Berlomba Menjadi Berhala

Oleh: Suharyanto

 

                Berhala, dalam bahasa Inggris-nya adalah “idol” dan kemudian di-Indonesiakan menjadi “idola”. Jadi, pada dasarnya idol = idola = berhala. Berstatus menjadi berhala telah menjelma jadi idaman banyak orang.

                Ini bermula dari adanya kontes menjadi selebritis entertainmen yang pemenangnya ditentukan oleh banyaknya sms yang diberikan kepadanya. Tak pelak lagi banyak stasiun TV menyelenggarakan dan menyiarkan ajang lomba menjadi berhala dengan berbagai macam kemasan dan format serta strata. Mulai dari berhala anak-anak (cilik), ABG, dan dewasa. Uniknya, meskipun berhala anak-anak tetapi materinya adalah materi kaum dewasa.

                Dilihat sukses, maka ajang pencarian bakat untuk menjadi berhala kemudian berkembang dan menyebar ke daerah-daerah. Tak heran bila kemudian di pusat-pusat perbelanjaan (mall), dijadikan pula sebagai media untuk “mencari” bakat menjadi berhala. Demi menjadi berhala inilah maka banyak cara dilakukan oleh pihak terkait. Apakah si calon berhala, penyelenggara, pendukung dan siapa saja. Bahkan diberitakan pula beberapa calon berhala yang mengebom sms hingga puluhan juta rupiah demi meraup dukungan terbanyak dan akhirnya akan menjadi berhala sesungguhnya. Ternyata sang calon berhala akhirnya menjadi tidak seperti yang diharapkan, malah nasibnya tragis menjadi gelandangan karena terlilit hutang untuk membeli pulsa dukungan. Dan, nasib seperti ini terjadi tidak hanya pada beberapa orang saja, tetapi banyak orang…

                Pertanyaannya adalah, mengapa sedemikian mudahnya manusia-manusia ini terbius oleh adanya iming-iming untuk menjadi berhala? Apakah sedemikian menggiurkannya “berprofesi” menjadi berhala? Atau karena kemasan dalam menjual impian menjadi berhala ini sedemikian masif dan intensif? Atau karena selama ini kita selalu disuguhi oleh adanya kehidupan kaum berhala ini yang “wah”, berkelas, glamour, dan menyenangkan di layar kaca?

                Inilah paradok Indonesia, di tengah kondisi negara dan bangsa yang tengah terpuruk, kemiskinan bersimaharajalela, bencana bersafari dari satu tempat ke tempat lain tak ubahnya politisi ingin dipilih kembali, krisis pangan yang sama kritisnya dengan krisis kepercayaan terhadap pemimpin, dan berbagai macam persoalan. Namun di tengah masyarakat kita tumbuh tawaran-tawaran semu yang menggiurkan dengan berbagai macam format membius. Janji-janji menjadi idola, yang tak lain dan tak bukan adalah berhala, telah merubah cara pandang masyarakat tentang kondisi negeri yang tengah terpuruk ini. Seakan kondisi masyarakat, bangsa dan negara tengah berjaya saja.

                Janji-janji ini membius masyarakat laksana janji kaum politisi dalam kampanye pemilu atau pilkada tetapi kenyataannya tidaklah semanis janji yang ditebarkan.[]

 

Dimuat pada Kolom Jumat Harian Bengkulu Ekspress, 9 Mei 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s