suharyanto

Sekecil apapun, Bengkulu juga memiliki potensi wisata yang bila dikelola dengan baik akan mendatangkan nilai plus bagi kota dan provinsi ini. Salah satu objek wisata yang berada di Kota Bengkulu adalah kawasan pantai Jakat. Pantai ini persis berada di teluk antara daratan Pasar Bengkulu dan Pantai Tapak Paderi. Pantai ini sebenarnya lebih merupakan kawasan nelayan masyarakat Pasar Bengkulu dan sekitarnya. Semenjak dibukanya jalan lingkar luar yang menghubungkan Sungai Hitam (perbatasan Kota dengan Bengkulu Tengah hingga ke Pantai Panjang Bengkulu, kawasan ini menjadi ramai dan menarik untuk dikunjungi.

Pada saat-saat tertentu, sabtu sore, hari minggu atau hari-hari libur, kawasan lingkar luar dari Sungai Hitam hingga Pantai Panjang ramai saling sambung-menyambung, terutama di sore hari. Kali ini, saya coba tampilkan sepotong senja di seputar jembatan Sungai Serut, Bengkulu.

Jembatan Sungai Serut di suatu sore. Jembatan ini menghubungkan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam.

Jembatan Sungai Serut di suatu sore. Jembatan ini menghubungkan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam.

Sebuah cerita kebetulan saja saat saya jalan-jalan di sore hari di kawasan pantai di Kota Bengkulu. Saya memasuki kawasan pantai dari Pantai Panjang terus menelusuri jalan lingkar luar hingga tembus di Tapak Paderi dan terus ke Pantai Jakat hingga Jembatan Pasar Bengkulu-Sebuah jembatan yang menghubungan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam. Nah, dari Jembatan ini mula pertama terinspirasi untuk menampilkan cerita yang dihiasi gambar terkait. Tentu saja apa yang saya sampaikan ini bukanlah sebuah reportase atau sejenisnya.

Dulu, jalan yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan kawasan di utaranya melalui Pasar Bengkulu menuju Sungai Hitam melalui sebuah jembatan yang melintasi batang Sungai Serut. Jembatan lama tersebut terletak di sebelah hulu dari jembatan yang baru sekarang ini. Jembatan yang baru sekarang, selain untuk jalan penghubung, juga menjadi objek wisata. Sore itu nampak muda-mudi sedang berjajar menikmati pemandangan sore hari dari atas jembatan yang melintasi Sungai Serut. Apakah muda-mudi yang sedang asyik menikmati sore hari di atas sungai itu menyadari bahwa dari situlah nama Bengkulu terlahir, termasuk nama-nama yang menjadi legenda Bengkulu seperti Putri Gading Cempaka.

Sungai Serut, sebuah nama yang amat lekat dengan sejarah Bengkulu, yaitu kerajaan Sungai Serut. Menurut setengah cerita, dari Sungai Serut ini lahir nama yang sekarang menjadi Bengkulu. Ceritanya, ada

pembesar Kerajaan Aceh yang menyukai Putri Gading Cempaka, putri bungsu dari Raja Sungai Serut (Ratu Agung). Namun, masih

Tugu ini sebagai peringatan perjuangan pejuang Bengkulu melawan penjajah. Berdiri tegak di samping jembatan Sungai Serut.

Tugu ini sebagai peringatan perjuangan pejuang Bengkulu melawan penjajah. Tugu ini berdiri tegak di samping jembatan Sungai Serut.

menurut legenda, pihak Putri Gading Cempaka tidak berkenan sehingga terjadilah pertempuran dahsyat di sungai itu. Begitu dahsyatnya sehingga memakan korban kedua belah pihak yang amat banyak sehingga korban manusia berjajar-jajar dari muara hingga ke hulu. Banyak bangkai berhulu-hulu. Mungkin ini yang menelurkan nama Bangkahulu. Tentu saja ada teori lain yang menyebutkan tentang asal usul nama Bengkulu.

Di dekat jembatan terdapat tugu perjuangan. Sebuah tugu peringatan yang menandakan bahwa di kawasan tersebut pernah terjadi pertempuran heroik antara pejuang-pejuang Bengkulu melawan Belanda pada masa perang kemerdekaan. Semoga semangat perjuangan mereka tidak luntur tergilas oleh arus zaman. Semoga itu bukan sekedar tugu bisu yang di sebelahnya selalu ramai oleh muda-mudi (termasuk diriku) yang sekedar jalan-jalan. Justru seharusnya kita (kami) meneruskan semangat perjuangan mereka. Sungguh, ini suatu pemandangan yang ideal di mana Sungai Serut sebagai urat pangkal sejarah Bengkulu hadir, dan di sebelahnya terdapat simbol perjuangan. Dua simbol ini hendaknya diketahui dan dimaknai kembali nilai-nilai kesejarahan dan perjuangannya oleh siapapun yang melintasi dan menikmati pemandangan.[]

Bengkulu, 25 Mei 2009.

Dimuat di Bengkulu Ekspress, Jumat 29 Mei 2009.


Bencoolen

March 30, 2009

Oleh: Suharyanto

Sabtu malam Minggu, 28 Maret 2009 aku mendapat pesan singkat dari seorang teman di Magelang. Isi pesan singkat tersebut kira-kira begini, “Mas Unib namanya menjadi apa kalo kotanya menjadi Bencoolen?”. Aku maih belum mengerti maksud pesan singkat dari teman terebut. Sejenak aku coba pahami dan pikiranku tertuju pada sesuatu bahwa pasti telah dan sedang ada berita terkait Bengkulu. Kebetulan di tempat tinggalku, saat itu, sedang mendapat giliran (mungkin bukan giliran, tapi kejadian acak yang terlalu sering) pemadaman listrik jadi aku tidak bisa nonton tv. Namun hatiku tetap yakin bahwa temanku pasti telah dan sedang membaca, mendengar atau melihat berita.
Karena merasa penasaran dengan isi pesan singkat itu, akhirnya aku coba memancingnya dengan balasan “Unib ya tetap Unib orang nama kotanya Bengkulu kok, Provinsinya juga!”. Tak pelak, temanku membalas dengan nada meledekku (karena aku tidak mengikuti berita terbaru) “ha ha ha Bengkulu mau diubah menjadi Bencoolen”.

“Wah, benar” aku membatin, lantas aku balas lagi “Ah, di tv itu ngawur!”.

Malam itu aku cukup gelisah dengan adanya pesan singkat dari kawanku. Kegelisahanku karena aku merasa tengah ketinggalan kereta. Baru keesokan harinya aku membaca berita di Harian Rakyat Bengkulu. Ternyata benar dugaanku bahwa telah terjadi berita yang terkait dengan nama Bengkulu di media nasional. Selama ini memang aku kurang mengikuti perkembangan kota ini karena kebetulan sedang ada “kegiatan” di luar provinsi.

Setelah membaca berita itu aku baru mengerti dan opiniku mulai menari-nari di benakku. Kucoba telusuri segenap pengetahuanku tentang sejarah Bengkulu sedapat mungkin dan sekenanya sembari kuelaborasikan dengan pemahamanku tentang kata Bengkulu, Bencoolen, Bangkahulu. Ketiga kata inilah yang jelas memiliki benang merah makna.

Memang, Bengkulu pernah menjadi jajahan Inggris di abad 18. Mereka menyebut orang-orang Bengkulu dengan lidah mereka tentunya. Mengapa mereka menyebut Bencoolen? Tidak dengan kata atau sebutan lain? Pastinya orang-orang Inggris ini punya rujukan. Misalnya orang Belanda menyebut BATAVIA karena ada rujukannya, yaitu BETAWI, dan begitu pula BENCOOLEN. Usut punya usut, sebutan ini tak lain dan tak bukan berangkat dari kata BANGKAHULU. Sudah menjadi kebiasaan (atau aturan) bahwa orang Inggris jika menyebutkan suatu kelompok orang, tempat atau bangsa dengan tambahan -an, -ese misalnya Javanese, Indonesian dan lain-lain. Nah, tidak menutup kemungkinan nama BENCOOLEN itu berangkat dari BANGKAHULUAN, yang artinya NEGERI BANGKAHULU, atau KAUM (ORANG) BANGKAHULU. Jadi, BENCOOLEN adalah nama lain dari BANGKAHULU atau BENGKULU sekarang ini.

Analogi yang sama juga terjadi pada SULAWESI = CELEBES, MALUKU = MOLUCAS, KALIMANTAN = KLEMANTAN = BERUNAI = BARUNO = BORNEO, MAKASAR = MACASSAR. Mana yang nama asalnya? Tergantung siapa yang menyebutkannya. Sama seperti kita menyebutkan Netherland (Nederlan=Holand) dengan Belanda. Mana yang nama aslinya?

Jika keinginan merubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen karena ingin mengembalikan ke nama asal maka tak pelak lagi nama asalnya yang lebih tepat BANGKAHULU dari pada BENCOOLEN. Ganti saja menjadi BANGKAHULU.

Satu hal lagi yang menurut saya sangat tidak tepat, Bencoolen bukanlah sebutan lidah kita, melainkan lidah penjajah. Bencoolen memiliki konotasi “koloni”. Sama dengan nama Indonesia dulu Hindia Belanda (Holand Indie) yang berkonotasi “terjajah”. Jelas ini bertentangkan dengan spirit kita menjadi bangsa merdeka.

Setelah aku pikir-pikir lebih dalam lagi, mengapa sih sampai keluar gagasan tersebut? Ternyata, katanya untuk menarik minat wisatawan. Hah, aku pikir ini mengada-ada. Sama dengan mengada-adanya mengubah nama daerah ini. Kalau mau meningkatkan minat wisatawan, perbaiki kinerja pemerintah pada aspek pariwisata, tingkatkan sarana dan prasarana yang menunjang untuk itu dan ciptakan iklim yang mendukung. Rasakanlah, bila kita berkunjung ke pantai panjang, ke benteng Marllborough dan lain-lain, sudahkah kita merasa nyaman?

Benar-benar ini cerminan pejabat kota kita kurang kerjaan. Jangan-jangan yang perlu diganti bukan nama kotanya, melainkan para pejabatnya!

Akhirnya akupun berterimakasih dengan kawanku yang telah membangunkanku dari ketinggalan kereta berita tentang Bengkulu melalui pesan singkatnya.

Bengkulu, 30 Maret 2009.