Lifestyle and Mall

 

Oleh : Suharyanto

 

            Setelah hadir dua buah Mall di Kota Bengkulu, nuansa daerah ini menjadi agak berbeda. Sekarang, khususnya anak-anak muda dan kaum pencinta Mall, sudah bisa berbincang mengenai pengalaman mereka “bermain-main” di Mall. Bagi beberapa kalangan amsyarakat, kehadiran Mall menjadi benar-benar bergengsi terutama menyangkut dengan gaya hidup. Bagi sebagian yang lainnya, barangkali kehadiran Mall ini juga menjadi nuansa tersendiri, setidaknya Mall dianggap “makhluk asing” yang perlu dikenali. Tak heran pada awal pembukaan, beragam cerita dan kisah seputar pengalaman mereka bersentuhan dengan Mall sangat lucu dan menggelitik. Ada yang takut menginjak tangga berjalan, ada yang sudah berani naik tetapi takut turun melalui tangga berjalan, ada yang iseng-iseng bermain-main di tangga berjalan dan lain sebagainya. Dan tentu saja, semua itu bisa dimaklumi.

            Bagi sebagian kelompok masyarakat lagi, terutama perantauan dari daerah atau kota-kota besar seperti Jakarta, mahasiswa asal Jabodetabek misalnya, menganggap Mall bisa menjadi tempat pelepasan rindu akan daerah asalnya yang bergelimang Mall. Bagi sebagian masyarakat lain juga demikian baik untuk berniaga atau berbelanja/rekreasi. Tak heran, sekarang ini Bengkulu, terutama dilihat di tempat parkir Mall, banyak sekali kendaraan dengan nomor polisi luar daerah, terutama sekali B, D, BG dan BE. Mungkin ini sesuatu yang positif tetapi bisa jadi sesuatu yang negatif, tergantung cara memandangnya.

            Belakangan ini mulai muncul kecenderungan bahwa Mall menjadi tempat “tongkrongan” baru bagi anak-anak berseragam sekolah pada jam pelajaran. Mereka duduk-duduk bergerombol di sudut-sudut Mall atau ruko yang belum diisi. Ada juga yang duduk-duduk di lantai lapang salah satu area di dalam Mall. Positif atau negatifkah pemandangan seperti ini? Jika negatif, sepertinya perlu ada regulasi bagi segmen berseragam sekolah ini.

            Satu hal lagi, gaya hidup. Ya, Mall pasti akan menawarkan berbagai gaya hidup “wah”. Menggandrungi Mall itu sendiri sudah menjadi gaya hidup, apatah lagi mengikuti “tawaran-tawaran” di dalam Mall itu sendiri. Setidaknya, ada kekhawatiran mengenai gaya hidup ini adalah gaya hidup yang hedonis dan konsumtif serta rekreatif yang over dosis. Yah, untuk yang ini kiranya perlu juga antisipasi dari segala lini.

            Ada juga sebagian kalangan menilai kehadiran Mall di Bengkulu belum layak. Apa lagi dikait-kaitkan degan kemajuan. Orang seperti ini menampik Mall sebagai indikator kamajuan suatu daerah. Malah mengkhuatirkan adanya Mall akan menggusur ekonomi kelas menengah ke bawah. Tentu saja ini pendapat yang saya kira sah juga, hanya saja sekarang perlu juga diantisipasi regulasi yang mengatur tentang hal ini. Jangan sampai kehadiran Mall malah mematikan usaha kecil dan menengah di kota ini.

            Last but not least, terkait dengan gaya hidup ini, sepertinya ada hal yang “mungkin” positif. Yaitu kehadiran toko buku besar di salah satu Mall kita. Dengan hadirnya toko buku ini mudah-mudahan membawa masyarakat pada gaya hidup mencintai buku dan membaca buku. Buku merupakan jendela dunia dan salah satu sumber ilmu, jadi dengan memiliki gaya hidup gandrung buku masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang berpengetahuan.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 22 Agustus 2008

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s