Ayam Kampung, Permasalahan dan Harapan

 Oleh Suharyanto

(Staf Pengajar Program Studi Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, ditulis pertamkali pada 7 April 2000).  

           

ayam pelung

           Dunia perunggasan nasional dalam gejolak.  Demikianlah kalimat yang mungkin tepat untuk menggambarkan bagaimana situasi perunggasan kita saat ini yang seiring dengan krisis ekonomi yang tiada menentu.  Gejolak perunggasan –yang dalam hal ini adalah per-’ayam’-an, cukup rumit untuk ditelusuri bagai mengurai benang kusut.  Mulai fluktuasi harga broiler, produksi DOC yang (sekarang) kekurangan, harga pakan yang relatif tinggi, belum harmonisnya hubungan antara peternak kecil dan besar, dan berbagai permasalahan lainnya cukup membuat “resah” perekonomian nasional dan bikin “pusing” para penentu kebijaksanaan.

            Namun, di tengah gejolak per-’ayam’-an itu, ada sekelompok ayam yang sepi dari hingar bingar tersebut.  Ia adalah ayam kampung.  Ya, ayam kampung memang sepi , adem ayem, seakan tidak terpengaruh oleh situasi yang bergejolak di lingkungannya.  Ayam kampung sepi dari pembicaraan orang, sepi dari naiknya harga pakan, sepi dari sirkulasi pasar, sepi dari program ini dan itu, bahkan sepi juga dari sentuhan tangan para pengusaha.

          Mengapa demikian?  Apakah ayam kampung itu “kesepian” dan “minder” sehingga tidak punya nyali untuk tampil di kancah perunggasan?  Atau karena atribut “kampung” membuatnya sepi dari “peredaran”.  Tapi bukankah pemerintah juga sudah menaikkan “derajat”-nya dengan mengganti nama menjadi ayam buras (bukan ras).  Tokh ayam ini belum juga sempat dilirik oleh para pelaku usaha peternakan, apa lagi untuk dibudidayakan secara besar-besaran.

            Banyak kalangan baik itu pengamat, praktisi, maupun peneliti yang mengemukakan bahwa sebenarnya ayam kampung itu cukup potensial untuk bersaing di kancah perunggasan.  Beberapa diantaranya adalah melalui intensifikasi pemeliharaan.  Jadi sistem pemeliharaan yang selama ini hanya ‘sekedarnya’ harus dirubah menjadi lebih ‘moderen’.  Akan tetapi perlu juga kita akui bahwa ayam kampung masih memiliki permasalahan yang membuatnya belum dijadikan pilihan usaha peternakan.

            Perbaikan sistem melalui pola intensifikasi pemeliharaan merupakan cara atau pilihan yang telah cukup banyak dilakukan oleh peternak (kecil).  Hasilnyapun agaknya tidak mengecewakan, yaitu dapat meningkatkan pendapatan peternak melalui cara ini.  Akan tetapi nilai tukar produk ayam kampung masih diuntungkan oleh adanya anggapan-anggapan tradisi, seperti: telur ayam kampung memiliki khasiat tertentu yang tidak dimiliki oleh telur ayam ras, rasa dagingnya yang lebih enak, dan lain-lain angapan sejenis.  Bukan berarti angapan-anggapan tersebut salah atau perlu disalahkan, tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa gejolak permintaan para konsumen itu dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor ekonomis.  Kalau dibandingkan dengan harga produk-produk ayam ras, memang lebih mahal.  Juga bagi produsen, ia akan memilih komoditas yang efisien dari segi pemeliharaan.

            Selain itu ketersediaan produk ayam kampung tidak kontinyu, sementara permintaan akan daging dan telur cenderung meningkat secara eksponensial.  Hal ini membuat peluang pasar ayam kampung ‘direbut’oleh ayam ras.  Untuk permasalahan ini agaknya perlu adanya program pembibitan ayam kampung untuk mendapat suplai bibit secara kontinyu.  Hanya saja permasalahan ini adalah daur reproduksi ayam kampung relatif lebih lama/panjang sehingga cukup mengganggu kelancaran ketersediaan bibit.  Hal ini karena ayam kampung karus kawin, bertelur, mengeram dan menetaskan, dan memelihara anak.  Mengenai sifat mengeram dan memelihara anak merupakan sifat alami yang tidak bisa dihilangkan begitu saja, tetapi dapat dikurangi/manipulasi.  Mengeram dan memelihara anak memerlukan jangka waktu tertentu sehingga upaya yang dapat kita lakukan adalah mengurangi lamanya jangka waktu tersebut seperti, tugas mengeram dan menetaskan telur diserahkan kepada mesin tetas sehingga ayam tidak perlu lagi mengerami telurnya, meskipun “hasrat” untuk mengeram tetap ada tetapi telah diminimalkan.  Demikian juga dengan mengambil alih “hak” ayam jantan melalui inseminasi buatan merupakan sarana yang dapat dimanfaatkan untuk mempermudah upaya pembibitan.

            Pilihan lain yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki mutu genetik ayam kampung.  Untuk ini peranan seleksi sangat dibutuhkan untuk mendapatkan bibit-bibit ayam kampung sesuai dengan yang diharapkan.  Apa lagi ayam kampung itu sendiri cukup beragam.  Ini tentunya memberi peluang bagi kita untuk memilih dan memilah ayam-ayam ungulan.  Sejalan dengan ini dapat pula dilakukan pemuliabiakan melalui persilangan antaragam ayam kampung.  Beberapa daerah di Indonesia memiliki ayam kampung yang tipikal, misalnya, ayam Nunukan di daerah Kalimantan, ayam Kedu di daerah Kedu (Jawa Tengah), dan masih banyak lagi ragam ayam kampung sesuai dengan kekhasannya masing-masing.  Bila semua itu dimanfaatkan dengan baik maka akan dapat meramaikan dunia persilangan ayam kampung dengan harapan akan muncul “jawara-jawara” unggulan.

            Akan sangat menggembirakan lagi kalau kita dapat “menciptakan” ayam ras dari ayam-ayam kampung kita sendiri.  Ini membutuhkan teknologi rekayasa genetika.  Dengan mengotak-atik gen ayam kampung kita ciptakan ayam ras.  Sebagaimana kita ketahui bahwa nenek moyang ayam ras adalah ayam kampung juga.  Maka tidaklah menutup kemungkinan kita bisa memiliki Parent Stock sendiri.  Contohnya adalah Mesir, negara berkembang yang sudah mampu menciptakan ayam ras dari ayam-ayam lokalnya.  Kenapa kita mesti tidak bisa?   Memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, ini membutuhkan proses yang relatif panjang dan lama.

            Ada satu lagi yang cukup memberi peluang bagi ayam kampung untuk bersaing, yaitu memanfaatkan isu-isu aktual dan global.  Isu-isu global yang turut mewarnai pola konsumsi diantaranya adalah back to nature, animal walfare,dan consumer protection.  Berkenaan dengan hal tersebut, di negeri-negeri yang telah maju, para konsumen lebih menghargai telur yang dihasilkan dari ayam-ayam yang dipelihara dengan sistem range daripada sistem bateray yang dianggap ‘menyiksa’ ayam.  Mereka juga lebih memilih telur dan daging yang lebih alami, misalnya bebas zat aditif buatan, low fat, low cholesterol, dan lain-lain yang sering dikaitkan dengan aspek kesehatan dan keamanan tubuh manusia.  Meskipun ini baru berlaku di negara-negara maju bukan berarti tidak akan berlaku di Indonesia.  Bukankah John Naisbitt telah “membuat” dunia tanpa batas (borderless world), sehingga memungkinkan konsumen dari segala penjuru dunia memilih produk-produk negeri ini.

            Untuk yang satu ini, agaknya ayam kampung cukup memenuhi persyaratan isu global tersebut.  Tinggal bagaimana kita bisa mengemasnya dalam “bahasa” yang lebih menarik dan ilmiah.  Kita tidak lagi harus mengatakan bahwa telur ayam kampung bisa sebagai obat kuat, dapat menyembuhkan orang kesetanan, atau ayam hitam legam dapat berkhasiat sebagai jamu, dan sebagainya yang cenderung “mistis”.  Dengan mengemasnya secara ilmiah sesuai dengan tuntutan konsumen dewasa ini maka produk ayam kampung cukup menjanjikan.  Telur ayam kampung tidak lagi hanya dijual pada mbok-mbok Jamu, tetapi ke hotel-hotel berbintang.

            Akhirnya sepinya ayam kampung dari hingar bingar dunia perungasan bukan berarti tidak berpotensi untuk dibudidayakan oleh pengusaha.  Hanya saja ini membutuhkan kerja keras dari semua pihak dan saling kerja sama antara peternak dengan lembaga-lembaga penelitian untuk terus menggali potensi ayam kampung.  ::::::

31 Comments

Filed under Opini

31 responses to “Ayam Kampung, Permasalahan dan Harapan

  1. terimakasih pak, tulisan bapak menambah wawasan saya.

  2. terima kasih pak buat pengetahuan nya sangat bermanfaat buat saya

  3. Info yang sangat menarik,sayang saya terlambat utk membacanya,salam sukses bagi peternak rakyat ayam kampung,bagi yg membutuhkan semua tentang ayam kampung bisa kunjungi blog kami di http://www.docayamkampung.wordpress.com trims

  4. @Kampoengindiye…
    Maaf, di Bengkulu belum ada jenis ayam kampung sebagaimana yang anda sebutkan (kedu dan nunukan).

  5. salam bang
    btw, kalo nyari bibit ayam kampung di bengkulu ayamkhusu jenis snya kedu dan nunukan yang produktivitas telurnya tinggi dimana yah? apakah bisa langsung datang ke peternakan di universitas bengkulu? mohon bimbingan bang, lagi pengen nyoba bisnis peternakan nih.. hehehe
    salam, eindye

  6. masyos-solo

    salam kenal mashar,
    saya tertarik sekali dengan tulisan mashar di atas, namun ada yg kurang begitu paham tentang inseminasi buatan, bagaimana caranya untuk ayam, terutama dalam hal pengambilan sperma, mengingat testis ayam terlalu kecil dan cara “mempertemukan” sperma dgn cel telur.
    saya akan mencoba ternak ayam kampung secara intensif, nantinya utk dijual ayam dewasanya (pedaging), sekarang baru tahap pembuatan kandangnya.
    thanks berat utk mashar, nuwun

  7. Oke, selamat mencoba dan berusaha. semoga berhasil.

  8. Cak IN Asli Wonogiri

    makasih atas tanggapannya mas.
    yang saya tanyakan pembesaran untuk pedaging/potong mas.
    sebenarnay banyak yang ingin saya tanyakan, tapi say mo nyoba sedikit-sedikit dulu biar ad apengalaman. nanti kalo ada masalah mohon berkenan mau memberi pengetahuan pad saya ya mas. nuwun

  9. Cak IN Wong Asli Wonogiri,
    Buku yang anda baca tersebut tentang pemeliharaan ayam kampung? untuk tujuan potong? atau perbesaran untuk bibit?

    Pembagian berdasarkan umur tersebut untuk memudahkan manajemen pakan dan pemeliharaannya. Masing-masing tahap umur membutuhkan nutrisi yang berbeda-beda (sesuai dengan tujuan pemeliharaannya), berbeda dalam penangannya (umur 1-20 hari masih membutuhkan brooder, umur di atasnya sudah mulai dikurangi intensitasnya dan selanjutnya tidak perlu brooder lagi) dan lain sebagainya.

    Dengan cara dipisah per tahap maka memudahkan penanganannya. Coba seandainya semua umur dicampur jadi satu kandang, pakan yang diberikan tidak bisa spesifik untuk umurnya masing-masing, perlakuannya juga tidak efisien dan lain sebagainya.

    Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga menjawab pertanyaan saudara..

    Salam.

  10. Cak IN asli wonogiri

    Mas mohon konfirmasi:
    menurut buku yang saya baca ada 3 tahapan pemeliharaan:
    1. umur 0-20 hari
    2. umur 21-60 hari
    3. umur 60 -90 hari.
    masing-masing di pelihara di kadang yang berbeda.
    yang saya tanyakan, untuk hasil yang maksimal apa mmg demikian prosedurnya?
    adakan caya yang lbh efisien tapi hasilnya juga maksimal.
    trimaksaih yan mas, berhubung saya baru mo mulai usaha ini. nuwun

  11. Cak IN asli wonogiri

    dulur-dulur doakan saya berhasil ternak ayam kampung ya

  12. Salam Kenal Mas,
    Saya baru saja beli kebon kebetulan ada ikutanya ayam kampung, tetapi cara pemeliharaanya masih tradisional di lepas di kebon ttal sekitar 1200 ayam, saya ingin beternak secara intensive. usia ayam 1-2 bulan.
    Apakah bisa langsung atau saya jual seluruh ayam ini, baru mulai dari awal? ada beberapa ayam indikasi kuntet tidak bisa besar ada yang sarankan mulai dari awal dengan mencari DOC yang bagus, mohon komentarnya

    Sebelumnya salam kenal juga,
    Saya belum tahu maksud anda beternak ayam, apakah untuk menyediakan daging belah empat, atau untuk bibit calon ayam kampung petelur atau apa. Namun demikian, sebaiknya jangan memulai dari awal, dipilih saja ayam-ayam yang sehat, bagus dan baik pertumbuhannya. Yang kuntet-kuntet dikeluarkan saja. Selanjutnya, anda juga perlu mempertimbangkan DOC, apakah mau dihasilkan sendiri atau dibeli dari luar. Atau kombinasi kedua-duanya.

    Sekian dulu dari saya. Semoga usahanya berhasil.

    Suharyanto.

  13. Marjuki

    Salam Kenal Mas,
    Saya baru saja beli kebon kebetulan ada ikutanya ayam kampung, tetapi cara pemeliharaanya masih tradisional di lepas di kebon ttal sekitar 1200 ayam, saya ingin beternak secara intensive. usia ayam 1-2 bulan.
    Apakah bisa langsung atau saya jual seluruh ayam ini, baru mulai dari awal? ada beberapa ayam indikasi kuntet tidak bisa besar ada yang sarankan mulai dari awal dengan mencari DOC yang bagus, mohon komentarnya

  14. bagi yang membutuhkan doc ayam kampung, doc ayam arab dan ayam arab siap telur umur kisaran 4-6 bulan dapat mengubungi hp 085643410144

  15. salam..
    saat ini saya menjual CD cara ternak ayam kampung @ arab yang benar, hanya dengan harga 50 ribu.
    CD bukan berisi ebook PDF atau paparan data melainkan video interaktif/audio visual bagaimana prakteknya
    langsung di lapangan. dan ada juga buku panduannya setebal 248 halaman (berwarna + bergambar) harga 60 ribu.
    jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.

    terima kasih

  16. Pingback: Whichal's Blog

  17. Salam kenal juga. Sebenarnya enak nggak enaknya sih relatif (menurut saya). hanya ayam kampung memiliki keunggulan yang dikesankan lebih “alami”… Tp menurut saya keduanya sama saja ada perbedaan tp saling melengkapi. Jika keduanya dikembangkan akan dapat memenuhi kebutuhan konsumen dengan berbagai selera…

  18. salam kenal mas,bagaimanapun ayam kampung lebih enak dan harganya bagus…walau aku sendiri ternak ayam broiler.

  19. Salam kenal kembali.

    Saya kira di medan sebagai kota besar banyak poultry shop. DI poultry shop itulah sarana produksi peternakan ayam biasanya tersedia, termasuk DOC.

    Terimakasih..

  20. arif

    salam kenal,saya arif dari medan,
    saya mau nanyak kira2 dimana tempat membeli DOC yang bagus?

    thank s

  21. Kusworo

    Halo mas Haryanto salam kenal.saya ingin beternak ayam kampung tapi masih bingung terutama kandangnya yang panggung apa yang lantai. Sebenarnya bagus yang mana? Kalau ukuran 5m x 10m sebaiknya di isi ayam berapa? Demikian pertanyaan saya mas Har terima kasih

  22. @ Purwanto

    Salam kenal kembali.
    Bagus sekali maksud anda untuk beternak ayam kampung. Apalagi sekarang ini ayamkampung lagi “terlantar”, dengan adanya orang yang memulai maka kemungkinan ayam kampung akan mendapat perhatian dari pemerintah.

    Kalo mau memanfaatkan lahan di belakang rumah, jika tidak mengganggu tetangga. Tetapkan dulu, tujuan beternak ayam kampung: untuk penghasil daging atau untuk petelur. Jika untuk penghasil daging, apakah untuk pembesaran saja atau juga memelihara induknya juga. Kalau mebesarkan maka harus yakin di daerah anda ada stok anak ayam yang siap dibesarkan untuk siap potong belah empat. Jika ini yang dipilih maka pemeliharaannya sistem dikandangkan dan diberi pakan bernutrisi baik.

    Seandainya memilih ikut memelihara induk dan anaknya yang akan dibesarkan sebagai penghasil daging maka tetapkan induk dan pejantan yang bagus dengan rasio 1:5 (jantan:betina). Harus ada juga penetasannya (alami atau mesin). Pemeliharaannya diumbar dan anak yang dibesarkan dengan dikandangkan intensif.

    Jika tujuannya untuk menghasilkan telur maka dikandangkan sistem batery intensif.

    Anda bisa membaca buku-buku praktis tentang beternak ayam kampung.

    Terimakasih.

  23. Purwanto

    Salam kenal mas Suharyanto, saya berencana untuk beternak ayam kampung skala kecil dengan memanfaatkan lahan yang ada di belakang rumah , mau minta masukannya bagaimana cara memulai usaha ini dari pembuatan kandang, penyiapan bibit ayam, konsumsi pakan, vaksin yang diberikan, dll.
    Terima kasih banyak sebelumnya.

    Salam,

    Purwanto

  24. He he he… ketemu lagi… selamatlah kalo mau jadi peternak.. Semoga sukses dan jangan sungkan-sungkan berdiskusi.

    Ayam Arab memang lagi langka. dulu di Unib ada sekarang nggak tahu. Tapi pasti masih ada di tempat lain. Sukses selalu!

  25. Juardi, SE

    Ass… Pa Kbr Mas Suharyanto…?
    semoga masih ingat ama aku Ju..
    awalnya aku lagi mau mulai ternak ayam kampung, jadi aku nyari2 panduan lewat internet… e..e… ketemu ama mas Suharyanto.. rencana aku mau ternak ayam Arab tapi gak tau nyari bibitnya dimana, jadi ayam kampung aja dulu yang mudah nyari bibitnya… nanti bila ada kendala mohon bantuannya ya mas..?
    Wassalam..

  26. to Pak Hidayat.
    Benar Pak. Perlu diaplikasikan ilmu praktis peternakan dan perlu juga ditunjang dengan paket kebijakan pemeriintah. Beberapa tahun ini ayam kampung kurang mendapat perhatian, tidak seperti dekade yang lalu. Banyak sekali program yang mewngarah pada intensifikasi ayam kampung dll. Nah, sekarang sepertinya perlu ada revitalisasi ayam kampung.

    Thank you for your comment…

  27. hidayat

    Mungkin perlu kita coba dengan memperhatikan keuntungan yang didapat dengan kaidah praktis ilmu peternakan

  28. Daniel

    iya mas ayam lampung itu, memang sulit untuk dibudidayajkan secara besar2an.Karna. lama masa panennya sampai umur 100 hari.serta harga jualnya tidak sesuai dengan pakan yang dikeluarkan.
    Tapi kalau mau telaten bisa juga menghasilkan.uang tambahan dapur.

  29. Tulisan saya tentang ayam kampung ini saya tulis ketika tahun 2000 sehingga konteksnya mengenai ayam kampung kwetika itu. Namun sya kira masih relevan, mengingat sekarang ini ternyata ayam kampung kita seperti sudah tidak ada lagi yang menghiraukannya.

    Adanya kasus flu burung, ayam kampung juga menjadi sasaran empuk untuk “disalahkan” sehingga harus dimusnahkan.

    Sekarang ini perlu ada gerakan revitalisasi ayam kampung….

    Terimakasih atas komentarnya..

  30. rif

    ayam kampung baru terpuruk harga jatuh bangun. fluktuasi harga rendah namun lebih besar penurunannya.
    stok berlimpah ayam kampung siap panen.namun DOC kekurangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s