Asyura dan Karbala

Oleh : Suharyanto

Secara harfiah Asyura berarti “kesepuluh”, yaitu merujuk pada hari kesepuluh bulan Muharam tahun 61 H. Pada hari itu terjadi pembunuhan atas cucu Rasulullah, Husain bin Ali bin Abi Thalib di Padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan. Umat Islam kemudian memperingati syahidnya Imam Husain tersebut sebagai hari kesedihan, hari duka cita karena cucu kesayangan Rasulullah tersebut telah dibunuh dengan sadis hingga kepalanya dipenggal untuk kemudian diarak keliling kota. Peringatan ini kemudian menjadi tradisi yang berkembang dari satu tempat ke tempat lain hingga detik ini. Berbagai macam prosesi peringatan berkembang menyesuaikan dengan kondisi lokal.

Bila dihayati betul-betul, betapa meradangnya hati manusia pada hari itu, salah satu keluarga Rasulullah dibantai habis-habisan. Cucu kesayangan Nabi yang kita cintai, dimana kita juga diperintahkan mencintai keluarga beliau, syahid secara sadis! Jeritan anak-anak dan wanita, para orang tua tidak mampu menghentikan langkah pasukan kejam Yazid untuk terus membunuih dan membunuh anggota keluarga Imam Husain dan pengikutnya. Kebengisan tidak berubah menjadi kecintaan, begitu juga keserakahan tidak lagi menjadi kebaikan. Semua telah terpaku kaku pada sisi gelap kemanusiaan tentara Yazid, sebuah perpaduan antara kebengisan, keserakahan dan kekejaman. Itulah hari Asyura.

 Dari tradisi dan nama Asyura ini kemudian kita mengenal nama “Suro” pada kalender Jawa Islam sebagai bulan Muharam. Menurut kepercayaan, pada bulan Suro dilarang melakukan kegiatan yang bersifat kesenangan duniawi misalnya pernikahan, membangun rumah, pesta, dan lain-lain. Hal ini mungkin merujuk pada bulan kesedihan atas wafatnya Imam Husain yang dibantai secara sadis. Memang, sudah sewajarnya kita sebagai pengikut Rasulullah s.a.w untuk juga turut berduka atas wafatnya anggota keluarga suci beliau yang dibunuh oleh penguasa zalim. Kita bukan hanya mengenang dan mengagng-agungkan syahidnya Imam Husain semata, melainkan juga mengambil hikmah dan pelajaran dari tragedi Asyura. Karena hingga hari ini kezaliman dan penindasan dalam berbagai macam bentuknya berlaku setiap hari. Penindasan, penzaliman dan penistaan terhadap kaum lemah (mustadhafin) masih terus berlanjut oleh kelompok kuat dan berkuasa setiap hari. Penindasan, penzaliman, penistaan mungkin sangat beragam bentuknya bahkan bisa jadi sudah tidak lagi dalam bentuk aktivitas fisik, tetapi esensinya sama, menindas!. Oleh karenanya sangat dibutuhkan semangat “Asyura” untuk melakukan perlawanan.

Karbala, suatu tempat berupa tanah lapang yang sekarang masuk wilayah Irak, adalah tempat pembantaian sadis itu terjadi. Karbala itu sendiri berarti sebagai “tanah merah”. Entah ada hubungan atau tidak, di Indonesia memiliki nama tempat yang merujuk pada arti “karbala”. Kita mengenal nama tempat Tanah Merah, Lemah Abang, Tanah Abang dan sejenisnya yang semua itu berarti “Karbala”. Barangkali hanya Bengkulu yang memiliki nama tempat Karbala dengan sedikit perubahan lafal, yaitu “Karabela”, tempat pembuangan tabot pada setiap tanggal 10 Muharam. Tabot itupun merupakan prosesi memperingati perjuangan Imam Husain yang kemudian meninggal di “Karabela” yang disimbolkan dengan pembuangan tabot. Itulah Karbala, tempat banjir darah sehingga memerahkan tempat itu semerah namanya. Negara, daerah atau masyarakat yang mendapat pengaruh dari tradisi Asyura dan Karbala pasti akan memiliki nama-nama yang terkait dengan itu.

Semangat hari Asyura dan tragedi Karbala adalah semangat yang tak terpatahkan. Asyura merujuk pada waktu kejadian dan Karbala merujuk pada tempat kejadian. Asyura dan Karbala mengajarkan kita bagaimana berkata “tidak” pada penguasa zalim. Bagaimana bertindak secara tepat di detik-detik terakhir dalam mengemban misi suci: kebenaran. Asyura dan Karbala juga mengajarkan betapa harga diri dan kebenaran tidak bisa dibeli dengan apapun. Betapa kebenaran akan selalu menemui tantangan. Bila perlu melawan hingga titik darah penghabisan. Inilah yang selalu kita kenang dan petik pelajaran darinya. Asyura dan Karbala simbol perlawanan kapan saja dan dimana saja terhadap kejahatan. Everyday is Asyura and every land is Kerbala.[].

Dimuat pada Kolom Bengkulu Ekspress Jumat, 18 Januari 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s