Selamat Datang Haji!

Oleh: Suharyanto   

Rasanya baru beberapa hari lalu kita melepas sebagian saudara kita berangkat menunaikan ibadah haji. Ketika itu mereka disebut sebagai jemaah calon haji. Ya, saudara kita itu masih calon haji! Kita melepas dengan segala keharuan dan doa semoga saudara kita akan menjadi Haji Mabrur! Kita melepas dengan mengumpulkan sanak keluarga untuk mendoakan secara berjamaah, ucapan rasa syukur atas karunia Allah sehingga bisa berangkat menunaikan ibadah Haji tahun ini dan tentu saja sebagai bentuk ”pamitan” siapa tahu Allah berkehendak lain di tanah suci sehingga tidak bisa kembali ke tanah air. Kita yang ditinggal tentunya mengharapkan saudara kita calon haji akan kembali dengan membawa pencerahan diri: spiritual!

 Kini, kita telah menyambut mereka kembali. Berbagai ekspresi diwujudkan sebagai tanda syukur. Ada yang melakukan sujud syukur, tangis bahagia, doa syukur dan lain-lain. Suatu ungkapan yang mungkin wajar karena memang tidak semua orang bisa memenuhi panggilan Allah menghampiri rumah-Nya. Dengan rasa syukur pula kita panjatkan bahwa saudara kita telah menjadi Haji (walau seharusnya yang benar adalah: ”telah menunaikan ibadah haji”, paralel dengan: ”telah menunaikan ibadah sholat”).  

Menjadi Haji? Aktivitas yang berdimensi spiritual-Ilahiah di tanah suci kemudian berubah menjadi berderajat duniawi: sebuah gelar! Suatu gelaran keagamaan yang telah memberi status tersendiri bagi sebagian masyarakat kita. Gelar Haji sudah melekat di depan nama seseorang. Suatu aktivitas ibadah spiritual berubah menjadi gelar yang tentu saja bersifat profan dan menaikkan status sosial-keagamaan bagi yang menyandangnya. Kini haji telah menjelma menjadi ”makhluk” yang tentu saja bersifat duniawi dan profan. Ibadah yang mestinya membawa pancaran spiritual telah dikonversi secara reduktif menjadi gelar duniawi: Haji (H). Ini paralel dengan gelar Ir, Drs, SH, SE, S.Pt, dr, M.Sc, Dr dan juga Prof. 

Akhirnya makna ibadah haji berhenti sebatas gelar H. Inilah fenomena yang terjadi di sebagian besar masyarakat kita. Seberapapun biaya dan apapun caranya akan dilakukan demi gelar karena dipandang mujarab menaikkan status. Ini menunjukkan bahwa kita ternyata masih belum berubah dari tatanan masyarakat ”feodalistik”. Jika dahulu status seseorang dicitrakan dengan gelar kebangsawanan maka sekarang sudah berubah menjadi gelar akademik dan keagamaan. Maka demi status itulah kita relakan untuk mendapatkan gelar. 

Seorang penyair Persia, Nasher Khosrow, dalam kaitannya dengan haji menulis sebuah syair. Penggalan bagian akhir pada syairnya berbunyi: ”Wahai Sahabat! Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji!// Sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah!// Memang engkau telah pergi ke Mekah untuk mengunjungi Ka’bah!; Memang engkau telah menghamburkan uang untuk membeli kerasnya padang pasir!// Jika engkau berniat akan menunaikan ibadah haji sekali lagi, Berbuatlah seperti yang telah aku ajarkan!”.  Tentu saja yang diajarkan oleh Khosrow bukanlah sebuah ajaran baru tentang haji, melainkan bagaimana memaknai pelaksanaan ibadah haji yang berdimensi spiritual tetapi mampu menembus batas dimensi, seperti dimensi sosial melalui penghayatan simbol-simbol dan tahapan-tahapan haji yang kemudian menjelma dalam bentuk sikap, tindakan, pola pikir dan sistem diri dalam melihat realitas sosial sebagai cerminan nilai-nilai spiritual. 

Gambaran tentang haji yang ”diajarkan” oleh Khosrow secara mendalam dikemukakan oleh Ali Syariati dalam bukunya: Haji. Berdasarkan pengalamannya, Ali Syariati melukiskan bahwa haji merupakan sebuah contoh simbolis dari filsafat penciptaan manusia dan evolusi manusia menuju (menghampiri) Allah. Filsafat penciptaan manusia itu sendiri menggambarkan pergerakan dari ilahiah menuju profan dan evolusi menghampiri Allah menunjukkan pergerakan dari profan menuju ilahiah. Ini adalah siklus manusia itu sendiri, bukan? Manusia diciptakan oleh Allah dan ditiupkan ruh (Ilahiah) lalu diturunkan ke muka bumi (profan) dan selanjutnya akan menghadap Allah kembali (Ilahiah) saat mati.  

Itulah simbol pelaksanaan ibadah haji. Oleh karenanya kehadiran orang yang telah menunaikan ibadah Haji di tanah Suci diharapkan dapat memberikan pencerahan spiritual dan sosial sebagaimana yang pernah dilakukan di tanah suci. Ketika sedang menunaikan ibadah haji jemaah telah melempari iblis di diri kita (simbol melempar jumrah) sehingga semangat ke-iblis-an tidak lagi hadir di tanah air. Di tanah suci, jemaah juga memerankan diri sebagai Ibrahim. Ya, Ibrahim telah melawan api ketika dibakar hidup-hidup, itulah api penindasan dan kebodohan serta jiwa korupsi. Jemaah juga memerankan Siti Hajar yang dengan gigih mencari sumber air dengan berlari-lari dari satu bukit (shafa) dan bukit lainnya (marwa), itulah air kehidupan. Jika demikian semangat dan makna ibadah haji yang diperoleh maka kita bukan hanya kembali ke tanah air dengan membawa gelar Haji. Tetapi kembali ke tanah air dengan membawa semangat Ilahiah untuk mencerahkan alam sekitar. Selamat datang Haji!. []

Dimuat pada Kolom Bengkulu Ekspress, 4 Januari 2008

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s