MOS

Oleh : Suharyanto

Beberapa tahun ini, setiap sekolah menengah melaksanakan program yang disebut dengan Masa Orientasi Siswa (baru), yaitu masa untuk memberikan orientasi bagi siswa baru suatu sekolah. Suatu program yang bertujuan bagus, yaitu memberikan pengenalan bagi siswa untuk lebih siap dan mengetahui dalam mengikuti proses pembelajaran selama di bangku sekolah sehingga ketika sekolah nantinya siswa

Dalam praktiknya, MOS diisi dengan berbagai cara kreatif, unik dan lucu. Beberapa sekolah justru melakukannya dengan acara yang memberikan nilai-nilai positif bagi siswa, yaitu semangat bergotong royong, kerja sama, empati, kreatif dan nilai-nilai positif lainnya. Kemudian, dengan adanya pembekalan berupa MOS, siswa akan termotivasi untuk disiplin, kerja keras, memahami lingkungan baru (sekolah baru) dan lain sebagainya.

Namun demikian, baru-baru ini juga muncul kekhuatiran dari beberapa kalangan mengenai pelaksanaan MOS yang rawan adanya tindakan kekerasan. Masa orientasi bisa menjadi ajang “perploncoan”. Beberapa media massa juga mensinyalir hal demikian. Uniknya, kegiatan sejenis MOS dulu marak dilakukan di perguruan tinggi yang penuh dengan nuansa perploncoan. Tak pelak lagi ketika itu muncul berbagai tindak kekerasan dari senior kepada yuniornya. Syukur, belakangan “plonco” di perguruan tinggi sudah berganti menjadi lebih “beradab”. Bahkan sekarang masa “plonco” yang dikenal dengan nama Pengenalan Kehidupan Kampus (PKK) lebih banyak diisi dengan materi yang menggugah motivasi, berorganisasi, kerjasama, pemecahan masalah, bagaimana berempati, kreativitas dan lain-lain. Ini adalah kemajuan yang patut disyukuri dimana mahasiswa selaku calon-calon intelektual maka kegiatan yang dilakukan hendaknya juga mencerminkan perilaku intelek.

Mumpung belum berjalan jauh, mulai sekarang MOS hendaknya lebih diarahkan kepada muatan-muatan yang akan mendorong pada kepemimpinan, kreativitas, kerjasama, empati kesuksesan dalam belajar dan lain sebagainya. Apa yang disinyalir oleh berbagai media massa tentang kekhawatiran MOS salah arah, perlu diperhatikan untuk kemudian tidak terlanjur menjadi sebuah kebiasaan buruk dari tahun ke tahun. Jangan sampai apa yang dulu pernah terjadi pada mahasiswa (plonco) yang kini sudah hilang justru terjadi pada level siswa sekolah menengah.

Sekolah, dalam hal ini guru dan system, masyarakat dan pemerintah harus sudah mulai mengantisipasi hal yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan MOS. Dari sini maka MOS akan berlangsung seperti yang diinginkan, yaitu tertanamkannya nilai-nilai positif bagi siswa baru. Nilai-nilai positif ini akan membentuk jiwa dan perilaku siswa di kemudian hari. Sungguh, MOS memiliki sisi rawan penyelewengan, maka pengendalian dari pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah mutlak diperlukan.

MOS harus terus dipantau menjadi kegiatan yang kreatif[]

1 Comment

Filed under Artikel Umum

One response to “MOS

  1. bene bngt tujuan mos kan menanamkan nilai positif buat pelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s