Makan Asam Garam

Oleh: Suharyanto

 

            Rasanya hampir semua orang Indonesia dewasa memahami arti “makan asam garam”, yaitu banyak pengalaman, kenyang dengan pengalaman hidup baik dalam bentuk suka maupun duka. Masing-masing orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda, demikian juga suatu kelompok, masyarakat, organisasi, dan bahkan negara dan bangsa.

            Dari pengalaman juga, sering orang mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru terbaik” sehingga orang yang dianggap bodoh adalah orang yang “jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali” akibat tidak menjadikan pengalaman masa lalu sebagai guru. Oleh karenanya, pengalaman masa lalu yang tak lain dan tak bukan adalah sejarah, haruslah selalu diingat dan dijadikan acuan dalam berpikir dan bertindak ke depan. Makanya JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno.

            Semakin lama atau semakin tua maka asam dan garamnya semakin banyak yang ditelan, tetapi akan lebih banyak lagi kalau di dalam sejarah hidupnya ditambahi berbagai aktivitas dan peristiwa dimana dirinya melibatkan diri (baca: bukan terlibat) secara positif dan kemudian dapat dimanfaatkan buat orang banyak. Dari sini maka lahirlah sebutan “tua-tua kelapa, semakin tua semakin banyak minyaknya”.  Tetapi sebaliknya, bila banyak melibatkan diri pada artian negatif dan membawa mudharat dan bencana bagi orang lain atau alam sekitar akan melahirkan “tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi (nakalnya)”.

            Pengalaman bisa juga diperkuat dengan adanya berbagai peristiwa atau aktivitas yang memberi arti tempaan bagi yang mengalaminya. Semakin banyak tempaan maka semakin mumpuni dalam kekayaan pengalaman. Tinggal bagaimana memetik pelajaran darinya.

            Dari level bangsa dan negara, Indonesia juga memiliki pengalaman tersendiri yang berbeda dari negara dan bangsa lain misalnya Malaysia, Filipina, Thailand, Belanda, dan lain-lainnya. Masing-masing menapaki pengalaman sejarah sendiri-sendiri meskipun bisa saja saling terkait. Pengalaman tidaklah berjalan secara bebas satu sama lain; saling terkait. Indonesia memiliki sejarah perjuangan melawan penjajahan dan penindasan asing yang relatif paling lama di seantero Asia Tenggara. Indonesia juga memiliki memori perjuangan mengusir penjajah secara heroik yang barangkali tidak dimiliki oleh beberapa negara tetangga kita. Indonesia juga memiliki pengalaman bagaimana pasang surutnya berbangsa dan bernegara dari berbagai model kepemimpinan, kenegaraan dan sistem politik.

            Indonesia juga satu-satunya negara seantero Asia Tenggara yang mengalami krisis ekonomi berkepanjangan yang kemudian menjalar pada krisis multidimensi. Pun, Indonesia termasuk negara yang tengah mengalami berbagai konflik horizontal, bencana alam yang melanda diiringi dengan korupsi bersimaharajalela dan berbagai macam terpaan dan tempaan. Kiranya bila ditulis terpaan dan tempaan ini bisa menjadi buku berjilid-jilid untuk mengupasnya. Anehnya, belum juga kita berguru dari terpaan dan tempaan tersebut. Banyak sudah kejadian, peristiwa, dan kebijakan kita alami hanyalah ulangan dari kejadian sebelumnya. Kebijakan, program dan kegiatan hanyalah ad hoc belaka, makanya wajar bila sebagai sebuah bangsa kita masih berjalan di tempat bahkan berjalan mundur. Padahal kita sudah seratus tahun dari keterpurukan, penjajahan, bila dihitung dari titik tolak kebangkitan nasional, kenapa masih saja belum beranjak dari persoalaan yang sama? Apakah usia 100 tahun belum juga cukup memakan asam dan garam?[]

 

Dimuat pada kolom Jumat Harian Bengkulu Ekspress, 23 Mei 2008

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s