Mengenakan Baju Baru

 Oleh: Suharyanto

 

           

Baju baru, siapa yang tidak menginginkannya. Biasanya anak-anak merasa senang menjelang hari raya karena salah satunya akan mendapatkan baju baru. Apa lagi anak-anak orang miskin yang hanya bisa membeli baju setahun sekali ketika hari raya. Selain bajunya baru, biasanya juga dengan mode dan model yang baru juga. Mode dan model juga bermacam-macam sehingga bebas memilih sesuai dengan selera. Bagi siapa saja yang mengenakan baju baru biasanya juga akan menambah kepercayaan diri.  Maka wajar saja bila ada yang begitu gembira dengan baju barunya, tak terkecuali orang dewasa walaupun kadar kesenangannya berbeda dibandingkan anak-anak.

 

            Dalam filosofi tradisional, baju – yang merupakan salah satu dari busana – bisa menjadi cermin kepribadian dan harga diri orang yang mengenakannya. Mungkin karena inilah maka orang tidak segan-segan untuk membelanjakan uangnya demi baju (busana). Bahkan bila kita perhatikan orang elit kita, apa itu orang elit yang bergerak di dunia seni (baca: artis), elit politik, elit budaya dan sebagainya. Orang-orang elit ini bisa sampai membelanjakan uangnya untuk baju dengan harga yang sungguh spektakuler di luar nalar bagi orang-orang kebanyakan. Mungkin sah-sah saja karena memang mampu secara finansial, apa pedulinya orang melarang?

            Tentu saja yang menjadi pertimbangan bukan hal mampu atau tidak membelinya, tetapi lebih pada rasa etis atau tidak bila di tengah-tengah kehidupan masyarakat mayoritas yang melarat, tetapi sebagian kecil kita mengenakan pakaian yang bermewah-mewah. Kondisi yang seperti ini memang sangat menggejala di masyarakat Indonesia ”modern”. Bukan hanya sebatas baju yang mencolok, tapi dalam hal-hal lainnya pada aspek kehidupan orang elit.

            Baju juga menjadi simbol kelas, golongan dan identitas. Kita bisa menilai seseorang termasuk kelas sosial apa dengan melihat baju yang dikenakannya. Kita bisa juga mengelompokkan orang menjadi golongan apa dengan melihat baju yang sering dikenakannya. Bisa juga menilai seseorang dengan identitas tertentu dengan menilai baju yang dikenakannya. Baju loreng hijau daun identik dengan baju militer, baju batik (dulu) identik dengan aktivitas formal dan juga untuk ’kondangan” meskipun kini mulai bergeser bahwa batik banyak digunakan untuk pakaian yang bersifat ”casual”.  Kita juga telah ditanamkan sejak kecil bila ada orang mengenakan baju kaos belang-belang strip melintang biasanya hitam strip putih berselang-seling maka orang tersebut adalah penjahat. Dulu dalam film boneka Si Unyil, gambaran oranag jahatnya juga mengenakan kaos belang-belang.

            Sayangnya sekarang mulai berubah, penjahat malah mengenakan baju rapi, batik, putih pakai dasi lagi dan malah kadang-kadang mengenakan kopiah putih (sesuatu yang tidak pernah dipakainya bila tidak sedang tersandung kasus hukum). Para penjahat (koruptor, tukang suap, pembunuh, narkoba) dengan penuh percaya diri tampil di persidangan dan di depan infotainmen dengan mengenakan busana ”keren”, malah ada juga yang justru menjadi ”selebritis” gara-gara jadi pesakitan hukum karena penampilannya keren dan sering muncul di layar kaca dan dengan fasihnya cas cis cus tanpa rasa bersalah. Makanya sudah sewajarnya orang-orang kelompok ini diberi seragam baru sebagaimana yang tengah diwacanakan. Baju bertuliskan ”Koruptor”.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 15 Agustus 2008

2 Comments

Filed under Artikel Umum

2 responses to “Mengenakan Baju Baru

  1. Ya, semestinya begitu. Dan baju yang palin baik adalah TAKWA.

  2. ygn terpenting fungsi baju dapat memulyakan pemakainya

    http://sumenepku.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s