Babi

 

Oleh : Suharyanto

 

 

            Belum begitu lama, Indonesia digemparkan oleh adanya temuan dendeng dan abon babi dengan cap sapi. Kini, seluruh dunia digegerkan dengan adanya flu babi yang disebabkan oleh virus H1N1. Untuk berita yang kedua, layak semua orang panic karena ini terkait dengan kesehatan manusia secara keseluruhan. Sedangkan untuk berita yang pertama, kepanikan dirasakan oleh konsumen muslim. Jelas, karena hewan ini merupakan hewan yang diharamkan secara agama. Barang siapa yang mengkonsumsi sesuatu yang berasal darinya maka balasannya adalah neraka.

            Demikianlah kemutlakannya babi. Nah, berhubung merupakan hewan yang benar-benar mutlak keharamannya maka banyak pemuka agama yang mengupas hewan ini dari segi tabiat, perilaku dan dampak negatif yang diakibatkan oleh babi. Terlebih lagi dengan adanya flu babi, ini semakin mengukuhkan nalar keharaman babi. Barangkali karena kecintaannya terhadap umat supaya berhati-hati terhadap satu jenis hewan ini maka tulisan, dakwah dan penjelasan mengenai babi sebegitu dalamnya mulai dari perilaku makan yang menyosor tanah dan comberan, jenis yang dimakan yang begitu menjijikkan seperti cacing dan kotornnya sendiri, hingga ke perilaku seksualnya, yang konon katanya libidonya sangat tinggi dan lain sebagainya. Belum lagi bila dikaitkan dengan sumber penyakit seperti cacing pita. Sudah banyak orang mengatakan bahwa daging babi merupakan tempat tumbuhnya cacing pita. Singkat kata, babi digambarkan sedemikian rupa bahwa hewan ini merupakan hewan yang menjijikkan, jelek, nista dan berbahaya seakan-akan hewan ini membawa sial dan perlu dimusnahkan karena hewan haram.

            Kita mungkin lupa bahwa babi, bagaimanapun, adalah makhluk ciptaan Allah juga. Kitapun tahu bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah itu bukanlah sia-sia, pasti ada maksud dan tujuannya. Jika babi digambarkan sebagai hewan yang suka memakan kotorannya sendiri, kitapun bisa menyaksikan kambing yang juga suka meminum air kencingnya sendiri. Perilaku ini tidaklah aneh bagi dunia hewan. Kambing membutuhkan zat-zat tertentu yang bisa didapat dari air kencingnya. Tentang cacing pita, kambing dan sapi juga tempat yang baik bagi berkembangnya cacing pita. Jika ada flu babi maka ada juga flu burung (ayam). Jadi, sama saja. Oleh karenanya justifikasi mengapa babi haram bukanlah sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan jelek (menurut ukuran manusia), dan sehat atau tidaknya dagingnya. Kita tidak tahu pasti kenapa babi haram. Yang jelas di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa babi adalah haram, titik. Tidak perlu penjelasan yang diilmiah-ilmiahkan. Malah bias kontra produktif karena sifat dan perilaku jelek babi juga ditemui pada hewan lain yang halal.

            Perlu diketahui, babi yang umum dikonsumsi orang-orang barat adalah daging babi yang berasal dari peternakan terbaik dimana babi-babi tersebut diberi pakan yang kualitasnya justru lebih baik daripada kualitas makanan rata-rata orang Indonesia. Jadi, justru babi-babi itu memakan makanan yang baikl, tapi yang namanya haram ya tetap haram. Tidak perlu penjelasan yang sok diilmiah-ilmiahkan.

            Satu hal lagi, berdasarkan temuan ilmiah, justru struktur DNA babi mirip dengan DNA manusia. Banyak penelitian obat sebelum diaplikasikan ke manusia, diaplikasikan ke babi terlebih dahulu. Lagi pula, organ-organ penting babi mirip dengan manusia, jenis makanan babi dengan manusia juga sama, system pencernaan babi juga sama dengan manusia yaitu sama-sama monogastrik (berlambung tunggal) dan ini berbeda dengan kambing, sapi, kerbau dan domba yang berlambung ganda (poligastrik). Konskuensi dari perbedaan jenis perut ini adalah pada jenis makanannya. Jika sama jenis perutnya maka makananannya juga memiliki kesamaan jenis.

Jadi keharaman babi tidaklah bias dijelaskan secara nalar. Haram ya haram. Tetapi bukan berarti menistakan babi begitu saja seakan-akan makhluk satu ini harus dimusnahkan dari muka bumi. Allah telah menciptakan makhluk dengan tujuan-tujuan tertentu, tanpa kesia-siaan.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 15 mei 2009.

2 Comments

Filed under Artikel Umum

2 responses to “Babi

  1. Betul bro, kalau di hubungkan secara ilmiah, akan timbul pertentangan antar umat beragama.di dalam al quran, tiada keraguan didalamnya. Lakum dinukum waliadin, bagi yg mencela. Semua ada pertanggung jwbnnya kelak

  2. Ncup

    Bro,
    Gw suka banget dengan tulisan ini..:) Benar2 real dan pemikiran yang intelek…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s