Semua Memang Sontoloyo

Oleh : Suharyanto

“Sontoloyo, angon bebek ilang loro”. Ini adalah ungkapan dari penggembala itik di Jawa. Seorang penggembala ini merasa kesal, geram dan mau marah tapi bagaimana. Sudah capek, kerja keras memelihara itik dan “mengangon”, eh malah hilang dua ekor. Ini jelas merugi! Sontoloyo memang, segala daya upaya telah dikerahkan untuk perbaikan ekonomi keluarga si Peternak Itik ternyata harus merugi, sontoloyo.
Perkataan “Sontoloyo” dulu pernah mengemuka di atmosfer politik Indonesia sehubungan ucapan pejabat publik terkait dengan kata-kata “sontoloyo”. Memang perkataan ini mengandung makna kesal, geram, dan bersifat umpatan. Oleh karenanya apabila ada orang “besar” atau “elit” mengucapkan kata ini dinilai kurang sopan. Apa lagi bila diarahkan pada seseorang atau sekelompok orang lain. Pasti menimbulkan ketersinggungan dari pihak lain tersebut. Lebih-lebih diucapkan di depan publik.
Baru-baru ini juga ada pejabat publik mengucapkan “sontoloyo”. Apakah pejabat tersebut sedang kesal dan geram sehingga harus mengumpat? Bisa jadi iya. Kesal dengan menteri sebagai pembantu presiden yang merangkap katua parpol yang bukan parpol presiden. Di depan presiden berkata “nggih” dengan kenaikan harga BBM, di belakang bicara “mboten kepanggih” alias lain di depan presiden lain pula di depan partai. Kira-kira begitu yang membuat kesal dan geram.
Pertanyaannya,siapakah yang sontoloyo? Tentu tidak ada yang mengaku. Oleh karenanya perlu ditelisik dengan makna “sontoloyo” dan penyebab yang menimbulkan seseorang menyebutkan “sontoloyo”. Ternyata perilaku yang mengesalkan, menjengkelkan dan membuat marahlah yang menyebabkan seseorang bias saja berkata “sontoloyo”. Jika memang demikian maka mari kita simak perilaku apa saja yang bias membuat kesal, jengkel dan geram seseorang.
Belakangan ini sedang hangat berita tentang penyuapan jaksa. Jaksa disuap dan minta disuap untuk menghilangkan suatu perkara besar, apa lagi perkara korupsi. Ini pastilah sontoloyo. Lebih menggeramkan lagi ketika terkuak ”telpon-telponan” antara jaksa dengan penyuap yang begitu akrab dan melecehkan hukum. Huh, sontoloyo banget bukan?Sudah jelas sontoloyo begitu, eh masih juga belum mengaku karena belum cukup bukti. Apanya yang belum cukup bukti, bukankah rekaman telepon sudah menjadi bukti yang terang dan jelas? Sontoloyo, memang.
Ada lagi, anggota DPR marah karena merasa tersindir lagunya Slank. Baru saja mau protes, tertangkaplah seorang anggota DPR sedang menerima suap, sontoloyo bukan?. Sudah begini, masih juga belum kapok alias jera. Masih juga anggota DPR yang lain lagi tertangkap sedang menerima suap lagi, sontoloyo! Jangan-jangan kebanyakan anggota DPR juga sontoloyo.
Begitulah, bukan hanya menteri kabinet yang dikatakan sontoloyo, tetapi jajaran elit di negeri ini banyak yang sontoloyo. Memang, semua sontoloyo! []

Dimuat pada kolom Harian Bengkulu Ekspress, Jumat 4 Juli 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s