“Cangkul yang Dalam”

Oleh: Suharyanto 

Beberapa minggu ini Indonesia sedang diterpa gonjang-ganjing kenaikan harga kedelai yang spektakuler. Kenaikan harga yang lebih dari 100% menyebabkan usaha berbasis kedelai menjadi ambruk. Contohnya adalah industri tempe dan tahu. Pengusaha tempe dan tahu banyak yang gulung tikar. Peternak ayam mulai bangkrut karena pakan ayam berbahan baku kedelai. Dampaknya tentu saja sangat dahsyat, runtuhnya ekonomi rakyat. 

            Bila mau jujur, kenaikan harga produk pertanian bukan hanya kedelai. Beberapa waktu sebelumnya harga jagung juga merangkak naik hingga sekarang. Dampaknya sangat hebat, semua produk berbasis bahan baku jagung menjadi kelimpungan. Harga pakan ternak dan ikan ikut naik sehingga harga produknya juga ikut naik. Pada gilirannya melemahkan daya beli masyarakat. Dan masih banyak produk berbasis pertanian yang kemudian terpuruk. Mengapa sedemikian terpuruknya? Karena produk-produk tersebut – yang menjadi bahan baku industri hilir – merupakan bahan impor sehingga sedikit saja ada gejolak pasar dunia maka kita jadi kelimpungan.

            Jika dipikir secara mendalam, timbul suatu pertanyaan, apakah kita sebagai negara agraris sudah tidak mampu memproduksi sendiri hasil pertaniannya? Sehingga semuanya harus impor? Dari beras, jagung dan kedelai kita impor terus. Miris rasanya. Jadi tanah kita yang subur yang bisa ditanami apa saja selama ini diapakan? Kita tentu masih ingat (atau sudah lupa) bahwa tanah kita begitu subur sehingga “tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”. Dan, kita juga masih ingat (atau juga sudah lupa) bahwa salah satu lagu anak-anak kita mengajarkan supaya bertani secara produktif di lahan sendiri (sehingga jangan mengimpor)? Tapi faktanya, lahan pertanian kita telah dikonversi menjadi hutan beton, gedung pencakar langit. Lahan produktif untuk pertanian telah diubah menjadi kawasan industri, lapangan golf, hunian mewah dan lain sebagainya. Ini menandakan kita sudah tidak lagi mau berproduksi di lahan sendiri.

            Jadi, rasanya perlu kembali digiatkan berproduksi di tanah sendiri. Perlu gerakan kembali ke sawah dan ladang. Kita sudah terlalu lama mengabaikan sawah dan ladang sehingga sawah dan ladang kita menjadi belukar, bertukar fungsi dan tergilas penggunaan yang lain. Generasi muda kita juga sudah semakin menjauh dari pertanian. Menjadi petani adalah menjadi kelas rendah. Kini, mari mulai mengusahakan produk pertanian seperti yang digambarkan pada syair lagu anak-anak: “cangkul, cangkul, cangkul yang dalam // menanam jagung di kebun kita // ambil cangkulmu, ambil pangkurmu // kita bekerja tak jemu jemu…”

            Ada tiga frasa kunci pada lagu anak-anak tersebut. Pertama, “cangkul yang dalam”, ini melambangkan bekerja keras semua pihak mulai dari pemerintah hingga mayarakat. Pemerintah mencangkulnya berupa keluaran paket kebijakan dan regulasi yang pro pertanian, in put teknologi, penyediaan bibit unggul dan pupuk murah dan jaminan pasar. Kedua, “menanam jagung di kebun kita” menggambarkan kita semua harus mengusahakan lahan kita sendiri. Stop impor, tingkatkan produksi  di kebun, ladang, sawah, kolam dan hutan kita sendiri. Lagi-lagi ini butuh kebijakan dan regulasi pemerintah. Yang ketiga, “ambil cangkulmu, ambil pangkurmu” menunjukkan kita harus mengerahkan segala daya dan upaya untuk memajukan pertanian sehingga mensejahterakan rakyat yang mayoritas bergantung pada sektor ini.

             Bila ini ditempuh maka produksi dalam negeri bisa memadai untuk kebutuhan dalam negeri bahkan bisa ekspor. Kita akan swasembada semua pangan. Jadi, Mari mencangkul yang dalam, simbol peningkatan produktivitas pertanian kita. [] 

Dimuat pada kolom Bengkulu Ekspress, Jumat 1 Februari 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s