Menggunakan Bahasa “Universal”

Oleh: Suharyanto

Sengaja saya beri tanda kutip kata universal pada judul ini karena memang hampir tidak ada sesuatu yang 100% universal. Pasti ada modifikasi-modifikasi tertentu sehingga sesuatu bisa berlaku. Selain itu ke-universal-an sesuatu yang saya maksudkan di sini bukanlah berarti berlaku sama buat semua, di mana saja dan kapan saja. Meskipun arti yang seharusnya adalah demikian.

Sesuatu dikatakan universal bila sesuatu itu berlaku, dipahami dan dimengerti oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Kita ambil contoh “mengangguk” dan “menggeleng”. Siapapun dan dimanapun serta sampai kapanpun rasanya semua tahu bahwa kalau ada orang mengangguk berati “ya” dan bila menggeleng berarti “tidak”, walaupun mungkin ada sekelompok orang atau komunitas yang mengartikan menggeleng kepala belum tentu berarti “tidak”. Tetapi hingga saat ini hampir semua kelompok masyarakat di dunia ini sepakat bahwa mengangguk adalah “ya” dan menggeleng adalah “tidak”. Inilah yang disebut dengan “anggukan universal” dan “gelengan universal”. Semua orang pasti tahu maksudnya. Padahal tidak ada kesepakatan sebelumnya.

Dan apakah dengan demikian kita tidak boleh atau tidak bisa mengubah “kesepakatan” tersebut, misalnya untuk menyatakan “tidak” menjadi anggukan dan “iya” menjadi gelengan kepala? Tentu saja bisa dan boleh, tapi apalah artinya? Kita bisa dikatakan kurang kerjaan karena tidak ada substansi apapun yang berarti dengan mengubah cara persetujuan dan penolakan tersebut. Karena semua sudah menyepakati bahwa anggukan tanda “iya” dan gelengan tanda “tidak” maka apabila dibalik, kita akan dianggap iseng belaka atau malah gila.

Inilah, sesuatu yang tanpa disadari manusia, betapapun berbedanya, masih memiliki kesamaan dalam hal persetujuan dan penolakan. Demikian juga dalam hal tertentu lainnya, atau hal terbatas lainnya dalam lingkup budaya tertentu. Misalnya, Orang Jepang bila menghormati orang lain atau kalau bertemu dengan orang lain sebagai tanda hormat akan membungkukkan badan sedikit. Dan cara ini berlaku “universal” buat orang Jepang. Semua orang jepang tahu bila ada seseorang membungkukkan badan kepada orang lainnya pasti orang tersebut sedang memberi penghormatan. Contoh lain, “cium tangan” bagi anak-anak Indonesia terhadap orang tua. Ini lazim dan dimengerti orang Indonesia. Semua orang tahu bahwa bila ada anak kecil mencium tangan ayahnya pasti sedang menghormati ayah tersebut ketika hendak pamit atau baru tiba dari suatu tempat.

Demikian halnya bila ada orang dengan khidmat mengangkat kedua tangan di depan dada dengan telapa tangan mengembang atau sedikit mencekung menghadap ke arah muka atau dada orang tersebut maka bisa dipastikan orang tersebut adalah orang Islam yang sedang berdoa. Berbeda dengan orang Kristen atau Budha atau lainnya yang berdoa. Inilah makanya apabila ada orang Islam berdoa dengan mengepalkan tangan, ya bisa saja, tapi mungkin menjadi kurang kerjaan karena tidak mengubah substansi apapun dari cara tersebut malah telah keluar dari cara “universal” kelompok terkait.

Itulah adab. Cara yang umum dan “universal” buat kelompoknya dan apabila seseorang tidak mengikuti adab kelompoknya bisa dipastikan seseorang tersebut telah keluar dari aturan kelompoknya karena tidak menggunakan bahasa universal-nya. Makanya, mari menggunakan bahasa universal.[]

Dimuat pada Kolom Harian Bengkulu Ekspress, Jumat 18 April 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s