Densus 88 Antiteror

Oleh: Suharyanto

Kita akan segera mengasosiasikan nama “Densus 88 Antiteror” dengan terorisme. Nama nama ini mulai menjadi terkenal ketika Indonesia marak dilanda terorisme dengan pemboman di beberapa tempat. Kemudian menjadi semakin dikenal publik ketika menggerebek dan menewaskan salah seorang dedengkot teroris, Dr Azahari. Selanjutnya setiap kita membaca atau mendengar kata Densus 88 Antiteror maka sudah bisa dipastikan aktivitasnya terkait dengan teorisme. Apakah sedang melacak, menangkap atau sedang melakukan simulasi penanggulangan terorisme.

Tetapi kemudian kita bertanya-tanya dengan kejadian penangkapan atau penggerebekan beberapa oknum guru yang tengah memperbaiki lembar jawaban UN siswanya oleh Densus 88 Antiteror di Lubuk Pakam beberapa waktu lalu terkait dengan terorisme? Rasanya sulit mengatakan bahwa guru tersebut tengah melakukan aktivitas terorisme. Sekalipun guru-guru tersebut melakukan kejahatan, rasanya tidak dalam kategori terorisme. Tetapi mengapakah kemudian yang “turun tangan” adalah Densus 88 Antiteor?

Kita tahu bahwa tindakan oknum guru tersebut adalah tidak benar, tetapi ini bukanlah satu-satunya masalah dalam dunia pendidikan kita. Banyak pengamat pendidikan menggugat pelaksanaan UN, tentu saja dengan berbagai alasan. Banyak masalah yang harus dibenahi dalam sistem pendidikan kita. Kesemerawutan ini sudah sedemikian sistemik sehingga perlu tindakan kompehensif untuk menuntaskan berbagai persoalan dunia pendidikan kita. Tindakan oknum guru di Lubuk Pakam tersebut hanyalah bagian paling kecil dari carut marutnya dunia pendidikian kita. Jadi mesti dicari hingga ke akar persoalannya.

Dunia pendidikan kita juga semakin tidak manusiawi. Dunia pendidikan kita lebih tepat sebagai pencipta robot dan mesin pembunuh karakter sosial anak didik. Sekolah lebih tepat menjadi sistem mekanis yang menggerakkan anak didik menjadi produk target pencapaian nilai, bukan menjadikan anak didik yang mampu memberdayakan dirinya. Berbagai potensi dan karakteristik anak didik dilibas oleh suatu tuntutan sekolah. Demi mencapai target, maka sekolah tidak segan-segan membunuh karakter sosial anak didik. Anak didik dari pagi hingga siang di sekolah dijejali pelajaran. Siang hingga sore “diwajibkan” bimbel atau les. Malam mengerjakan PR. Hari libur untuk istirahat. Tidak heran bila banyak anak didik yang menganggap hari Minggu sebagai hari “Merdeka”, ini artinya hari Senin hingga Sabtu dianggap sebagai hari “Penjajahan” yang melelahkan.

Kenapa “penjajahan”? karena anak-anak tidak diberi kesempatan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar rumah, bermain-main dengan alam sekitar, mengenali teman sebayanya di sekitar rumah dan bermain-main sebagaimana layaknya anak sesusianya. Anak-anak lebih disibukkan dengan pelajaran dan pelajaran di sekolah, bimbel dan PR! Karena dengan cara ini maka anak-anak akan meningkatkan “predikat” guru dan sekolah sebagai guru dan sekolah yang berhasil. Makanya ketika hari libur anak-anak menjadi kelelahan dan bermalas-malasan. Wajar bila guru dan sekolah berubah menjadi monster yang senantiasa meneror kenyamanan. Guru dan sekolah tidak bisa mengelak karena inilah tuntutan “sistem”.

Itulah salah satu contoh carut-marutnya dunia pendidikan kita. Hari ini ketika kita memperingati hari pendidikan nasional, marilah kita memikirkan kembali hakekat pendidikan itu sendiri. Kemudian dituangkan dalam suatu sistem pendidikan yang manusiawi dan membebaskan. Dengan demikian tidak ada lagi Densus 88 Antiteror yang mendobrak pintu sekolah. []

Dimuat pada kolom Jumat Harian Bengkulu Ekspress tanggal 8 Mei 2008.

2 Comments

Filed under Artikel Umum

2 responses to “Densus 88 Antiteror

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s