Dari Angka Nol

Oleh: Suharyanto

Suatu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang perminyakan, akhir-akhir ini, mengiklankan keharusan dalam mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU harus dimulai dari angka nol. Iklan ini memperlihatkan bahwa barangkali selama ini sebelumnya banyak SPBU yang petugasnya tidak melakukan pengisian dengan dimulai dari angka nol. Memang demikianlah kenyataan yang pernah saya alami. Mengisi BBM dengan penunjuk liter dan harga menyambungkan dari orang sebelumnya. Praktik ini sudah demikian menggejala dan “lumrah”. Biasanya konsumen tidak berani atau malas untuk komplain akan hal tersebut.

Sekarang, mungkin setelah ada evaluasi dan reformasi, BUMN tersebut mengiklankan bahwa mengisi BBM di SPBU harus dimulai dari angka nol, baik penunjuk liter maupun harga. Memang, akhir-akhir ini ketika saya mengisi BBM di SPBU maka petugasnya mengatakan “dimulai dari angka nol, ya Pak”. Namun petugas yang mengatakan “dimulai dari angka nol” itu tidak berlangsung lama meskipun penunjuk liter dan harga sudah dari angka nol. Tidaklah mengapa tidak ada perkataan “dari angka nol” asalkan penunjuk liter dan harga dimulai dari angka nol. Yang dibutuhkan konsumen adalah adanya ketepatan volume pengisian dan harga sesuai dengan yang sebenarnya.

Rupanya iklan tersebut gencar dan terus berlanjut. Di bulan puasa yang baru lalu, iklan yang ditampilkan cukup menarik, tentu saja dengan tema ibadah puasa maklum, politisipun memanfaatkan bulan puasa untuk kampanye apatah lagi suatu perusahaan. Iklan tersebut menampilkan seseorang yang sedang mengisi BBM di SPBU dan sambil menelepon, kemudian ditegur oleh petugas pengisi BBM agar mematikan HP-nya sambil menunjukkan bahwa pengisian dimulai dari angka nol sambil menunjuk ke arah penera liter dan harga. Rupanya si Bapak tersebut kesal hingga saat itu tiba waktunya berbuka puasa. Lantas si petugas pengisi BBM mempersilahkan si Bapak berbuka. Berhubung masih kesal maka dengan nada marah si bapak berkata “Ah, tidak usah!”.

Seri selanjutnya iklan tersebut menampilkan saat lebaran. Si Bapak yang sebelumnya mengisi BBM di bulan puasa itu kembali mengisi di SPBU yang sama. Kembali petugas pengisi mengatakan “dimulai dari angka nol”, lalu si bapak tersentak teringat bahwa dia pernah keasl dengan si petugas, akhirnya si Bapak keluar dan memohon maaf (karena kebetulan sedang lebaran) seraya berkata “dimulai dari nol lagi”. Maksud si bapak ini bukanlah penunjuk liter dan harga yang dimulai dari nol, melainkan sudah tidak merasa bersalah karena telah meminta maaf dan dimaafkan. Jadi sudah dianggap putih bersih, mulai dari nol lagi. Inilah yang sering kita rasakan dalam idul fitri. Seakan-akan, yang terbayang oleh kita bahwa idul fitri telah melebur dosa-dosa kita dan kita seperti baru dilahirkan dalam keadaan suci kembali.

Memang demikianlah bahwa Idul Fitri merupakan momen salin bermaaf-maafan, bersilaturahmi dan mempererat rasa kekeluargaan walaupun meminta dan memberi maaf tidaklah harus pada Idul Fitri saja. Momen yang baik ini hendaknya dijadikan media bagi kita semua untuk berintrospeksi tentang kesalahan, kekeliruan, kekhilafan dan lain sebagainya untuk kemudian meminta maaf kepada pihak yang dirugikan dan memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa untuk kemudian tidak akan mengulanginya lagi.

Lantas bagaimana dengan kesalahan berat seperti koruptor? Para cendekia agama mengatakan bahwa kesalahan (dosa) sosial dan berat urusannya tidak selesai hanya dengan meminta maaf. Masih ada urusan yang harus dipertanggungjawabkan. Jadi tidak bisa dengan “mohon maaf lahir dan batin” lantas menjadi nol lagi. Yang bisa seperti itu, kata para cendekia agama, hanyalah dosa-dosa kecil dan bersifat antar pribadi dan kepada Tuhan saja. Bukan kesalahan (dosa) yang berdimensi luas pada aspek sosial kemasyarakatan, kenegaraan dan kemanusiaan. Jadi yang bisa dimulai dari nol hanyalah kesalahan antar sesama yang bersifat pribadi-pribadi. Dari sini maka cukup memohon maaf lahir dan batin. Kita mulai dari nol lagi dan selamat merayakan Idul Fitri 1429 H.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 10 Oktober 2008

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s