Akar Bencana Alam

Oleh : Suharyanto

Sepertinya bencana alam belum mau beranjak meninggalkan Indonesia. Justru sebaliknya, bencana datang bertubi-tubi dan silih berganti dari satu jenis bencana ke jenis bencana lainnya. Atau bersafari dari satu daerah ke daerah lainnya. Seakan tidak mau ketinggalan dengan korupsi dan kerusuhan sosial, bencana juga ingin tampil sesering mungkin di negeri ini. Sangking seringnya sehingga telah menjadi menu harian di pemberitaan dan menjadi aneh kalau media cetak maupun elektronik tidak menurunkan berita tentang bencana sehari saja.

Bencana alam dapat digolongkan menjadi 2 (dua), yaitu bencana yang timbul bukan akibat aktivitas manusia dan bencana yang timbul akibat aktivitas manusia langsung. Contoh klasik untuk jenis yang pertama misalnya gempa bumi. Gempa bumi terjadi bukanlah akibat aktivitas manusia secara langsung, tetapi merupakan proses alam yang memang akan terus terjadi demi keseimbangan bumi (alam) itu sendiri. Jenis bencana yang kedua dapat kita ambil contoh klasik: banjir. Banjir yang sering melanda Indonesia merupakan dampak dari ulah manusia yang tidak bersahabat dengan alam.

Jika sebagian orang menganggap bencana banjir yang terjadi belakangan ini adalah ulah manusia saat ini, sebenarnya kurang tepat. Hal ini karena banjir yang sekarang gencar melanda Indonesia pada dasarnya merupakan dampak dari aktivitas manusia merusak alam sejak puluhan tahun silam yang mengakumulasi hingga hari ini. Makanya tidaklah heran bila tiba-tiba ada bencana banjir yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Banjir yang sekarang terjadi tidak lepas dari aktivitas illegal logging (baca: membalak), berkurangnya area resapan air, tataguna lahan yang salah, tataruang yang semerawut, deforestasi secara membabibuta dan lain sebagainya – yang semua itu terjadi sejak puluhan tahun lalu hingga hari ini. Semua itu adalah akibat ulah kebijakan manusia (baca; pemerintah) yang sembrono.

Pendek kata, penyebab terjadinya banjir sangat terkait dengan “keserakahan” manusia yang memperlakukan alam secara eksploitatif dan semena-mena. Sikap eksploitatif ini justru mendapat legitimasi filosofis melalui pandangan dunia moderen yang antroposentris. Filsafat antroposenstris ini menempatkan manusia sebagai pusat dunia dan alam dipahami sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai intrinsik kecuali semata-mata nilai yang dilekatkan oleh manusia terhadapnya. Padahal, manusia menyatu dengan alam itu sendiri!

Filsafat antroposentris ini ternyata memiliki akar sejarah panjang, setidaknya sejak abad 17, khususnya setelah Francis Bacon mengemukakan pandangannya bahwa “alam harus dikuasai untuk melayani manusia”. Kaum Baconian mengkonversi pandangannya dalam bentuk eksploitasi terhadap alam untuk “kesejahteraan” manusia. Sejak itu tujuan ilmu berubah menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk menguasai dan mengendalikan alam. Baik ilmu maupun teknologi digunakan untuk tujuan-tujuan yang sama sekali antiekologis. Dalam buku Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan, Frittjof Capra (1997) menyebutkan bahwa pandangan Baconian ini ternyata berurat akar pada pandangan cartesian dan newtonian yang menjadi paradigma sain hingga saat ini. Paradigma ini memandang bahwa alam merupakan sistem yang terpisah dari manusia dan tak ubahnya merupakan mesin raksasa yang bisa digerakkan secara mekanis sebagai mesin ekonomis. Prinsipnya, alam akan dieksploitasi untuk menghasilkan keuntungan ekonomis semata.

Bila dilihat dari runtutan akar filosofis tersebut maka bencana alam yang senantiasa terjadi di tanah air ataupun dunia bukanlah semata-mata persoalan teknis. Tetapi harus diselesaikan hingga ke akar filosofisnya. Filsafat antroposentris harus diganti dengan filsafat yang mengutamakan keseimbangan alam (baca: yin yang). Inilah yang harus dijadikan dasar pijakan bagi siapa saja, terutama para pembuat kebijakan dalam melaksanakan pembangunan sehingga tidak terjebak pada tindakan eksploitatif yang akhirnya mengundang bencana buat anak cucu kita. []

Dimuat pada kolom harian Bengkulu Ekspress hari Jumat 15 Februari 2008

7 Comments

Filed under Artikel Umum

7 responses to “Akar Bencana Alam

  1. Pingback: UJIAN SETINGKAT SD - Comment on Blog Info by Suharyanto

  2. Ya,memang demikianlah. Alam menjadi berubah ke arah yang negatif akibart ulah manusia yang serakah hingga melampaui batas kemampuan alam mengelola dirinya.

    Manusia serakah telah melawan hukuym alam.

    Terima kasih atas komentar dan kunjungannya.

    Salam.

  3. jengfat

    Memprihatinkan memang jika kita bicara bencana alam. Bencana alam yang muncul karena siklus alam demi keseimbangan alam memang menjadi maklum bagi semua orang karena di atas kuasa manusia. Akan yang memprihatinkan adalah jika bencana itu buatan mnusia.

    Saya jadi ingat pesan sang Nabi dan sang bijaksanawan Muhammad SAW, tentang Islam dalah ajaran rahmatallil’alamin. Ajaran yang menebar kasih sayang pada seluruh semest alam beserta isinya. Juga pesan sang arif Gandhi: jika ingin mengubah dunia menjadi baik – tanpa bencana – maka ubahlah dirimu sendiri. Jika semua orang punya kesadaran untuk mengubah dirinya menjadi orang yang menebar kasih sayang tidak bberbuat kekerasan dan kerusakan di muka bumi, maka dalam satu detik berhentilah kejahatan tersebut, dan alam menjadi bebas tanpa kekejaman dan kekerasan. Semua makhluk Tuhan bisa aman tentram dengan nyaman tanpa ada pihak lain yang mengganggu.
    Air selalu bening karena tidak dijhili oleh pihak lain, udara bersih segar karena tidak dicemari pihak lain. daratan lautan tidak rusak karena tidak dijahati pihak lain dsb. Aduh betapa bumi dan planit lain di jagat raya ini tenang jika tidak ada perusak.
    Manusia menjadi aktor penrting dalam menentukan keadaan bumi. Oleh karena itu, bumi yang memang sudah diambang kehancuran ini, akan bisa diselamatkan jika kita segera mengubah diri kita sendiri sekarang juga untuk tidak merusak alam. Seperti firman Tuhan agar kita selalu menjaga, melestarikan dan merngolah alam untuk kehidupan kita secra berkelanjutan.
    Salam…………………

  4. jengfat

    Memprihatinkan memang jika kita bicara bencana alam. Bencana alam yang muncul karena siklus alam demi keseimbangan alam memang menjadi maklum bagi semua orang karena di atas kuasa manusia. Akan yang memprihatinkan adalah jik bencana itu butan mnusia.

    Saya jadi ingat pesan sang Nabi dan sang bijaksanawan Muhammad SAW, tentang Islam dalah ajaran rahmatallil’alamin. Ajaran yang menebar kasih sayang pada seluruh semest alam beserta isinya. Juga pesan sang arif Gandhi: jika ingin mengubh dunia menjadi baik – tanpa bencana – maka ubahlah dirimu sendiri. Jika semua orang punya kesadaran untuk mengubah dirinya menjadi orang yang menebbar kasing sayang tidak bberbuat kekerasan dan kerusakan di muka bumi, maka dalam satu detik berhentilah kejahatan tersebut, dan alam menjadi bebas tanpa kekejaman dan kekerasan. Semua makhluk Tuhan bisa aman tentram dengan nyaman tanpa da pihak lain yang mengganggu.
    Air selalu bening karena tidak dijhili oleh pihak lain, udara bersih segar karena tidak dicemari pihak lain. daratan lautan tidak rusak karena tidak dijahati pihak lain dsb. Aduh betpa bumi dan palnit lain di jagat raya ini tenang jika tidak ada perusak.
    Manusia menjadi aktor penrting dalam menentukan keadaan bumi. Oleh karena itu, bumi yang memang sudah diambang kehancuran ini, akan bisa diselamatkan jika kita segera mengubah diri kita sendiri sekarang juga untuk tidak merusak alam. Seperti firman Tuhan agar kita selalu menjaga, melestarikan dan mernbgolah alam untuk kehidupan kita secra berkelanjutan.
    Salam…………………

  5. jengfat

    Memprihatinkan memang jika kita bicara bencana alam. Bencana alam yang muncul karena siklus alam demi keseimbangan alam memang menjadi maklum bagi semua orang karena di atas kuasa manusia. Akan yang memprihatinkan adalah jik bencana itu butan mnusia.

    Saya jadi ingat pesan sang Nabi dan sang bijaksanawan Muhammad SAW, tentang Islam dalah ajaran rahmatallil’alamin. Ajaran yang menebar kasih sayang pada seluruh semest alam beserta isinya. Juga pesan sang arif Gandhi: jika ingin mengubh dunia menjadi baik – tanpa bencana – maka ubahlah dirimu sendiri. Jika semua orang punya kesadaran untuk mengubah dirinya menjadi orang yang menebbar kasing sayang tidak bberbuat kekerasan dan kerusakan di muka bumi, maka dalam satu detik berhentilah kejahatan tersebut, dan alam menjadi bebas tanpa kekejaman dan kekerasan. Semua makhluk Tuhan bisa aman tentram dengan nyaman tanpa da pihak lain yang mengganggu.
    Air selalu bening karena tidak dijhili oleh pihak lain, udara bersih segar karena tidak dicemari pihak lain. daratan lautan tidak rusak karena tidak dijahati pihak lain dsb. Aduh betpa bumi dan palnit lain di jagat raya ini tenang jika tidak ada perusak.
    Manusia menjadi aktor penrting dalam menentukan keadaan bumi. Oleh karena itu, bumi yang memang sudah diambang kehancuran ini, akan bisa diselamatkan jika kita segera mengubah diri kita sendiri sekarang juga untuk tidak merusak alam. Seperti firman Tuhan agar kita selalu menjaga, melestarikan dan mernbgolah alam untuk kehidupan kita secra berkelanjutan.
    Salam…………………

  6. suharyanto

    Benar, bahwa bencana alam akibat dari keseakahan manusia. Untuk itu diperlukan “pengendali” keserakahan manusia itu. Salah satunya adalah paradigmanya itu sendiri. Paradigma yang bercorak antroposentris harus dibenahi menjadi paradigma yang berorientasi kelestarian alam.
    -Suharyanto-

  7. segala bencana yang ada di dunia ini adalah dampak dari kelakuan manusia sendiri.
    manusia adalah mhluk tuhan yang paling serakah di dunia ini. manusia dengan tanpa perkiraan melakukan penebangan hutan.
    hal lain yang bisa kita lihat adalah masalah lumpur lapindo. siapakah yang salah untuk masalah ini??
    tentau bukan masaah alam akan tetapi murni kegoblokan manusia saja.
    hingga kini para pengungsi masih tersebar di pasar baru porong yang tidak tentau nasibnya,

    trims,

    edi Purwanto
    http://www.averroes.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s