Fenomena Histrionik-Melodramatik

Oleh: Suharyanto

 

            Histrionik merupakan gejala kejiwaan. Menurut psikolog, orang dengan kepribadian histrionik akan berupaya menarik simpati dari lingkungan sekitarnya untuk memahami dan mengerti akan dirinya dengan berbagai cara. Cara yang dilakukan biasanya bersifat memanipulasi lingkungan sebanyak-banyaknya sehingga berkesan seperti sesungguhnya terjadi.

            Seringkali, pengidap histrionik ini mengeluhkan kelemahan-kelemahannya demi mendapatkan perhatian dan “excuse” dari orang lain. Dengan cara seperti ini maka orang dengan kepribadian histrionik akan mendapatkan kenyamanan dan kepuasan diri. Mengemukakan keluhan penyakit merupakan cara paling ampuh dan mudah ditempuh agar orang lain memberikan “excuse” dan permakluman bahkan bisa turut bersimpati. Akhirnya, orang seperti ini mampu melepaskan tanggung jawabnya sebagaimana yang sering dilakukan orang “elit” yang tengah menerima tuntutan hukum. Orang “elit” ini pertama-tama langsung menyatakan keluhan sakit tertentu sehingga perlu “istirahat” dulu di rumah sakit bila perlu rumah sakit luar negeri. Atau, pergi umroh. Cara ini mujarab karena psikososial masyarakat di sekitarnya mendukung untuk itu sehingga orang dengan kepribadian histrionik ini mampu menarik kesan demi kenyamanan diri sebanyak-banyaknya.

            Uniknya, karena keribadian histrionik ini menuntut suatu trik dan kecerdikan memanipulasi lingkungan maka biasanya “penderitanya” adalah orang yang memiliki kecerdasan lumayan, pandai berbicara, memiliki jaringan dan koneksitas, memiliki cukup uang, memiliki strategi zig-zag dalam hidup dan menduduki strata “elit” di masyarakat. Kepintaran akan digunakan menciptakan strategi, kepandaian berbicara untuk meyakinkan orang, koneksitas untuk membuat citra, uang untuk mem-back up situasi, strategi zig-zag untuk menghindari kejaran pembongkaran fakta. Dan, kedudukan “elit”, inilah dia yang kebanyakan melakukannya.

            Jarang kaum awam, tidak terdidik, orang miskin, dan rakyat jelata mampu melakukan manipulasi lingkungan atau bersandiwara demi kepuasan pribadinya. Orang awam tidak mampu bersandiwara dan biasanya apa adanya, orang tidak terdidik tidak mempunyai kemampuan menemukan trik dan strategi, orang miskin tidak memiliki uang yang cukup untuk “chek up” ke dokter (apa lagi dokter Singapura) supaya mendapat surat keterangan sakit. Juga, orang miskin tidak punya uang untuk pergi umroh supaya terkesan “saleh” atau setidaknya menunda tuntutan tanggung jawab.

            Begitulah, fenomena histrioinik sangat menggejala dan keberadaannya semakin mendapatkan tempat oleh masyarakat kita yang note bene juga sebagai masyarakat melodramatik.[]

 

Dimuat pada kolom Jumat Harian Bengkulu Ekspress, 12 Juni 2008

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s