Titi DJ

Oleh: Suharyanto

Siapakah orangnya yang tidak kenal Titi DJ? Rasanya kebanyakan kita mengenal sosok yang satu ini. Ia seorang penyanyi papan atas Indonesia yang juga mendapat julukan diva pop Indonesia. Sebuah julukan yang memperlihatkan si empunya nama sebagai “empu” dalam dunia tarik suara.

Namun, dalam dunia plesetan, kita juga mahfum dengan istilah Titi DJ. Biasanya kalangan remaja atau orang dewasa yang sedang plesetan, istilah ini biasa digunakan bila temannya akan bepergian. “Titi DJ, ya”. Maksudnya “hati-hati di jalan”. Kemudian dilanjutkan dengan “Dedi Dores, ya”. Kali ini maksudnya “dengan diiringi do’a restu”. Dedi Dores juga seorang penyanyi papan atas era 80-an. Demikianlah plesetan segar dengan mengambil nama-nama orang terkenal.

Saya tertarik dengan Titi DJ. Maksudnya plesetan hati-hati di jalan, bukan sosok Titi DJ-nya. Hati-hati di jalan memang sangat diperlukan demi keselamatan pengguna jalan dan masyarakat umum. Banyak kecelakaan yang terjadi karena para pengguna jalan tidak berhati-hati di jalanan. Bahkan, di salah satu pinggir jalan di kota kita ada tulisan yang menginformasikan pentingnya berhati-hati di jalan. “Jangan tumpahkan air mata dan darah sia-sia di jalan ini”, demikian kira-kira pesannya. Belakangan ini, di dinding facebook, Walikota juga menyampaikan pesan agar masyarakat pengguna jalan berhati-hati karena sedang ada perbaikan jalan.

Pesan Walikota tersebut menekankan pada alasan sedang ada perbaikan jalan. Dengan adanya perbaikan jalan maka banyak gangguan dalam perjalanan. Oleh karena itu perlu berhati-hati. Kita tidak tahu sampai kapan perbaikan itu berlangsung. Yang jelas, tentang berhati-hati di jalan harus selalu sepanjang menggunakan jalan dan dalam kondisi apapun jalan itu. Pun, sebenarnya, sudah cukup lama jalan raya di kota kita butuh perbaikan total. Bukan baru-baru ini saja. Banyak ruas jalan kota yang berlubang, berkubang dan bergelombang. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan lalu-lalangnya truk-truk besar melintasi jalanan kota. Wal hasil lubang, kubang dan gelombang jalan semakin berkembang.

Inilah kondisi infrastruktur kota (dan Provinsi kita). Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu singkat menjadi berlarut-larut di atas jalanan. Kendaraan yang seharusnya tidak boleh melintasi kota, malah diperbolehkan. Tingkat kerusakan dan gangguan lingkungan menjadi meningkat. Lalu, masyarakat protes, tetapi kemudian “tidak ditanggapi”. Maka, jalan yang di tempuh adalah dengan menanami pepohonan di tempat rusaknya jalan. Ternyata cara ini menarik perhatian sehingga segera diberikan tindakan berupa “perbaikan” sementara. Perbaikan yang sesungguhnya juga kita tidak tahu sebab, setiap hari kita hanya melihat seperti itu terus: pemerataan, penambahan koral, pemerataan, penimbunan koral dan seterusnya. Praktis, jalan kita semakin tidak layak berada di tengah kota.

Jadi, kita harus semakin berhati-hati di jalan. “Titi DJ, ya”.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 12 Juni 2009.

Leave a comment

Filed under Ragam Bengkulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s