Titik Nol Km

Oleh: Suharyanto

 

            Dalam bukunya, Andi Mallarangeng, menyebutkan bahwa titik 0 km adalah berada tepat di istana negara. Melalui buku yang judulnya lebih kurang sama dengan judul tulisan ini, yakni Dari Kilometer 0,0, Andi Mallarangeng lebih kurang ingin menjelaskan bahwa selama ini kita mendengar ada alamat dengan menggunakan Km tertentu. Di kota Bengkulu kita mengenal Km 6, Km 6,5, Km 7, Km 8 dan Km 9. Demikian tempat-tempat lain ada alamat yang terkenal dengan Km tertentu.Tetapi belum pernah ada Km 0. Rupanya penamaan tempat dengan ukuran jarak sudah ada sejak zaman dahulu. Setidaknya kita di Bengkulu mengenal nama tempat yang demikian seperti Pal 30, Pal 8, dan Pal 100. Pal adalah satuan jarak yang lazim digunakan pada zaman dahulu kala.

               Pertanyaannya adalah, dari manakah jarak Km tersebut diukur? Ternyata, menurut Andi Mallarangeng, diukur dari pusat pemerintahan. Pusat pemerintahan ini bisa berupa keraton, istana, atau apapun namanya tetapi tetap menunjukkan pusat negara atau pemerintahan. Berdasarkan dengan hal inilah maka Andi Mallarangeng ingin menunjukkan dan menegaskan bahwa pengukuran diawali dari pusat pemerintahan. Dan karena itu pulalah maka pada titik nol Km inilah segalanya dibuat. Pada titik tersebut, masyarakat perlu diberitahu apa saja yang telah, sedang dan akan terjadi dalam bernegara. Buku tersebut lebih banyak mengupas pandangan Andi mengenai kenegaraan, kebijakan dan langkah-langkah yang telah diambil oleh presiden. Melalui buku tersebut Andi ingin menjelaskan bahwa dari titik pusat segala ukuran, telah, sedang dan akan dilakukan hal-hal menyangkut kebijakan negara. Hal-hal ini perlu diketahui oleh masyarakat luas sehingga masyarakat tahu bahwa di istana negara terjadi ”kehidupan” berbangsa dan bernegara.

            Kini, di saat semua persoalan negeri yang semakin pasti, yaitu pasti semakin sulit, kita malah menemui ketidakpastian dari pimpinan tentang langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kesulitan itu. Harga minyak dunia sudah pasti melambung, banjir sudah pasti melanda Jakarta setiap saat, kecelakaan transportasi pasti terjadi, kerusuhan sosial jelas terus terjadi, korupsi makin mantap terjadi dan lain-lain persoalan, tetapi kita tidak kunjung disuguhi kepastian kebijakan dan langkah strategis apa yang harus dilakukan. Pemerintah masih ragu  tentang BBM mau naik apa tidak, mau keluar dari OPEC apa tidak, bagaimana mengatasi banjir setiap saat, bagaimana mengatasi kemiskinan dan lain-lain. Ketidakpastian ini menimbulkan pertanyaan pada titik nol kilometer tersebut, yakni tengah terjadi apakah di sana?

            Padahal pada kondisi seperti ini dibutuhkan segala sesuatunya dalam kerangka kepastian untuk menghadapi kepastian keterpurukan bangsa dan negara. Kebijakan dan langkah apakah yang pasti akan ditempuh untuk mengatasi segala persoalan. Hal ini harus segera dirumuskan dan dilaksanakan karena kita sudah tidak memiliki ancang-ancang. Kita benar-benar tersudut di titik nol dan mesti bekerja betul-betul dari titik nol.***

 

Dimuat pada Kolom Jumat 16 Mei 2008 Harian Bengkulu Ekspress.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s