Bencoolen

Oleh: Suharyanto

Sabtu malam Minggu, 28 Maret 2009 aku mendapat pesan singkat dari seorang teman di Magelang. Isi pesan singkat tersebut kira-kira begini, “Mas Unib namanya menjadi apa kalo kotanya menjadi Bencoolen?”. Aku maih belum mengerti maksud pesan singkat dari teman terebut. Sejenak aku coba pahami dan pikiranku tertuju pada sesuatu bahwa pasti telah dan sedang ada berita terkait Bengkulu. Kebetulan di tempat tinggalku, saat itu, sedang mendapat giliran (mungkin bukan giliran, tapi kejadian acak yang terlalu sering) pemadaman listrik jadi aku tidak bisa nonton tv. Namun hatiku tetap yakin bahwa temanku pasti telah dan sedang membaca, mendengar atau melihat berita.
Karena merasa penasaran dengan isi pesan singkat itu, akhirnya aku coba memancingnya dengan balasan “Unib ya tetap Unib orang nama kotanya Bengkulu kok, Provinsinya juga!”. Tak pelak, temanku membalas dengan nada meledekku (karena aku tidak mengikuti berita terbaru) “ha ha ha Bengkulu mau diubah menjadi Bencoolen”.

“Wah, benar” aku membatin, lantas aku balas lagi “Ah, di tv itu ngawur!”.

Malam itu aku cukup gelisah dengan adanya pesan singkat dari kawanku. Kegelisahanku karena aku merasa tengah ketinggalan kereta. Baru keesokan harinya aku membaca berita di Harian Rakyat Bengkulu. Ternyata benar dugaanku bahwa telah terjadi berita yang terkait dengan nama Bengkulu di media nasional. Selama ini memang aku kurang mengikuti perkembangan kota ini karena kebetulan sedang ada “kegiatan” di luar provinsi.

Setelah membaca berita itu aku baru mengerti dan opiniku mulai menari-nari di benakku. Kucoba telusuri segenap pengetahuanku tentang sejarah Bengkulu sedapat mungkin dan sekenanya sembari kuelaborasikan dengan pemahamanku tentang kata Bengkulu, Bencoolen, Bangkahulu. Ketiga kata inilah yang jelas memiliki benang merah makna.

Memang, Bengkulu pernah menjadi jajahan Inggris di abad 18. Mereka menyebut orang-orang Bengkulu dengan lidah mereka tentunya. Mengapa mereka menyebut Bencoolen? Tidak dengan kata atau sebutan lain? Pastinya orang-orang Inggris ini punya rujukan. Misalnya orang Belanda menyebut BATAVIA karena ada rujukannya, yaitu BETAWI, dan begitu pula BENCOOLEN. Usut punya usut, sebutan ini tak lain dan tak bukan berangkat dari kata BANGKAHULU. Sudah menjadi kebiasaan (atau aturan) bahwa orang Inggris jika menyebutkan suatu kelompok orang, tempat atau bangsa dengan tambahan -an, -ese misalnya Javanese, Indonesian dan lain-lain. Nah, tidak menutup kemungkinan nama BENCOOLEN itu berangkat dari BANGKAHULUAN, yang artinya NEGERI BANGKAHULU, atau KAUM (ORANG) BANGKAHULU. Jadi, BENCOOLEN adalah nama lain dari BANGKAHULU atau BENGKULU sekarang ini.

Analogi yang sama juga terjadi pada SULAWESI = CELEBES, MALUKU = MOLUCAS, KALIMANTAN = KLEMANTAN = BERUNAI = BARUNO = BORNEO, MAKASAR = MACASSAR. Mana yang nama asalnya? Tergantung siapa yang menyebutkannya. Sama seperti kita menyebutkan Netherland (Nederlan=Holand) dengan Belanda. Mana yang nama aslinya?

Jika keinginan merubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen karena ingin mengembalikan ke nama asal maka tak pelak lagi nama asalnya yang lebih tepat BANGKAHULU dari pada BENCOOLEN. Ganti saja menjadi BANGKAHULU.

Satu hal lagi yang menurut saya sangat tidak tepat, Bencoolen bukanlah sebutan lidah kita, melainkan lidah penjajah. Bencoolen memiliki konotasi “koloni”. Sama dengan nama Indonesia dulu Hindia Belanda (Holand Indie) yang berkonotasi “terjajah”. Jelas ini bertentangkan dengan spirit kita menjadi bangsa merdeka.

Setelah aku pikir-pikir lebih dalam lagi, mengapa sih sampai keluar gagasan tersebut? Ternyata, katanya untuk menarik minat wisatawan. Hah, aku pikir ini mengada-ada. Sama dengan mengada-adanya mengubah nama daerah ini. Kalau mau meningkatkan minat wisatawan, perbaiki kinerja pemerintah pada aspek pariwisata, tingkatkan sarana dan prasarana yang menunjang untuk itu dan ciptakan iklim yang mendukung. Rasakanlah, bila kita berkunjung ke pantai panjang, ke benteng Marllborough dan lain-lain, sudahkah kita merasa nyaman?

Benar-benar ini cerminan pejabat kota kita kurang kerjaan. Jangan-jangan yang perlu diganti bukan nama kotanya, melainkan para pejabatnya!

Akhirnya akupun berterimakasih dengan kawanku yang telah membangunkanku dari ketinggalan kereta berita tentang Bengkulu melalui pesan singkatnya.

Bengkulu, 30 Maret 2009.

Leave a comment

Filed under Ragam Bengkulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s