Kecenderungan Baru Politik

Oleh: Suharyanto

Ada fenomena menarik pada pilkada-pilkada belakangan ini dan pemilu 2009. Selain masa kampanye (untuk pemilu 2009) yang jauh lebih panjang dari masa kampanye pemilu-pemilu sebelumnya, peserta pemilu kali ini juga diikuti oleh banyak parpol plus. Parpol plus di sini adalah adanya parpol lokal di NAD. Selain itu juga terjadi penambahan jumlah parpol dari yang diumumkan sebelumnya, yaitu parpol-parpol yang menang gugatannya di pengadilan; konskuensinya memaksa KPU meloloskan parpol tersebut menjadi peserta pemilu tahun 2009. Akhirnya bertambahlah jumlah parpolnya dengan nomor urut parpol mengikuti selanjutnya.

Hal menarik lagi adalah adanya perubahan minat parpol tertentu yang ingin menetapkan kemenangan caleg-nya adalah berdasarkan suara terbanyak pemilihnya walaupun aturan formal memakai sistem nomor urut caleg. Maka kemudian banyaklah modifikasi-modifikasi internal parpol, disamping adanya pro dan kontra dengan sistem tersebut antar parpol. Tapi tidaklah menjadi masalah utama, justru melahirkan dialketika-dialektika menarik yang suatu saat pasti akan menuju pada suatu pilihan terbaik untuk dijadikan sistem.

Dari sisi pilkada, fenomena yang menarik adalah adanya kerusuhan antar pendukung calon. Kejadian ini menciderai proses demokrasi yang sudah disepakati untuk damai (setiap pilkada pasti semua kandidat mendeklarasikan hal demikian). Kerusuhan terjadi karena ada salah satu pihak yang tidak puas dengan hasil pilkada. Maka lahirlah kerusuhan.

Sekarang ini ada kecenderungan untuk menjadikan pilkada sebagai ajang pertarungan lembaga-lembaga survei yang mengikuti jajak pendapat sekaligus hitung cepat (quick count) hasil pilkada. Berbagai lembaga survei berpartisipasi untuk memberikan informasi paling cepat dan akurat atas hasil hitungan cepatnya kepada publik. Bisa jadi suatu pilkada diperloleh hasil yang sama dari semua lembaga survei yang ”bertarung” namun bisa juga hasilnya berbeda dalam arti bertentangan si pemenangnya (baca: pilkada sumsel). Jika hasil hitungan para lembara survei bertentangan maka dampaknya bisa menimbulkan kerusuhan, atau bila hasilnya berbeda tipis atar kandidat kepala daerah.

Fenomena politik ini juga begitu kenyalnya sehingga sukar dihitung dengan matematika. Dalam politik, yang dahulunya lawan bisa berbalik menjadi kawan. Yang semula bersaudara bisa bersaing dalam pemilihan. Contoh menariknya adalah seperti pada partai Gerindra yang di dalamnya ada Prabowo Subianto, ternyata di dalamnya juga ada Pius Lustrilanang. Keduanya padahal diamati sebagai ”musuh” dalam kasus penculikan aktivis tahun 1997 dimana Pius sebagai salah seorang yang menjadi korban penculikan. Pada pilkada sumsel, dua orang bersaudara, Tantowi Yahya dan Helmi Yahya,memilih saling berseberangan dimana Tantowi mendukung lawannya Helmi. Unik, memang.

Yang cukup menarik juga adalah adanya idolisasi politisi dan politisasi para idola. Banyak artis yang terjun ke dunia politik dan banyak politisi menggunakan cara pencitraan bagaikan seorang pesohor (artis). Politisi gencar mengiklankan dirinya persis seperti seorang bintang iklan. Mungkin cara ini dianggap ampuh untuk meningkatkan popularitas seseorang. Hal ini sudah terbukti dimana banyak kaum pesohor yang lolos menjadi pimpinan suatu daerah. Ini dianggap sebagai berkah kepesohorannya. Karena itu, sekarang banyak politisi yang berperilaku laksana calon idol yang mengikuti kontes idol. Mereka menyemai pesan untuk mengirim sms sebanyak-banyaknya, mengumbar senyum seluas-luasnya dan menebar pesona sebesar-besarnya. Mereka sedang mengalami pergerakan horizontal dari selebritas politik ke selebritas artis.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 19 September 2008

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s