Semua Serba Paradoks

Oleh: Suharyanto

Pada era 90-an ada buku yang cukup menggemparkan Indonesia terkait dengan persatuan dan kesatuan bangsa. Buku Global Paradox karya John Naisbitt, seorang futuris, merupakan buku fenomenal dan menjadi international best seller. Buku ini menggambarkan betapa pada saat dunia sedang menguraikan batas-batas negara menjadi negara yang nyaris borderless, pada saat yang sama tengah terjadi pembentukan negara-negara baru. Sebagai indikator ekstrim yang digambarkannya adalah globalisasi yang ditandai dengan terbentuknya Uni Eropa, perdagangan bebas dan lain sebagainya. Paradoksnya ditandai dengan tebentuknya negara-negara baru pecahan Uni Soviet dan Eropa Timur. Jadi pada saat dunia tengah mengupayakan menjadi “satu” pada saat itu juga tengah terjadi nasionalime baru di kawasan Balkan, eks Uni Soviet dan Eropa Timur. Terbentunya negara-negara baru ini yang mengkhuatirekan buat Indonesia. Inilah Golbal Paradox-nya John Naisbitt.

Kemudian, berakhirlah episode sejarah dunia ini melalui buku Francis Fukuyama, The End of History. Jadi, sejarah dunia yang dipenuhi dengan pertarungan ideologi menjadi berakhir dengan kekalahan “ideologi” yang mengusung sosialisme. Ini ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet yang merupakan induk sosialisme. Uni Soviet menjadi berkeping-keping negara merdeka yang tidak lagi sosialis. Kemudian Republik Rakyat China, sebuah negara pengusung sosialisme juga tengah mereformasi diri, setidaknya aspek ekonominya tidak lagi bercorak sosialis, malah cenderung mengarah pada kapitalisasi dan privatisasi. Negara-negara Eropa Timur yang kebanyakan berhaluan sosialis juga berubah menjadi tidak lagi sosialis. Bahkan tembok Berlin yang membelah kota Berlin karena perbedaan ideologi juga sudah diruntuhkan. Wal hasil, pertarungan ini “dimenangkan” oleh pengusung ideologi kapitalis!

Tapi tunggu dulu, inipun menyisakan paradoks. Lihat saja, pada saat kemenangan kapitalis ini dikumandangkan melalui “The End of History”, kita juga menyaksikan bagaimana negara-negara berhaluan sosialis tengah bangkit. Kita lihat Venezuela, Bolivia, Peru dan terakhir kita simak Nepal. Nepal malah telah merubah negaranya dari sistem kerajaan menjadi sistem republik sosialis yang dipimpin oleh kelompok Maois (pengikut Mao, seorang tokoh sosialis). Inilah, dunia dipenuhi dengan paradoks yang tak pernah terbayangkan oleh arus utama (mainstream).

Demikian pula tanpa diperkirakan sebelumnya, kita, di Indonesia tengah menjalani paradoks-paradoks yang terkadang parodial. Bagaimana tidak, kita sudah jenuh disuguhi ulah penegak hukum yang justru melecehkan hukum. Pemberantas korupsi justru melakukan korupsi. Penyampai aspirasi rakyat (baca: anggota DPR) justru menyumbat aspirasi rakyat. Anehnya, pelaku-pelaku paradoks ini tidak menyadari bahwa perilakunya mengundang kontroversi di tengah menggeliatnya reformasi. Paradoks memang.

Di tengah hiruk pikuknya paradoks ini susah untuk membedakan mana itu tindakan penjaga keamanan dengan perilaku pengacau keamanan. Tindakan pengawal reformasi dan perusak reformasi, pengawal moral dan kriminal seperti yang kini sering kita lihat gerakan-gerakan mahasiswa yang notabene merupakan gerakan bersifat moralis, justru terjebak dengan perilaku anarkis. Sungguh semua telah menjadi paradoks.[]

Dimuat pada Kolom Jumat Harian Bengkulu Ekspress, 30 Mei 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s