Duka Kita Semua

Oleh : Suharyanto

Berlalu sudah masa berkabung nasional. Bendera setengah tiang telah diturunkan dan disimpan. Di instansi-instansi pemerintah dan swasta bendera merah putih telah dinaikkan penuh tanda berkabung telah usai. Berita tentang Pak Harto pun perlahan-lahan mulai berkurang. Kini tinggal berita-berita kecil atau liputan khusus yang terkait dengan Pak Harto, baik yang memuji maupun yang membenci.

Berbeda dengan hari-hari ketika beliau sakit dan meninggal dunia, kita disuguhkan suatu pemberitaan yang mengaduk-aduk pikiran dan emosi kita. Citra yang tertanam dalam pikiran kita tentang Pak Harto menjadi jungkir balik bersama dengan emosi yang mengiba. Semua jadi berduka. Semua telah bertukar cara pandang di tengah kontroversi antara dosa dan jasa. Ketika itu, semua serasa bernostalgia mengenang masa-masa kepemimpinan Pak Harto yang “penuh kedamaian”. Suatu keadaan yang kontras bila dibandingkan dengan sekarang yang penuh dengan “huru-hara” dalam semua bidang. Kita memang patut berduka, apapun status Pak Harto.

Tentu saja tulisan ini bukan untuk mengupas tentang Pak harto dari segenap sisi-sisinya. Kini kita harus kembali melihat fakta sehari-hari yang kita rasakan. Keadaan dimana semua orang merasakan getirnya kehidupan. Inilah duka kita. Duka puluhan juta rakyat Indonesia yang sudah tidak mampu lagi beli beras, tempe, telur, dan ayam. Duka semua orang yang kelaparan akibat daya beli menurun dan harga sembako yang naik. Rakyat tidak mampu beli dan akhirnya rakyat kelaparan. Rakyat juga sudah tidak mampu belibahan bakar, sekalipun mampu tetapi harus antrean panjang (minggu ini saja kita masih mengatre panjang beli BBM).

Keadaan seperti itu masih diperparah dengan berbagai bencana menimpa. Tanah longsor, banjir, angin topan dan badai telah menyapu kehidupan sehari-hari. Belum lagi duka saudara-saudara kita akibat lumpur Lapindo, kerusuhan sosial, dan carut-marutnya sistem transportasi sehingga banyak terjadi kecelakaan di darat, laut dan udara, carut-marutnya perpolitikan serta hukum negara kita dan sebagainya. Ini semua telah memperparah kondisi rakyat dan bangsa Indonesia. Inilah duka yang amat dalam.

Ya, kondisi tersebutlah yang sebenarnya duka kita semua. Kondisi yang sudah semakin miris. Kita lihat saja, banjir yang tengah terjadi sekarang di Jakarta telah menenggelamkan Indonesia dalam arti yang sesungguhnya. Pintu gerbang Indonesia bagi dunia luar telah ditenggelamkan oleh banjir. Jalan tol menuju bandara internasional Soekarno-Hatta benar-benar tenggelam sehingga orang menuju bandara menjadi kacau balau, penerbangan menjadi carut-marut. Dan, semua ini akan dilihat oleh orang asing yang datang ke Indonesia seraya melihat Indonesia sudah tenggelam. Malu kita. Malu, karena di saat pemerintah tengah menggalakkan “Visit Indonesia (Year?) 2008” justru diawali dengan pemandangan mengenaskan. Jakarta tenggelam!

Betapa kita masih terus berduka atas semua itu…[]

Dimuat pada kolom Bengkulu Ekspress hari Jumat, 8 Februari 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s