Mari Menciptakan Rekor

Oleh: Suharyanto

             Akhir-akhir ini banyak kalangan ingin mengukir dirinya ke dalam suatu lembaga pencatat rekor supaya dapat dikenang oleh orang lain sepanjang masa. Aktivitas ini tentu saja menjadi penting karena dengan demikian seseorang atau sekelompok orang akan dipandang memiliki nilai lebih daripada yang lainnya. Barangkali ini makna yang terkandung dari kata “rekor”, yaitu “menciptakan” sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain. Benarkah? 

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga terbitan Balai Pustaka tahun 2003, “rekor” memiliki tiga arti: 1) hasil terbaik, 2) jumlah terbanyak, dan 3) terbaik (tertinggi). Kita lihat satu per satu. 1) Hasil terbaik, hanya bisa dicapai bila melalui upaya secara konsisten dan terus menerus sehingga memperoleh hasil terbaik, misalnya seorang atlet yang ingin menciptakan rekor lari tercepat. Orang ini pasti akan melakukan latihan secara terus menerus, disiplin dan konsisten supaya dapat mencapai rekor yang ditargetkan. 2) Jumlah terbanyak, bersifat sebagai pencapaian hasil jumlah yang paling banyak, misalnya pada kalimat “panen kedelai tahun ini mencapai hasil dalam jumlah paling banyak selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir”. Jumlah paling banyak tentu saja dicapai dengan berbagai upaya, misalnya melalui penyuluhan intensif, pelatihan kepada petani, penyediaan sarana produksi murah dan lain-lain. Hasil jumlah terbanyak tidak bisa diraih begitu saja tanpa upaya-upaya mengarah pada hasil terbanyak. 3) Terbaik (tertinggi), bisa dilihat pada contoh kalimat “Siswa utusan Bengkulu meraih nilai terbaik (tertinggi) dalam Olimpiade Fisika Nasional tahun ini”. Bagaimana supaya bisa mendapatkan nilai terbaik atau tertinggi? Belajar dan latihan! Tidak mungkin bisa mencapai nilai tertinggi hanya dengan santai-santai dan “madar”!

            Dari ketiga arti kata “rekor” di atas tersirat bahwa di dalam kata “rekor” mengandung unsur “upaya pencapaian prestasi”. Inilah makna agung dari kata “rekor”. Makna berkualitas nomor satu, makna yang memiliki pengaruh pada orang lain, masyarakat, sosial, ekonomi dan budaya. Berbeda dengan jenis rekor yang satu ini, yaitu bersifat “given” alias “sudah dari sononya”. Contohnya, manusia tertinggi di dunia. Untuk menjadi manusia tertinggi di dunia tidaklah perlu ada “upaya pencapaian prestasi”. Seseorang tidak perlu tiap hari bergantungan supaya badannya molor sehingga menjadi tingginya minta ampun, tidak!. Disini yang terjadi adalah “given”. Lihat saja berita tentang manusia tertinggi (atau terkecil/terendah) di dunia (ataupun di Indonesia), mereka tidak pernah melakukan latihan, belajar, dan lain-lain sehingga menjadi manusia tertinggi (ataupun terkecil). Tetapi orang-orang ini telah mencatat rekor, bahkan telah dicatat di suatu lembaga pencatat rekor dunia tanpa upaya apapun, karena unik.

            Ada contoh lagi “rekor” yang bersifat tidak perlu “upaya pencapaian prestasi”. Misalnya presiden termuda di dunia. Menjadi presiden termuda di dunia adalah bersifat kebetulan. Sangatlah tidak mungkin mayoritas warga negara bersekongkol untuk mencalonkan dan memilih orang dengan umur paling muda untuk menjadi presiden demi mendapat catatan rekor, misalnya. Warga negara akan memilih berdasarkan ideologi, visi-misi, program, kedekatan personal, atau kadang-kadang bagi yang masih irasional lebih memilih ketampanan/kecantikan ketimbang umur termuda dalam memilih pemimpinnya. 

            Demikianlah macam-macam makna dan sifat “rekor”. Celakanya, jenis rekor yang tidak memerlukan “upaya pencapaian prestasi” justru yang banyak diadopsi dan sedang “ngetrend”. Rekor jenis ini yang selalu diupayakan karena memang tidak perlu upaya sungguh-sungguh untuk mencapainya walaupun biaya yang dikeluarkan tidak sedikit yang penting dapat menghantarkan diri pencetusnya pada suatu catatan museum rekor.

            Mari, kita di negeri ini menciptakan rekor jenis unggul, yaitu dengan penuh upaya pencapaian prestasi. Masih banyak yang harus dipecahkan: gizi buruk, pengangguran, pendidikan untuk semua, dan lain-lain. Selamat memecahkan rekor![] 

Dimuat pada kolom hari Sabtu tanggal 29 Maret 2008 di Harian Bengkulu Ekspress.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s