Buku dan Lingkungan


Oleh Suharyanto

Buku dipercaya sebagai salah satu sumber ilmu penting bagi manusia. Karena begitu pentingnya maka semua negara, semua tokoh, semua pemimpin, semua kelompok menganjurkan kelompok, anggota dan warganya untuk membaca buku. Bahkan ada yang mewajibkan, misalnya sekolah. Sebagai sumber ilmu buku akan memberikan informasi penting bagi manusia dan kemanusiaan. Buku akan memberikan pemahaman, pencerdasan, sumber inspirasi dan pencerahan.

Buku dianggap ampuh untuk menyebarkan pengetahuan, ideologi, ilmu, teknologi dan lain sebagainya. Karena sebagai sumber ilmu inilah maka banyak negara yang membelanjakan anggarannya untuk buku demi warganya. Ada yang memberikan subsidi bagi pendidikan melalui buku, ada yang mencetak buku paket untuk warganya, ada yang membeli hak cipta penerbit sehingga buku diproduksi oleh pemerintah dan harganya menjadi murah. Bahkan ada negara yang mencetak buku elektronik untuk warga sekolahnya. Betapa pentingnya buku bahkan ada yang mengukur kemajuan suatu bangsa dengan indikator berapa banyak buku yang dibaca oleh warganya. Semakin banyak buku yang dibaca oleh warganya maka semakin maju suatu negara tersebut.

Hal menarik adalah Indonesia. Tiap tahun sekolah-sekolah dasar dan menengah pasti meributkan soal buku. Setiap tahun ajaran pasti ada saja berita yang terkait dengan buku. Beritanya bukan berita menggembirakan, tetapi sebaliknya. Banyak cerita para orang tua dan wali murid yang merasa keberatan dengan harga buku yang begitu mahal. Ada sekolah yang bermain-main dengan ”menjual” buku pelajaran. Ada oknum guru yang juga ”berjualan” buku. Lucunya lagi ada cerita buku-buku tersebut tidak bisa digunakan oleh adik kelasnya. Dengan kata lain tiap tahun siswa harus membeli buku baru, tidak bisa menggunakan buku dari kakak kelasnya walau kondisi bukunya masih sangat layak. Jika demikian maka tiap tahun dicetak buku-buku baru dengan isi yang tidak berubah.

Lantas apa hubungannya buku-buku tersebut dengan lingkungan sebagaimana dalam judul di atas? Kita tahun bahwa buku dibuat dari bahan baku kertas. Kita juga tahu bahwa kertas dibuat dari apa. Dari kayu. Lantas dari mana datangnya kayu tersebut? Kayu tersebut diperoleh dari perusahaan perkebunan kayu untuk kertas (akasia, misalnya). Bagaimana membuat perkebunan kayu itu? Nah, dari sini bisa ditelusuri hubungannya dengan lingkungan.

Bila tiap tahun dicetak buku-buku baru maka tiap tahun dibutuhkan berapa banyak kayu dan berapa luas hutan digunduli untuk itu. Konskuensi penggundulan hutan jelas sekali; menurunkan kualitas lingkungan. Jadi, sangatlah ironi jika kita terlalu jor-joran terhadap kertas (buku). Selagi bisa dihemat kenapa harus boros? Selagi buku bisa digunakan hingga beberapa tahun mengapa harus membeli baru, mengapa mencetak ulang? Nah, dari sini mungkin dibutuhkan pemikiran yang lebih mendalam tentang bagaimana mengefisienkan penggunakan kertas untuk buku. Pola pikir kita sudah harus dirombak bahwa pencetakan buku tanpa kendali dapat merusak lingkungan. Jangan kita dipolakan oleh corak berpikir industrial kapitalistik yang hanya mengejar keuntungan material. Oleh karenanya diperlukan kearifan. Gunakan buku pelajaran hingga beberapa kali bisa digunakan. Buku cetak bukan barang sekali pakai!.

Bengkulu Ekspress, Jumat 29 Agustus 2008

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s