THR

Oleh : Suharyanto

Semua sudah mahfum bahwa setiap mendekati hari raya, khususnya Idul Fitri, kita masyarakat Indonesia terbiasa dengan adanya Tunjangan Hari Raya (THR). THR umumnya diberikan dalam bentuk uang tunai. Tetapi ada juga yang memberikannya dalam bentuk lain,umpamanya bingkisan, sembako, bahan-bahan untuk membuat kue dan lain-lain. Biasanya yang mendapatkan THR adalah pegawai negeri, karyawan swasta atau karyawan proyek.

Tidak ada THR buat petani, pengusaha kecil atau kaum marjinal lainnya. Mereka tetap mendapatkan tunjangan ya seperti yang mereka dapat setiap harinya. Tidak ada tambahan khusus menjelang hari raya kecuali oleh adanya nasib baik disantuni orang dermawan. Jika tidak ada, praktis “THR-nya” hanya berupa zakat fitrah. Dan sesekali zakat mal seorang kaya raya yang baik hati. Itupun terkadang masih harus berjuang untuk mendapatkan kedermawanan itu. Berjuang antri, berdesak-desakan, saling berebut dulu karena takut tidak kebagian dan lain sebagainya. Bahkan nyawa menjadi taruhan demi mendapatkan beberapa ribu rupiah. Itulah THR mereka.

Berbeda dengan kelompok masyarakat yang agak beruntung. Mereka selain mendapat penghasilan tetap, juga mendapatkan apa yang dinamakan THR dalam arti yang sesungguhnya. Uang cuma-cuma dalam rangka menghormati hari raya. Uang yang diperoleh sebagai bentuk “penghargaan” kepada karyawan/pegawai yang diwujudkan dalam bentuk THR. Tak heran bila kemudian THR disebut sebagai “penghargaan” yang sama rata karena tidak memilah prestasi karyawan/pegawainya. Besar-kecilnya THR tidak didasarkan pada prestasi atau kinerja karyawan/pegawai, tetapi dilihat dari posisi/kedudukannya.

Pemberian THR kepada karyawan/pegawai diaharapkan akan memacu kinerja mereka selepas hari raya. Namun kenyataannya, THR menjadi rutinitas tak ubahnya gaji bulanan. Hanya saja ini diberikan setiap tahun. Karena sudah menjadi rutinitas sehingga terasa janggal apa bila menjelang hari raya tidak ada THR. Bahkan THR ini dijadikan tolok ukur kebaikan pimpinan terhadap pegawainya. Karena demikian melekatnya dengan penilaian tersebut, tak heran bila kemudian THR selalu diada-adakan. Padahal THR tidak pernah masuk dalam anggaran suatu institusi. Tidak juga ada dasar hukum yang secara eksplisit menunjukkan hal tersebut. Paling-paling orang berlandaskan pada kaidah peningkatan kesejahteraan pegawai yang kemudian muncul di anggaran tahun berikutnya..

Karena THR sudah menjadi tradisi dan harus ada, maka tidak heran bila kemudian muncullah mata anggaran THR yang diformulasikan untuk kesejateraan pegawai/karyawan. Tidak ada yang salah, bahkan menjadi kewajiban bila kesejahteraan pegawai diperhatikan. Persoalannya kemudian adalah bahwa apabila “peningkatan kesejahteraan” tersebut dipaksakan. Bahkan istilah “kesejahteraan” tersebut berubah menjadi harga diri dan gengsi pimpinan. Harga diri dan gengsi pimpinan akan runtuh bila tidak memberikan THR. Inilah yang kemudian berkembang. Bagi pegawai/karyawan ya senang-senang saja mendapatkan THR. Yang perlu dimulai adalah bahwa THR harus difahami apa adanya, bukan yang diada-adakan. Selamat Hari Raya.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 26 September 2008.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s