Mencuri Kayu Hutan

(Gambar: http://savetheorangutan.org)

Oleh: Suharyanto

Dulu, ketika masih kanak-kanak saya sering mendengar kisah atau dongeng tentang seorang yang sering mencari kayu di hutan. Biasanya, dalam cerita tersebut, tukang cari kayu adalah nenek-nenek. Nenek-nenek hidup sebatang kara dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maka bekerjalah mencari kayu bakar. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yaitu untuk kayu bakar, nenek tersebut dapat menjual kayu (tepatnya adalah ranting-ranting kering dari hutan) untuk keperluan sehari-hari lainnya.

Sang nenek mencari kayu secukupnya tanpa berlebihan. Bahkan kadang-kadang dalam suatu cerita, entah dibumbu-bumbui atau tidak, sebenarnya sang nenek adalah orang sakti yang disuruh menjaga hutan agar tidak sembarangan orang memasukinya, apa lagi dengan tujuan merusak isinya.

Ada juga cerita atau kisah yang menggambarkan adanya penunggu suatu hutan atau perbukitan sehingga tidak sembarangan orang bisa memasukinya. Lebih-lebih bila orangtersebut berniat jahat terhadap isi hutan. Pastilah orang tersebut terkena hukuman. Oleh karenanya tidak ada orang yang berani sembarangan memasuki suatu wilayah hutan atau bukit. Akhirnya wilayah tersebut menjadi “wilayah angker”.

Begitulah, cerita-cerita yang sering didengar atau dibaca pada buku-buku cerita anak-anak. Buku yang memberikan pemahaman dasar mengenai bagaimana berinteraksi dengan alam sekitar tanpa harus merugikannya.

Berhubung alam pikiran masyarakat ketika itu belum tumbuh sebagai alam pikiran yang “ilmiah” maka bentuk-bentuk interaksi dengan alam dikemas dalam sebuah kepercayaan tentang keangkeran suatu wilayah. Hal-hal yang demikian ini kemudian digali dan dijadikan sebagai rujukan tradisional masyarakat. Ketika berkembang alam pikiran manusia menjadi “ilmiah” maka dengan senajata sok “ilmiah” ini manusia mencoba membuktikan bahwa tidak ada wilayah angker di hutan tersebut. Akhirnya, atas nama ilmu pengetahuan dan teknologi manusia menjamah dan memperkosa hutan angker dan orang “ilmiah” ini tidak mendapatkan hukuman dari penunggu hutan angker. Kesimpulannya, penunggu hutan angker telah kalah telak dengan iptek.

Belakangan ini, ketika manusia sudah demikian kerasukan dan keranjingan akan nilai-nilai keserakahan, kembali dengan senjata iptek untuk dan atas nama pembangunan, manusia menggorok habis-habisan hutan dan seisi-isinya. Perilaku ini justru dilakukan oleh orang yang sangat mengerti arti pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup manusia. Manusia pembangunan sudah lupa kearifan nenek moyangnya. Kearifan yang oleh ilmuwan disebut sebagai kearifan lokal.

Kearifan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah tradisi dan kepercayaan masyarakat kini punah. Kearifan yang oleh orang moderen difahami sebagai takhayul dalam bentuk hutan/pohon angker berubah menjadi illegal logging. Yah, keren sekali menyebut dan mendengarkan istilah illegal logging. Kemudian tumbuh juga istilah illegal fishing dan lain-sebagainya. Semuanya menggambarkan perampokan, tetapi tidak terasa kalau pelakunya merampok karena dibungkus dengan istilah bagus “illegal logging”. Maka wajar karena merasa tidak merampok, berkubik-kubik kayu hutan dilindungi menumpuk di rumah seorang pembesar. Seharusnya kita sebut saja “Mencuri Kayu Hutan”.[]

Bengkulu Ekspress, Sabtu 12 Juli 2008

2 Comments

Filed under Artikel Umum

2 responses to “Mencuri Kayu Hutan

  1. He he he he.. enalum ewag aguj oyok uka ol.

  2. tuanputrie

    ayag nanet is..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s