Naik Haji Lagi

Oleh : Suharyanto

 

          Tidak terasa memang, setahun seudah kita melewati haji tahu lalu. Kini sudah mulai memasuki musim haji lagi. Siapa orangnya yang tidak menginginkan menunaikan ibadah Haji? Setiap individu muslim pasti menginginkan dirinya bisa menunaikan rukun Islam yang kelima tersebut. Sayangnya syarat menunaikan idabah ini relative berat dari peryaratan ekonomi. Wajar, hanya beberapa orang saja dari kalangan umat Islam yang mampu menunaikannya.

          Meskipun berbiaya mahal, jemaah haji Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sepertinya tidak ada krisis finansial. Sesuatu yang patut disyukuri bahwa saudara-saudara kita masih diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ini. Kita yang belum sempat hanya turut mendoakan semoga saudara kita yang mampu menunaikannya akan menjadi Haji Mabrur. Dan kita akan segera menyusul menunaikannya di masa-masa mendatang apabila diberi rezeki dari Allah.

          Ibadah Haji bisa dikatakan puncak dari segenap rukun Islam. Dalam menunaikan ibadah Haji seseorang dituntut memiliki kemampuan yang memadai, yaitu financial, fisik, mental dan jiwa. Berbeda dengan jenis ibadah yang lain yang bisa dilakukan tanpa ada persyaratan “kemampuan” tersebut. Mengingat pentingnya ibadah Haji, tak heran berbagai kupasan tentang Haji dan makna dibaliknya dikupas dalam berbagai buku.

          Suatu kegembiraan bagi kita ternyata secara kuantitas jumlah jemaah Haji kita meningkat. Sayangnya ini belum mencerminkan dampak positif dari peningkatan jemaah haji kita. Peningkatan kesalehan pribadi yang kuantitif ini belum menyertakan peningkatan kesalehan sosial. Ini bisa dilihat dari penyelewengan oleh penyelenggara nagara dari semua tingkat dan lini yang justru dilakukan oleh orang yang notabene sering beribadah haji.

Ketika berhaji, jemaah telah melakukan pelemparan batu sebagai simbol melempari iblis angkara murka, maka ketika kembali di tanah air hendaknya mampu melempari iblis-iblis yang bercokol dalam sendi-sendi kehidupan nasional kita. Ketika berhaji, jemaah melakukan lari-lari kecil dari satu bukit (Safa) ke bukit lainnya (Marwa) untuk mencari air kehidupan dan diperolehnya, hendaknya ketika kembali di tanah air mampu memancarkan kebaikan dan kebenaran tanpa kenal lelah. Inilah yang akan menyelaraskan peningkatan jumlah jemaah haji dengan penurunan tingkat penyimpangan sosial-politik bangsa Indonesia. Malah terkadang sedang “ngetren” bagi mereka yang sedang tersandung hokum lalu menunaikan ibadah haji!

Barangkali karena itulah maka salah seorang penyair Persia, Nasher Khosrow, mengatakan ”Wahai Sahabat! Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji!// Sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah!// Memang engkau telah pergi ke Mekah untuk mengunjungi Ka’bah!; Memang engkau telah menghamburkan uang untuk membeli kerasnya padang pasir!// Jika engkau berniat akan menunaikan ibadah haji sekali lagi, Berbuatlah seperti yang telah aku ajarkan!”. Khosrow bukanlah sedang mengajarkan ajaran baru tentang Haji, melainkan bagaimana memaknai ibadah haji dan implikasinya dalam kehidupan.[]

 

Bengkulu Ekspress, 14 November 2008

3 Comments

Filed under Artikel Umum

3 responses to “Naik Haji Lagi

  1. kapan ya, saya bisa naik haji ???

    haji merupakan panggilan,
    jadi yang belum haji berartibelum di panggil

  2. To Herman:
    Wah, terimakasih banyak. Sepertinya seru dan menyentuh sekali film tersebut. Mudah-mudahan saya bisa mengunduhnya. Dan, semoga para jemaah haji kita pulang dengan membawa obor pencerahan…

  3. Bulan lalu saya menonton film Le Grand Voyage. Film ini besutan ilmuan Islam kelas dunia, Ismaël Ferroukhi.

    Ceritanya mengenai hubungan seorang Muslim yang taat dan anaknya yang baru tumbuh dewasa namun nilai-nilai hidup keduanya sangat berbeda. Mereka dari keluarga keturunan Arab yang bermigrasi ke negara pusat mode dunia itu.

    Di film ini si ayah mengajak anaknya menapaki suasana spritual Islam, yang nampaknya telah sangat jauh dari kehidupan si anak laki-lakinya itu. Ia minta anaknya untuk mengiringi (tepatnya mengantarkan) perjalanan haji, hanya dengan sebuah mobil sedan, dari Prancis Selatan ke tanah suci Mekah.

    Di perjalanan itulah ada banyak nilai-nilai spritual yang ditampakkan. Dari situlah sang anak akhirnya menemukan “arah hidup” yang jelas, nilai hidup yang selama ini dipegang oleh ayahnya, tentu saja sepeninggal sang ayah di tanah suci Mekah.

    Untuk selengkapnya, ada baiknya Anda tonton film ini. Di malam yang sepi saya menonton sendiri, menetes airmata menyelami film ini. Sebagai seorang yang sufi (suka film🙂 ) saya berani mengatakan bahwa Ini adalah salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.

    Sekedar informasi tentangnya, silahkah baca di sini. Saya mendapatkan file film ini dari seorang teman lama saat di Yogya dulu. Jika bandwidh Anda cukup, mungkin bisa melacak filenya di internet untuk diunduh.

    Kita doakan, semoga semua jamaah haji kita pulang ke tanah air dalam keadaan mabrur. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s