Fragmen Bulan Muharam

Oleh: Suharyanto

Kini kita memasuki bulan Muharam, bulan yang dianggap sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Bila ditanyakan kepada umat Islam, ada peristiwa penting apakah pada bulan Muharam? Kebanyakan pasti akan menjawab 1 Muharam sebagai tahun baru Islam. Sebagai bulan pertama, sebagaimana layaknya pada bulan Januari tahun Masehi, maka 1 Muharam merupakan tahun baru. Selain itu adakah kiranya hal penting di bulan ini? Pasti sebagian besar umat Islam menggeleng-gelengkan kepala, tidak tahu. Mungkin ada sebagian kecil umat Islam yang sekedar tahu bahwa ada peristiwa penting di bulan Muharam, yaitu meninggalnya cucu Rasulullah. Hanya itu!. Bagi orang Bengkulu akan menjawab, ada Tabot! Ya, konon Tabot merupakan prosesi memperingati atas syahidnya Imam Husain, cucu Rasulullah yang syahid di Padang Karbala, Irak sekarang ini. 

Tentunya bukan hanya Bengkulu yang memiliki tradisi memperingati peristiwa penting di awal bulan Muharam ini. Di Pariaman ada peringatan Tabuik, yang juga memperingati syahidnya cucu Rasulullah, Husain. Tradisi serupa juga ada di daerah-daerah lain atau negara lain dengan nama dan cara yang berbeda.beda. Tetapi inti peringatannya sama, yaitu mengenang syahidnya Imam Husain.

Banyaknya kawasan masyarakat tradisonal melakukan peringatan pada seputar bulan Muharam dengan inti peringatan yang sama menunjukkan bahwa pada bulan tersebut telah terjadi peristiwa penting dalam pentas sejarah umat manusia. Kemudian, peristiwa penting tersebut dikenang dan diperingati karena memiliki nilai yang amat sangat berharga hingga akhirnya menjadi tradisi. Sayangnya tradisi tersebut kemudian terkikis oleh sejarah penguasa yang ”menang”. Ya, memang telah terjadi peristiwa besar berupa tragedi kemanusiaan paling besar dalam sejarah umat manusia: Tragedi pembantaian Husain bin Ali bin Abu Thalib, cucu baginda Rasulullah, di Padang Karbala, Irak pada 10 Muharam 61 H yang dilakukan oleh penguasa zalim Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan, yang kemudian dikenal dengan nama Asyura.

Imam Husain dengan 72 pengikut yang terdiri dari pemuda, anak-anak, bayi dan wanita melakukan perjalanan dari Mekah ke Kufah atas undangan rakyat Kufah yang menghendaki beliau untuk menjadi pemimpin (dan ini yang memang seharusnya) dibandingkan dengan Yazid anak Muawiyah yang terkenal zalim dan tidak sejalan dengan syariat agama. Tetapi sayang, Yazid yang ketika itu menjadi ”khalifah” pemberian bapaknya, Muawiyah, segera meneror rakyat Kufah untuk tidak menerima Husain. Akhirnya kebanyakan rakyat Kufah memilih tidak menerima Husain. Namun perubahan sikap rakyat Kufah tidak segera diketahui oleh Imam Husain dan beliau meneruskan perjalanan menuju Kufah. Selama perjalanan menuju Kufah, Imam Husain dan pengikutnya dikejar oleh pasukan Yazid.

Pada tanggal 2 Muharam rombongan Imam Husain sampai di sebuah tempat lapang bernama Karbala.  Di tempat itulah rombongan Imam Husain dikepung oleh pasukan Yazid yang dipimpin oleh Al-Hurr, kemudian hari-hari berikutnya pasukan Yazid semakin bertambah hingga mencapai puluhan ribu tentara bersenjata lengkap. Berlangsunglah pertempuran tak berimbang hingga satu-persatu pasukan Imam Husain gugur. Akhirnya Imam Husain juga gugur sebagai syuhada pada tanggal 10 Muharam 61 H. Kemudian kepala Imam Husain dipenggal oleh Syamir Zul Tawisyan. Berakhirlah perang tersebut dan pada tanggal 11 Muharam 61 H, sebanyak 72 kepala ditancapkan di atas tombak untuk diarak ke kota. Sementara di belakangnya diseret para wanita dan anak-anak

Peristiwa yang mengenaskan ini memperlihatkan banyak pelajaran bagi kita. Asyura merupakan fragmen pengulangan sejarah antara kebenaran melawan kebatilan. Pengulangan peristiwa Habil melawan Qabil, Ibrahim melawan Namrud, Musa melawan Fir’aun, Isa melawan penguasa Yahudi, Muhammad melawan elit Quraish musyrik, dan akhirnya Imam Husain melawan penguasa zalim, Yazid. Intinya adalah sama, kebenaran melawan kejahatan. Bahkan perlawanan Imam Husain menunjukkan karakteristik yang khas, yaitu melawan orang yang secara fisik mengaku beriman, mengikuti ajaran kakeknya, memegang kitab suci yang sama!.  

Bagi umat Islam yang selalu mengenang dan memetik pelajaran atas tragedi tersebut maka akan menjadikan peristiwa Asyura sebagai sumber inspirasi yang tidak pernah habis untuk selalu digali dan digali terus. Fragmen bulan Muharam tersebut akan menjadi model bagi umat Islam dalam menentang kezaliman dan penindasan walau dalam jumlah kecil, berpegang teguh pada prinsip kebenaran, tidak menyerah hingga titik darah penghabisan.[]

Dimuat pada Kolom Bengkulu Ekspress, 11 Januari 2008

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s