Industri Pendidikan

(Gambar: http://trustcosurabaya.com)

Oleh: Suharyanto

Antara bulan Mei hingga Agustus merupakan bulan yang mendenyutkan jantung para orang tua dan anak-anaknya yang sedang sekolah. Pada bulan-bulan tersebut terjadi beberapa tahap penentuan dalam kelanjutan jenjang pendidikan anak sekolah. Mulai dari Ujian Nasional yang menentukan kelulusan siswa, ujian masuk perguruan tinggi (SPMB, SNMPTN, dan lain sebagainya) yang juga menentukan keberlanjutan jenjang pendidikan. Selain itu untuk tingkat sekolah menengah, terdapat pula Penerimaan Murid Baru (PMB). Justru ini terlihat begitu heboh, karena para orang tua menjadi sibuk memantau perkembangan rangking si anak apakah masih dalam rangking aman atau “degradasi” sehingga mencari sekolah lainnya.


Hiruk pikuk memang. Tak jarang malah merupakan sport jantung tersendiri baik bagi anak-anak sekolah maupun para orang tuanya. Hal ini karena kita (anak sekolah dan orang tuanya) betul-betul sport jantung menunggu hasil ujian anaknya. Tak heran bila ada pakar pendidikan mengatakan bahwa pendidikan kita menggunakan manajemen sport jantung. Anak sekolah betul-betul dag dig dug dibuatnya, apa lagi ujiannya dikawal polisi, semakin jadi saja dag dig dug-nya.
Mengapa bisa seperti ini? Mengapa dag dig dug? Bukankah anak-anak sekolah sudah disiapkan dengan kurikulum berbasis kompetensi? Bahkan anak didik sudah ikut les, bimbingan belajar dan lain-lainnya sampai-sampai lupa waktu dan sosialisasi dengan lingkungan terdekatnya? Bahkan bisa dikatakan ”proses dan sistem pendidikan kita telah merampas sebagian hak anak-anak sekolah terhadap lingkungan sosial dan alamnya”. Tapi masih saja pihak sekolah, anak sekolah, orang tua ketakutan dan ini tercermin dari adanya perilaku curang oknum guru untuk ”membantu” muridnya. Apakah ini suatu tindakan semata-mata oleh oknum guru?
Jika dirunut jauh ke hulunya, sepertinya ada yang tidak tepat dari dunia pendidikan kita. Kita bisa simak sekarang ini pendidikan tak ubahnya sebuah industri. Industri yang menghasilnya ”sumberdaya manusia”. Karena sebuah industri maka in put, proses, out put dan indikatornya mengikuti kaidah-kaidah industri (ekonomi). Makna pendidikan yang luhur direduksi menjadi sekadar proses industri (ekonomi) yang menghasilkan barang dan jasa. Ini tercercermin dari beberapa istilah dalam dunia pendidikan. Guru, misalnya. Sekarang istilah guru menjadi sekadar tenaga pendidik, staf edukasi, tenaga pengajar. Jadi, guru menjadi sekedar tenaga kerja atau sebagai staf. Yaitu tenaga kerja yang menghasilnya barang dan jasa dalam sebuah indutri. Padahal dalam makna asalnya, guru jauh lebih luhur artinya. Guru memiliki arti berdimensi spiritual, kepemimpinan, pembimbingan, pengajaran, pengujian, dan keteladanan. Demikian juga dengan istilah murid dan siswa berubah menjadi sekedar peserta didik yang bermakna layaknya peserta kursus yang membayar sejumlah uang, dapat ilmu, selesai.
Tak heran bila kemudian dunia pendidikan bernuansa industri (ekonomi) yang tercermin dari beberapa istilah ekonomi isndutri yang dipakai seperti istilah ”sumberdaya”, ”kompetensi”, ”tenaga”, ”staf”. Dan ini menurun pada perilaku guru dan dosen yang lebih bertindak sebagai semata-mata tenaga kerja menghasilkan barang dan jasa bernama ”sumberdaya manusia” (”robot”). Demikian itulah industri baru kita, industri pendidikan.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 18 Juli 2008

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s