Kecewa dan Marah

Oleh: Suharyanto

Baru-baru ini, petinggi kota merasa kecewa dengan kerusakan jalan kota. Kecewa karena jalan raya kita semakin susah dilewati dan membahayakan bagi pengguna jalan. Maka kemudian, banyak kalangan justru bertanya, kepada siapakah petinggi kota ini marah? Bukankah kerusakan ini semakin diperparah dengan lalu lalangnya truk-truk fuso yang konon katanya kendaraan tersebut masuk kota atas restu sang petinggi. Jadi kepada siapakah beliau marah?

Jika alasan marah karena jalan rusak, mestinya marahnya sudah dari dulu-dulu, soalnya kerusakan jalan bukan baru seminggu dua minggu ini. Perbaikan yang dilakukan justru memperparah kerusakan karena perbaikannya “tidak” pernah selesai. Kerusakan yang semakin menjadi juga akibat truk-truk fuso yang melintasi jalan kota. Apakah marahnya kepada “fuso?”. Jika iya, tentunya harus diikuti dengan melarang fuso melintasi jalanan kota yang memang seharusnya tidak boleh lewat di dalam kota.

Lantas marah kepada siapa? Kepada masyarakat? Bukankah seharusnya yang marah adalah masyarakat si pengguna jalan? Dengan kerusakan yang semakin parah maka perjalanan menjadi terganggu dan berbahaya? Belum lagi bila berpapasan atau bersimpangan dengan truk-truk besar? Sebagai warga kota maka pertanyaan tersebut wajar timbul. Warga masyarakat telah membayar pajak yang seharusnya dapat menikmati perjalanan yang menyenangkan di dalam kotanya sendiri. Bahkan, bisa-bisa kekecewaan ini menimbulkan kemarahan. Buktinya, sudah beberapa kali jalan yang rusak kemudian ditanami pohon pisang. Ini adalah cara protes dan menunjukkan kemarahan mereka.

Wajar masyarakat kecewa dan protes walaupun dengan cara yang agak aneh karena cara yang biasanya tidak membuahkan hasil. Berbagai cara, mulai dari kirim layanan singkat di media massa, surat pembaca, demonstrasi, dan mendatangi kantor wali kota dan lain-lain. Meskipun tidak juga membuahkan hasil, dengan menanami pohon pisang ding tempat jalan yang rusak, paling tidak mendapat tanggapan dengan mencabut pohon dan meratakan kubangan jalan dengan korang. Semua tahu bahwa “perbaikan” yang seperti itu bukanlah jawaban. Masyarakat hanyalah menginginkan respon yang kemudian akan diikuti dengan tindakan perbaikan yang sesungguhnya dan mengeliminasi faktor-faktor yang mempercepat kerusakan jalan, termasuk melarang truk fuso melewati jalan.

Pemecahan masalah fuso di tengah kota harus diselesai terlebih dahulu maka kemudian satu faktor penghancur jalan sudah teratasi, tinggal faktor-faktor lainnya. Bila ketentraman masyarakat dari pengguna jalan dapat ditunaikan maka tinggal di dalam gang, lalu di dalam rumah. Jalan, adalah awal kesan bagi orang luar kota untuk menilai kondisi di dalam rumah warganya. Bila jalan yang ada terlihat bagus, indah, elok dan lain sebagainya maka kesan ini akan menetap di memori pengunjung kota. Maka klop antara program pemerintah dengan kenyataan yang ada, yaitu menjadikan Bengkulu sebagai kota wisata yang ditunjang dengan keindahan jalanannya. Dan, tidka menutup kemungkinan adipura yang lepas dari genggaman kita akan diraih kembali. Jangan sampai masyarakat kecewa dan marah hanya karena jalan.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 18 Juni 2009

Leave a comment

Filed under Ragam Bengkulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s