Kebangkitan

 Oleh: Suharyanto

         Tepat 20 Mei, bangsa Indonesia kembali memperingati hari yang disebut dengan Kebangkitan Nasional. Hari dimana momen penting dalam babak sejarah nasional Indonesia modern dimulai, yaitu 20 Mei 1908 tatkala dibentukknya organisasi Budi Utomo (BU). Terlepas dari kontroversi, yaitu sebagian tokoh nasional masih memandang bahwa berdirinya BU bukanlah tonggak kebangkitan nasional karena corak BU yang masih bersifat kedaerahan. Kalangan yang kontra tersebut mengajukan hipotesis bahwa kebangkitan nasional hendaknya diawali dari berdirinya suatu organisasi yang bukan bersifat kedaerahan tertentu dan cakupannya nasional Hindia belanda dan ini lebih tepat diatribusikan pada Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905. Kelompok ini mengemukakan bahwa SDI lebih bercorak nasional (bukan kedaerahan) dimana kepengurusannya mencakup wilayah Hindia Belanda dan bersifat anti kolonial Belanda.

        Terlepas dari kontroversi, bagaimanapun kebangkitan suatu bangsa seperti Indonesia memiliki arti penting bagi generasi anak bangsa selanjutnya sebagai pedoman memaknai kebangkitan di eranya masing-masing. Jika pada awalnya, kebangkitan yang dimaksud adalah gerakan penyadaran dan kesadaran akan pentingnya persatuan nasional dan perjuangan secara politik maka sekarang adalah bagaimana mengaktrualisasikan nilai-nilai tersebut dalam konteks kekinian bangsa Indonesia. Di era perang kemerdekaan, kebangkitan adalah perlawanan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa orde baru lebih dimaknai sebagai upaya pembangunan nasional. Lantas di era reformasi ini haruslah dimaknai dengan nilai-nilai reformasi secara positif.

        Nilai reformasi yang diperjuangkan pada 1998 adalah memperjuangkan kebebasan dari sistem tiranik dan represif. Maka lahirlah demokratisasi seperti yang dirasakan saat ini. Banyak kalangan menilai ini sudah saatnya untuk meninggalkan masa transisi, artinya, proses transformasi dari masa “belum demokratis” menjadi masa yang “lebih demokratis” harusnya sudah lebih bersifat substansial ketimbang prosedural. Sayangnya, masih banyak yang menilai bahwa proses demokratisasi kita masih terbatas pada proses prosedural.  Celakanya, banyak aktor politik yang justru terjebak dan menjustifikasi proses prosedural ini. Prinsip-prinsip berdemokrasi, berpolitik, menyampaikan pendapat dan aspirasi, menjalankan pemerintahan dan lain sebagainya banyak mengabaikan prinsip-prinsip kebaikan dan kebenaran substansial. Semua itu dilakukan karena kepentingan pragmatis semata.

        Apa yang tengah berlangsung akhir-akhir ini, sehubungan dengan momen kebangkitan nasional, maka kiranya perlu direnungkan kembali apakah kita benar-benar sedang bangkit sebagaimana yang dicita-citakan pada awal kebangkitan dan gerakan reformasi digulirkan. Jika dahulu merupakan gerakan penyadaran dan kesadaran nasional mengorganisasikan diri untuk menlenyapkan kolonialisme di Indonesia dengan sebuah kesadaran kolektif nasional, maka sekarang perlu diaktualkan dalam bentuk penyadaran dan kesadaran nasional akan pentinya reformasi, ketebukaan dan demokratisasi yang lebih substansial. Lebih mengedepankan nilai-nilai luhur, etika dan kepentingan nasional. Sebab masih banyak hal yang harus dilakukan ketimbang hiruk-pikuk mabuk kepayang oleh adanya kebebasan saat ini.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 22 Mei 2009

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s