Isu Belum Berlalu

Oleh : Suharyanto 

 Berlalu sudah tanggal 23 Desember 2007. Tanggal yang telah menggemparkan sebagian masyarakat Bengkulu terutama yang berdomisili di pesisir barat kedua provinsi tersebut.  Bukan hanya menggemparkan masyarakat saja, tetapi telah menyita perhatian pemerintah daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten. Pemerintah akhirnya menggalakkan program mitigasi dan evakuasi bencana gempa dan tsunami. Bahkan demi perhatiannya kepada masyarakat yang secara psikologis terganggu akibat isu gempa dan tsunami tersebut pemerintah mempersiapkan tempat-tempat pengungsian dan titik berkumpul apabila benar-benar terjadi gempa dahsyat sebagaimana yang diramalkan oleh orang Brazil. Pemerintah menyelenggarakan simulasi gempa dan tsunami berkali-kali. Konskuensinya, berapa banyak anggaran telah disedot untuk “menjawab” isu ini. Dan, tanggal 23 Desember 2007 berlalu tanpa ada peristiwa bencana apapun. Jadi, kita telah termakan oleh isu! Sebenarnya sudah banyak pakar dan peneliti serta badan-badan yang berkompeten di bidang gempa dan tsunami yang menyatakan bahwa tidak ada ilmu dan teknologi apapun yang bisa menetapkan kapan terjadinya gempa bumi, apa lagi hingga ditetapkan tanggal, bulan dan tahun. Tetapi masyarakat ternyata lebih mempercayai isu. Tentu kita tidak serta merta mengatakan bahwa masyarakat “salah”, melainkan perlu introspeksi diri bagi para pemimpin, ilmuwan, lembaga terkait untuk lebih bekerja keras lagi memahamkan perihal bencana gempa bumi.  

Apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dalam merespon isu gempa bumi secara berlebihan ini setidaknya menunjukkan 3 (tiga) hal penting yang tengah berlaku di diri kita secara komunal. Pertama, bahwa para pemimpin dan cendekiawan “gagal” memahamkan apa yang disebut dengan bencana gempa bumi. Pengalaman bencana alam gempa bumi yang telah berkali-kali terjadi di negeri ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemimpin dan cendekiawan untuk merumuskan dan memahamkan hakikat bencana alam itu sendiri. Baik bencana alam yang secara langsung sebagai imbas aktivitas manusia maupun yang tidak langsung.   

Kedua, adalah bahwa perlu disadari ternyata kita masih merupakan masyarakat yang belum ilmiah. Masyarakat yang dalam olah pikirnya tidak berpijak pada kaidah dan prinsip-prinsip yang diterima secara ilmiah. Masyarakat yang masih lebih mempercayai rumor daripada kebenaran dan fakta ilmiah.  

Ketiga, ”drama” ini juga memperlihatkan bahwa kita mengalami tekanan psikologis secara masal. Barangkali ini akibat gempa 12 September 2007 yang cukup menggemparkan dunia dan menjadi referensi memorial masyarakat serta mengendap di alam bawah sadar kita sehingga kita mudah tersulut guncangan, sekalipun itu rumor. Ketiga hal di atas cukup menjadi pelajaran bahwa tugas kita semua sangat berat berkaitan dengan mengubah cara pandang masyarakat dalam merespon sesuatu terutama bencana alam. Inilah tugas utama kaum cendekia, yaitu menjadi ”nabi” bagi masyarakatnya. Tugas memberikan pencerahan. Hanya pencerahan yang bisa membimbing masyarakat pada cara pandang yang benar. Sepanjang cara pandang ini belum benar maka selama itu pula ”isu” akan selalu menerpa. Dengan demikian maka isu belum berlalu.[]. 

Dimuat  pada rubrik kolom harian Bengkulu Ekspress tanggal 28 Desember 2007.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s