Intifada Jalur Gaza

Oleh: Suharyanto

Siapa yang tidak tahu Jalur Gaza dan intifada? Ya, keduanya merupakan nama yang erat kaitannya dengan Palestina, khususnya dalam terminologi perjuangan melawan pendudukan Zionis Israel. Jalur Gaza merupakan nama tempat yang bagi kita cukup populer karena hampir setiap berita dunia nama ini menominasi pemberitaan dan penderitaan. Tempat ini merupakan tempat yang paling menderita di bawah penjajahan Zionis. Bila disebutkan kata intifada maka yang terlintas di benak kita adalah lemparan batu. Intifada merupakan semangat dan cara perjuangan rakyat Palestina melawan penjajah Israel dengan melakukan lemparan batu kepada serdadu Zionis. Karena tidak memiliki senjata maka batupun bisa menjadi senjata. “Tiada rotan akarpun jadi” menurut pepatah.

Jika Jalur Gaza merupakan tempat pergolakan dan perjuangan mengusir pendudukan, intifada merupakan cara melakukan perjuangan itu. Karena ini dilakukan secara masif dan intensif maka kemudian jadilah simbol perjuangan bangsa Palestina melawan kaum penjajah Zionis Israel. Batu melawan senjata berat. Mungkin seperti kita dulu, bambu runcing melawan meriam Belanda. Memang rasanya sulit dipercaya bagaimana bambu runcing bisa melawan meriam. Tapi inilah kemenangan simbol perjuangan. Begitu juga intifada, simbol perjuangan melawan penjajahan. Begitu dhasyatnya perjuangan itu, bila kita saksikan di pemberitaan maka Jalur Gaza nyaris hujan batu setiap hari. Batu-batu sebesar kepalan tangan beterbangan melesat jauh dari genggaman para pejuang Palestina ke arah serdadu Israel, tak ubahnya anak panah yang melesat lepas dari busurnya dan menghujam di dada musuh. Begitu heroiknya.

Itulah, jika perjuangan melalui bambu runcing melawan penjajah hanya di Indonesia maka perjuangan dengan menggunakan batu hanya ada di Palestina. Pejuang bambu runcing digambarkan dengan lelaki yang mengenakan celana pendek atau celana menggantung, baju lengan pendek sambil mengacung-acungkan bambu yang ujungnya runcing seperti tombak, sedangkan pejuang intifada dipersonifikasikan dengan lelaki mengenakan celana panjang (semacam) jeans, baju lengan panjang atau pendek, kepalanya dibalut kain bermotif belang-belang merah dan putih laksana papan catur, seperti yang sering dipakai (kafiyeh) oleh mendiang Yasser Arafat. Melilitkan kafiyeh ini nyaris menyisakan kedua matanya saja bak ninja siap beraksi menambah semangat keberanian perlawanan.

Sayangnya, simbol heroik intifada mulai banyak digunakan sembarangan. Terutama di negri kita ini banyak orang melakukan “lempar batu sembunyi tangan”. Begitu batu sudah dilemparkan maka khalayak ramai heboh apa lagi hingga menimbulkan saling tuding mencari pelaku pelemparan. Biasanya untuk mengatasi kehebohan ini maka dicarilah “kambing hitam” sehingga seakan-akan telah menyelesaikan masalah, padahal masalah hanya hening sejenak dan menjadi bom waktu yang siap meledak. Begitu banyaknya pelaku lempar batu sembunyi tangan ini maka persoalan di negri inipun semakin lengkap. Akhirnya, persoalan bangsa menjadi semakin sempurna dengan berbagai aksi lempar batu-lempar batu antar pelajar dan antar mahasiswa dalam tawuran, antara mahasiswa dengan polisi, antara mahasiswa dengan aparat kejaksaan, antara masyarakat dengan masyarakat. Jadi, ternyata kitapun hidup laksana di Jalur Gaza yang penuh dengan hujan batu, tetapi bukannya perjuangan menentang kezaliman melainkan tawuran yang tidak karu-karuan.[]

Dimuat pada Harian Bengkulu Ekspress, kolom Jumat, 6 Juni 2008

2 Comments

Filed under Artikel Umum

2 responses to “Intifada Jalur Gaza

  1. Mujahidin muda

    Palestine bukan milik Hamas,bukan milik rakyat palestine,bukan pula milik israel,tetapi Palestine adalah milik Allah swt,marilah kita kembalikan tanah ini kepada pemiliknya,agar damai menyertai tanah perjanjian ini.

  2. Masalah persengketaan tanah antara warga Muslim & Yahudi di Pelestin bermula pada saat Daulah Khilafah Usmaniyah di Turki mengalami kehancuran akibat propaganda kafir Barat.
    Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Teodhore Hertz dkk yang menghasut warga Yahudi agar menguasai tanah Palestin.
    Cara paling efektif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah mengembalikan hak pengelolaan tanah tersebut kepada pemilik terakhir yang sah, yaitu Daulah Khilafah.
    Tanah Palestin adalah tanah wakaf yang diserahkan secara ikhlas dari pemilik sebelumnya kepada Khalifah Umar ra. & kemudian dibebaskan kembali dari tangan penjajah oleh Khalifah Muhammad al Fatih.
    Bisa saja saudara Muslim kita di Pelestin lari & mengungsi ke negara lain agar selamat, namun hal itu tidak mereka lakukan, karena mereka telah bersumpah untuk merelakan jiwa mereka guna melindungi tanah wakaf milik Daulah Khilafah, hingga Daulah Khilafah bangkit kembali.
    Wahai Saudara Muslim di manapun juga, relakah kalian berlama-lama membiarkan penderitaan saudara muslim kita di Palestin terus berlarut-larut?
    Wahai Saudara Muslim di manapun juga, marilah kita tegakkan Khilafah sekarang juga!
    Agar Saudara kita, baik umat Muslim maupun Yahudi, dapat kembali berdamai seperti sedia kala!
    Agar berbagai masalah yang melanda kita saat ini dapat teratasi!
    Dan yang terpenting, agar hukum Allah dapat ditegakkan kembali di muka bumi ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s