Dasar, Mental Tempe!

Oleh: Suharyanto

“Dasar, mental tempe!”. Apa yang dirasakan apabila kalimat tersebut ditujukan kepada anda? Mungkin saja anda akan merasa tidak senang, jengkel dan marah. Atau, kalaupun anda tidak marah mungkin akan menganggap bahwa itu adalah kata-kata untuk menunjukkan sesuatu yang tidak positif belaka. Apapun yang dirasakan, kalimat ini menunjukkan pada sesuatu yang “negatif”.

Kalimat itu terasa negatif karena ada kata “tempe” yang konotasinya adalah sesuatu yang lembek, tidak keras dan mudah hancur. Sehingga “mental tempe” bermakna mental yang lembek, mental yang tidak kuat, dan mental yang mudah hancur. Mental yang demikian ini adalah mentalnya orang-orang yang tidak berani bersaing, kalah sebelum berperang dan tidak bisa diharapkan sebagai pemimpin. Mungkin karena sifat demikian dilekatkan pada tempe sehingga Bung Karno pernah menyebutkan bahwa kita jangan bermental tempe.

Kita lupa atau sengaja melupakan bahwa tempe merupakan makanan yang bernilai gizi tinggi. Tempe merupakan makanan dengan kandungan protein yang tinggi yang sangat dibutuhkan untuk tubuh manusia. Protein dikenal sebagai zat pembangun tubuh, tanpa protein tubuh kita tidak akan tumbuh dan berkembang. Karena merupakan zat pembangun maka protein berperan bagi pembangunan peradaban manusia.

Jika beras merupakan makanan pokok orang Indonesia sebagai sumber karbohidrat, tempe merupakan makanan “pokok” sumber protein. Dari sekian lauk pauk yang ada di masyarakat Indonesia, tempe merupakan menu yang paling banyak disajikan dalam berbagai macam bentuk. Tempe sudah mendarah daging bagi orang Indonesia dan telah menjadi jati diri bangsa. Tak heran bila ada negara lain mempatenkan tempe, Indonesia langsung protes karena jatidirinya “direbut” bangsa lain.

Industri tempe merupakan usaha kelas menengah ke bawah. Tempe menjadi tumpuan masyarakat kecil sebagai matapencaharian yang melibatkan bayak pekerja. Tempe juga menjadi tumpuan konsumen hampir di berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Karenanya sifatnya ini, tempe mewakili karakter kerakyatan.

Tempe juga merupakan perjuangan mandiri. Tempe dibuat dengan perjuangan para produsennya. Perjuangan bagaimana memperoleh bahan baku, perjuangan bagaimana memprosesnya dan perjuangan bagaimana memasarkannya. Mengapa disebut perjuangan? Bukankah jenis usaha lainnya juga akan melalui tahap perjuangan seperti itu? Hal ini karena pengusaha tempe pada umumnya adalah masyarakat kelas menengah ke bawah. Sementara itu kebijakan pemerintah belum berpihak pada pengusaha tempe (dan tahu). Ini terbukti belum ada keberpihakan konkret pemerintah terhadap ketersediaan bahan baku tempe. Bahan baku tempe, kedelai, adalah impor! Kini, ketika harga kedelai melambung tinggi produsen tempe kelimpungan. Jadi, tempe memiliki watak perjuangan sendiri.

Pemasaran tempe juga hanya mengandalkan kebiasaan dan selera orang Indonesia yang sudah biasa makan tempe. Tidak ada sentuhan pemberdayaan bagi pengusaha tempe untuk menjadi lebih berkembang. Tempe hanya beredar di pasar tradisional yang becek, diedarkan oleh penjual melalui gerobak dorong dan seterusnya. Kesan kumuh jelas terlihat dari tempe. Keberadaannya mulai tergusur dengan adanya McDonalisasi. Tumbuhnya perusahaan makanan grup Mc Donald telah sedikit demi sedikit menggusur keberadaan industri lokal. George Ritzer (2002) dalam bukunya: “Ketika Kapitalisme Berjingkrak, Telaah kritis gelombang McDonalisasi”, menyebutkan bahwa korporasi perusahaan multinasional ala McDonald mematikan ekonomi kerayakyatan lokal. Sebenarnya bukan hanya itu, budaya konsumsi dan gaya hidup juga mulai digilas oleh Mc Donald.

Tempe adalah politik juga! Lho, kok? Lihat saja sekarang ini pemerintah, DPR, politisi, pengamat dan pengusaha tahu-tempe beramai-ramai membahas kedelai dan tempe hingga ke ranah politik dengan sudut pandangnya masing-masing. Wal hasil, tempe telah menjadi komoditas politik.

Jika demikian maka “mental tempe” merupakan mental yang positif. Yaitu jati diri, mental kerakyatan, perjuangan dengan penuh semangat, pembangunan, diplomasi politik dan kebijakan. Inilah yang saat ini tengah mengemuka di panggung Indonesia.

Jadi, jangan meremehkan tempe! Jangan tukar mental tempe dengan mental Mc Donald yang kapitalistik!. []

Dimuat pada kolom Bengkulu Ekspress, Jumat 25 Januari 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s