Api dan Air

Oleh : Suharyanto

Konon, api dan air merupakan benda yang memiliki sifat berlawanan. Untuk membunuh api adalah dengan menggunakan air. Untuk mengeringkan air digunakan api untuk pemanasnya sehingga air kering. Api dan air saling meniadakan. Padahal keduanya sebenarnya saling mendukung dalam hal kewujudan alam ini. Alam pengetahuan kuno menganggap api dan air menjadi elemen dasar yang membentuk alam ini bersama-sama dengan tanah dan udara. Dari sini terlihat bahwa api dan air saling melengkapi. Jadi api dan air bisa bersifat berlawanan sekaligus komplementari.

Sifat yang saling meniadakan dan komplementari antara api dan air ini juga tercermin dari simbolisasi dari keduanya. Dalam skala dan intensitas yang kecil, api melambangkan kehangatan dan menerangi; air melambangkan kesejukan dan menyegarkan. Misalnya saja api pada sebuah lilin. Api lilin sering digunakan untuk melambangkan “api kehidupan” yang “menerangi dunia”. Padahal kita tahu seberapa besar dan terang api pada lilin tersebut. Api pada lilin begitu kecil yang sekali tarikan nafas akan padam! Tapi kita anggap sebagai “penerang dunia”. Begitu juga air. Kita sering menyimbolkan setetes embun “mampu melepaskan dahaga”, “menyejukkan” dan memberikan “kesegaran setiap hati manusia”. “Inilah air sumber kehidupan” kata kita.

Dalam intensitas dan skala yang lebih besar api dan air memiliki sifat yang sama: bencana. Api menjadi “Si Jago Merah” yang melambangkan angkara murka; membara yang siap menghanguskan apa saja. Air menjadi bah yang meluap, menerjang, menjebol dan melanda apa saja. Inilah yang tengah terjadi di negeri ini. Api dan air dengan “maskulinitas”-nya sedang unjuk gigi. Api kini tengah membara di bumi Riau dengan membakar hutan (barangkali sebentar lagi hutan Kalimantan). Beberapa waktu lalu api melalap pasar di Bengkulu, Jakarta, Surabaya dan lain-lain (sepertinya masih akan terus berlanjut). Air juga menunjukkan kemarahannya dengan menggenangi berbagai tempat, menerjang apa saja dan memporakporandakan tatanan kehidupan masyarakat. Inilah, keduanya telah menjelma menjadi bencana yang telah menjebol apa saja. Sepertinya tidak mau kalah dengan pejabat yang mampu menjebol kas daerah hingga 9 miliar!

Mengapa api dan air yang sebelumnya (dalam skala dan intensitas kecil) dikenal menghangatkan dan menyejukkan kemudian berubah menjadi angkara murka? Inilah kegagalan “khalifah Allah” di muka bumi. Manusia diperintahkan menjaga api, air, tanah dan udara untuk kehidupan tetapi malah melalaikannya. Justru mengeksploitasinya. Kegagalan manusia dalam mengemban amanah sebagai “khalifah Allah” menyebabkan alam menjadi “angkara murka”. Kemarahan alam adalah wujud hukum alam itu sendiri, karena telah diganggu keseimbangannya maka alam akan mencari titik keseimbangan baru melalui aksi-aksinya. Aksi-aksi inilah yang kemudian dikenal dengan bencana alam.

Maka dari itu jangan heran bila kita merusak alam maka alam “marah” dan mewujud dalam bentuk bencana alam yang kemudian sering bersafari dari satu tempat ke tempat lain seperti yang sedang kita rasakan di tanah air. Persis seperti safari politisi yang ingin dipilih jadi presiden.[]

Dimuat pada Kolom Bengkulu Ekspress hari Jumat tanggal 22 Februari 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s