INA itu Indon

Oleh: Suharyanto

 

            Sebutan Indon bagi kita oleh orang dari negeri jiran sangat tidak bisa kita terima. Sebutan ini berkonotasi “merendahkan” martabat. Walaupun negeri tetangga kita menyangkal bahwa itu bermaksud merendahkan, tetapi dalam faktanya sebutan Indon lebih sering digunakan kepada orang Indonesia yang memang “rendah” dalam pandangan mereka, terutamanya para buruh (TKI). Soalnya, setidaknya dalam berbagai milis orang Malaysia, mereka tidak menyebutkan Indon kepada orang Indonesia untuk pengertian menghormati karena orang Indonesia tersebut berprestasi, misalnya. Kemudian, sebutan Indon diatributkan kepada semua perilaku dan fakta “negatif” orang Indonesia, seperti kriminal, bodoh, miskin.

            Menurut orang Malaysia, banyak orang Indonesia yang bertindak kriminal di sana, suka menipu dengan sesama (umpamanya calo TKI), gemar mengolok-olok, miskin dan bodoh. Atribut negatif semakin meluas sehingga melengkapi konotasi negatif dari sebutan Indon. Misalnya saja tabiat ramah yang dulu diatributkan kepada orang Indonesia berubah menjadi tabiat rusuh, saling bunuh, korup, perusak fasilitas umum, “ngeyel”, mau menangnya sendiri, sering melakukan tindakan konyol, suka menggunakan fasilitas secara “percuma” (percuma adalah bahasa Malaysia yang artinya gratisan ). Mereka mengikuti perkembangan Indonesia, tentang kerusuhan sosial, konflik sosial, konflik pilkada, kemiskinan, penipuan, penggusuran, aksi penyuapan jaksa, aksi telpon-telponan jaksa dengan penjahat suap, korupsi, perpecahan suatu parpol dan lain sebagainya hal-hal yang negatif. Lengkaplah sudah nasibmu Indon..

            Itulah, justru kita semakin memperparah diri dengan perilaku negatif kita sendiri dan kemudian dicap oleh orang lain bahwa kita memang demikian dengan sebutan tertentu.. Orang Malaysia tidak menyebut Indon kepada para pujangga, penyair, sastrawan, pensyarah (dosen), guru, ilmuwan, ulama, peraih medali olimpiade (fisika, matematika, olah raga dan lain-lain) dan semua hal yang menunjukkan martabat baik. Untuk hal-hal yang positif dan menghormati, mereka akan menyebutkan dengan lengkap “Indonesia”. Dalam berbagai milispun tercermin demikian, mereka begitu hormat dengan sifat, perilaku dan kondisi positif orang Indonesia. Di sinilah berlaku bahwa penghormatan orang lain kepada diri kita adalah dimulai dengan menghormati diri kita sendiri.

            Konyolnya, kita tidak pernah menghormati diri kita sendiri. Justru bertindak semakin konyol dan memalukan dari hari ke hari. Itulah fakta Indon. Kita, ingin menghilangkan sebutan itu bukan dengan perilaku positif, tetapi dengan menawarkan sebutan lain. Di milis-milis, orang Indoensia lebih menyukai menyebut dirinya “Indo”, tapi tetap saja diolok-olok menjadi INDONesia oleh Malaysia. Ada juga yang menawarkan dengan meyebut INA. INA, sering kita lihat bila ada pertandingan bulu tangkis antara Indonesia dengan negara lain. Kaos pemain kita di punggungnya bertuliskan INA, begitu juga di layar TV. INA itu Indonesia. Kenapa bukan IND, ternyata ini untuk India. Tetapi, baru-baru ini ada yang menuliskan IDN (Indonesia), setidaknya pada pertandingan sepakbola persahabatan Indonesia-Malaysia baru-baru ini dimana di layar kaca tertulis IDN 1 – 1 MAS (artinya: skor Indonesia 1 dan Malaysia 1)

            Dulu dengan bangga kita menyebutkan diri INA. Kebanggaan INA didongkrak oleh prestasi bulu tangkis kita kala itu yang memang menjadi juara dunia. Bulu tangkis adalah milik INA. Akan tetapi, sekarang prestasi bulu tangkis kita semakin merosot dan tidak ada lagi kebanggaan terhadap INA. Justru sekarang INA telah berkonotasi negatif. Di Jakarta, sebutan INA diatributkan kepada mahasiswa yang suka menyontek,”ngepek”, tidak mau belajar giat tetapi menginginkan nilai ujian yang bagus, suka menjiplak karya tulis dan hal negatif lainnya. Itulah INA sekarang. Sampai-sampai, dalam suatu pemberitaan” mahasiswa yang berperilaku demikian dikatakan sebagai “bermental INA”.[]

 

Dimuat pada Kolom Bengkulu Ekspress, Jumat  20 Juni 2008kajalatra

7 Comments

Filed under Artikel Umum

7 responses to “INA itu Indon

  1. Nggak ada yang tersinggung… justru tulisan saya merupakan otokritik buat bangsa Indonesia. Perilaku kita akan menjadi cerminan sehingga kalau ada orang menyebutkan sesuatu kepada kita yang terkesan negatif maka ya jangan marah atau tersinggung..

  2. rriris monalisa zulnisyam

    mas,mas,mbok jangn tersinggung ya.kawan -kawan saya yang asal indonesia yang sudah lama tinggal di sini sudah ngerti kok.cuma yang baru sampai aja yang sensitif.tapi sekarang kerajaan kita sudah bilang di semua koran jangan tulis indon lagi di koran atau tv.kita ngerti kok orang indonesia tidak suka panggilan gitu.emang budaya kita lain.jadi cuba pengertian.suami saya pun sudah saya bilang jangan panggil lagi teman-temannya “tak pulang raya kat indon?dia sudah tukar ke” tak pulang raya WNI”?memang sukar untuk dia berubah lama-lama nanti biasa.

  3. rriris monalisa zulnisyam

    berubat dekat hospital mana?jadi-berubat kat hkl(dekat hospital kuala lumpur)

    datang naik apa?naik lrt(light rail transit)komute-(commuter)-kete(kereta/mobil)
    datang dengan siapa?ngan mat.( dengan mohamad)ngan minah(dengan aminah)

    sudah makan?lum(belum)/dah(sudah)

    ada dekat mana?jadi-ada kat ne?
    pergi bercuti kemana?gi cuti kat ne?gi indon.(pergi indonesia)

    pergi seronok tak(happy)?oii best..(seronok/happy)awek.. cun kat indon(gadis cantik di indonesia)

  4. rriris monalisa zulnisyam

    salam.mas -mbok jangan tersinggung ya.saya punya kawan yang asal indonesia yang tinggal dan kerja di sini sudah ngerti kok budaya orang malaysia itu memang dengarnya kasar tapi kasar itu di bahasanya bukan maksudnya.contohnya kalau pergi ke melaka jangan terkejut jika datang ke rumah mereka ,di tangga rumah mereka salamnya begini.”assalamualikum,jawab tuan rumah.walaikumussalam.oh ali.lama tak datang ke rumah ni.hidup lagi kau ya!!.aku ingatkan kau dah mati.!!.kita ingat bahasanya kasar sekali ya.tetapi itu tanda kedekatan yang amat sekali.sangat mesra .contoh yang lain.bila ketemu di mana-mana mereka akan menyapa ‘oii.ahmad celaka kau ,kepala otak kau,ingat aku bodoh.kau ingat aku nak mampus ke”? tak payah ajar aku.aku keturunan orang pandai!!ini menunjukkan mereka amat dekat sekali.jadi jangan terkejut perwatakan dan bunyinya kasar tetapi itu adalah kemesraan.

    lagipun orang malaysia bahasanya singkat-singkat dalam pergaulan harian
    contohnya.

    nak pergi ke mana?jadi- nak gi ana?
    kampung dekat mana?jadi- kampung kat ,KL(kuala lumpur) kB(khota baru) JB(johor baru)KT(kuala terengganu),kk(kota kinabalu).

  5. Suharyanto

    Ya, memang demikian. Kalau kita ingin dihargai orang lain maka kitalah yang seharusnya menghargai diri kita sendiri dulu. Lihat posting saya itu. Jadi biarpun Indoensia ingin mencari kata yang tepat buat dirinya tetapi perilaku kita jelek ya jelek juga konotasinya.

  6. hmm, bagiku, indon, indonesia, ina, tetaplah sama maknanya indonesia. Orang indonesia saja yang selalu ribut ribut mempermasalahkan malaysia, tapi gak pula mau bercermin diri. Indon menurutku pada awalnya emang berkonotasi baik, tapi akhirnya gak baik karena orang indonesia sendiri yang merasa gak suka di panggil indon. Bila sahabat sahabat sering atau punya teman berasal dari negeri jiran ini, pelajarilah pola bahasanya, mereka biasa menyingkat kata. Mereka jarang sekali menyebut Kuala Lumpur, tapi selalu menyebutnya sebagai ki-el (KL = Kuala Lumpur), atau ibu kota negeri kita ini mereka sebut sebagai Jeikete atau jeikiti (JKT=jakarta), ITB yang di sebut aitibi, sama saja mereka dalam bahasa gaul krn katanya panjang mereka sebut indon. tapi kita ini yang tersinggung, terutama org org indonesia yang merasa membuat kesalahan. Bila mereka menulis indonesia di hal yan positif karena itu sifatnya resmi, di pemberitaan, atau hal yang menyangkut pujian, itu sifatnya resmi menurutku. Indon, Ina, Indonesia menurutku artinya tetap sama, coba bandingkan bahasa slang kita kita org indonesia, malah lebih tidak santun dan sangat melecehkan, sampai artis aja kena batunya, gak ada ojek becek, atau ya iyalah, masa iyadong, mulan jamilah masa mulan jamidong, coba siapa yang salah? yah indon indon ini juga kan, bangsa kita sendiri, capek deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s