Breast is The Best

Oleh : Suharyanto

                 Sepertinya persoalan negeri ini semakin kompleks. Mulai dari masalah korupsi, bencana, kemiskinan, konflik horizontal, rendahnya keamanan pangan (apalagi ketahan pangan) dan masih berderet-deret persoalan bangsa yang mengantre untuk segera diselesaikan. Dari semua persoalan negeri ini, rasanya tidak ada yang lebih utama; semuanya serba utama dan menuntut segera diselesaikan, makanya tidak heran bila semua permasalah di atas selalu menghiasi pemberitaan di pelbagai media. Untuk itu saya tinggal comot saja salah satu permasalahan di atas, yaitu tentang rendahnya keamanan pangan.

                Masalah keamanan pangan ini, salah satunya yang tengah mengemuka adalah didapatinya produk susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter sakazakii oleh peneliti IPB yang mana bakteri tersebut membahayakan bagi bayi yang mengkonsumsinya. Kemudian temuan ini menuai kontroversi, terutama pemerintah melalui Menteri Kesehatan yang menganggap temuan itu belum sahih terutama efeknya bagi bayi manusia. Wal hasil, masalah susu formula tetap kontroversi.

                Terlepas dari kontroversi itu, adanya temuan IPB tersebut menunjukkan bahwa produk pangan yang beredar di tengah-tengah kita masih belum aman. Harusnya pemerintah menyikapinya dengan bijaksana karena ini tekait dengan keamana pangan dan kenyamanan mengkonsumsi. Perlu difahami bahwa susu merupakan bahan pangan yang kaya akan zat gizi sehingga menjadi substrat yang cocok bagi pertumbuhan mikroba. Jadi, temuan IPB harus menjadi “acuan” mengevaluasi soal keamanan pangan hewani kita. Karena, walau bagaimanapun, mengkonsumsi susu sangat dianjurkan karena kaya akan nutrisi untuk tubuh manusia sehingga keamanannya harus diperhatikan.

                Di tengah keresahan kontroversi tersebut, yang sangat dirugikan adalah para ibu yang memiliki bayi. Mereka kuatir jangan-jangan susu yang diberikan untuk bayi mereka terkontaminasi bakteri E. Sakazakii. Tak heran bila kemudian para ibu demonstrasi menunut pemerintah membeberkan susu dan bubur apa yang mengandung bakteri itu. Untuk mengatasi keresahan ini pemerintah menengahi dengan menenangkan para ibu tersebut: “bakteri akan mati pada suhu di atas 80oC makanya kalau mau membuat seduhan susu buat bayi hatus diseduh dengan air panas supaya bakterinya mati”. Selain itu, sekarang kembali digencarkan kampanye pemberi ASI eksklusif. Semua tahu bahwa ASI merupakan makanan paling “afdhol” bagi bayi. Selain kandungan nutrisi ASI yang lengkap dan kaya buat bayi, dengan menyusui juga akan meningkatkan kedekatan bayi dan ibu, memberikan imunitas bagi bayi dan memberikan kecerdasan lebih. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bayi-bayi yang diberi ASI eksklusif menghasilkan anak yang lebih cerdas dan sehat daripada yang tidak diberi ASI eksklusif. Nah, sudah lama perempuan modern mulai meninggalkan pemberian ASI eksklusif dengan alasan “mengganggu” karier. Beruntung, kini mulai tumbuh berkembang gerakan kembali pada ASI. Gerakan yang selain mendapat justifikasi agama juga didukung secara ilmiah-rasional. Berbagai kalangan yang sadar mulai mengkampanyekan kembali ke ASI dengan tetap memperhatikan makanan tambahan susu non ASI. Mereka adalah para dokter, pejabat, artis, aktivis perempuan, kaum ibu, agamawan dan lain-lain. Memang, breast is the best.[]

 Dimuat pada kolom harian Bengkulu Ekspress,Jumat 14 Maret 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s