Para Pengidap Autisme

Oleh: Suharyanto

 

                Autis,  dapat dikatakan ancaman serius yang sangat meresahkan para orang tua karena khawatir bayi-bayinya menderitanya. Anak yang menderita autis dianggap anak yang “aneh” bagi keluarga dan lingkungannya. Seringkali para penderita autis dianggap anak tidak normal oleh masyarakat yang belum mnegetahuinya. Sampai saat ini anak-anak penderita autis masih banyak yang belum mendapat perlakuan/penanganan yang sesuai supaya penderita autis ini bisa menjadi “bermanfaat” dengan “kelebihannya”.

                Menurut pendapat orang-orang yang berkompeten tentangnya, autis merupakan “penyakit” yang menyebabkan penderitanya mengalami disorientasi sosial. Anak penderita autis tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya dan asyik dengan dunianya sendiri. Ia tidak peduli dengan ibunya yang tekah melahirkannya, tidak peduli dengan ayahnya yang telah menafkahinya, tidak peduli dengan lain-lainnya. Karena keasyikan dengan dunianya sendiri maka seringkali anak penderita autis mudah lepas kendali (uncontroled ). Anak seperti ini jika berkehendak akan sesuatu maka tidak bisa dikendalikan, apakah tindakannya merugikan orang lain atau bahkan dirinya sendiri. Anak autis melihat sesuatu di sekitarnya dengan perspektif keasyikan dirinya sehingga tidak bisa dibedakan apakah ia sedang mengajak bergurau atau marah terhadap kawan mainnya. Yang dilihat oleh kawan mainnya adalah bahwa dia sedang mengamuk dan mematikan, soalnya jika sekali memegang tangan temannya maka sangat susah dilepaskan bahkan semakin dicengkeram kuat-kuat sehingga temannya kesakitan dan menangis ketakutan…

                Jadi, pendek kata, autis adalah penyakit dimana penderitanya mengalami keasyikan dengan dunianya sendiri, tidak peduli dengan lingkungan dan tindakannya seringkali lepas kendali sehingga bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Namun demikian, belakangan ini sudah mulai tumbuh dan berkembang para individu dan lembaga yang peduli pada autis. Maka sekarang bermunculanlah pusat-pusat untuk “mendidik” anak autis dan bahkan telah dicapai hasilnya bahwa anak penderita autis dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berguna magi masyarakat dan lingkungannya.

                Yang perlu diwaspadai adalah apabila autis ini berubah menjadi “autisme”. Biasanya sesuatu yang berubah menjadi –isme maka memiliki dampak yang bukan saja secara sosial, melainkan secara ideologi. Makanya akan sangat fatal apabila sesorang menganut ideologi autisme. Gejala pengidap autisme sudah bisa kita lihat dan rasakan. Misalnya banyak kalangan elit yang asyik dengan dunianya sendiri, asyik dengan kesenangannya sendiri, asyik bagaimana bertindak tanpa kendali sehingga tindakannya merugikan orang lain, masyarakat, bangsa dan negara. Karena mengidap autisme inilah maka para elit sudah tidak bisa membedakan mana studi banding, kunjungan, jalan-jalan atau kepentingan rakyat. Makanya wajar bila ada sekelompok elit mengatakan telah melakukan kunjungan studi banding tapi nyatanya berdiam diri di rumah. Atau bilangnya studi banding tapi sebenarnya jalan-jalan. Setelah ketahuan baru melakukan kasak kusuk tak tentu arah, tabrak sana tabrak sini, pelotot sana pelotot sini, dan jika diwawancarai padangannya lurus menembus langit kontras dengan irama bola matanya yang berputar-putar mencari keseimbangan dengan si pewawancara, tetapi melenceng 30 derajat ke samping karena tidak bisa fokus; persis seperti anak penderita autis yang patut dikasihani.[]

Dimuat pada kolom Harian Bengkulu Ekspress Jumat, 25 April 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s