Tambal Sulam


Oleh : Suharyanto

Tambal sulam adalah suatu istilah untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu hanya “ditambal dan diganti” dari sesuatu yang ‘rusak”. Contohnya roda kendaraan yang pecah atau bocor, maka mengatasinya dengan ditambal atau diganti dengan yang baru sama sekali. Bila ditambal maka kekuatannya akan lebih rendah bila dibandingkan dengan yang baru sama sekali. Contoh untuk sulam, misalnya, dalam suatu luasan kebun tanaman ada beberapa yang mati, maka tanaman yang mati itu diganti dengan yang baru (disulam).

Sekalipun ini benar menurut kaidah ilmu pertanian, makna “sulam” seperti ini menjadi kurang tepat untuk konteks perbaikan sesuatu. Tambal sulam merupakan memperbaiki secara parsial dan tidak mendalam hingga ketemu pangkal masalah suatu kerusakan. Hasil dari perbaikan tambal sulam ini adalah cepat atau mudahnya sesuatu yang diperbaiki itu rusak kembali. Apa lagi jika perbaikan tambal sulam itu hanya untuk “make up” saja.

Tambal sulam boleh dan perlu dilakukan bila tingkat kerusakan sesuatu itu bersifat minor dan kasuistik. Hal-hal yang begini memang diperbaiki secara “tambal-sulam” dan setiap kegiatan, katakanlah “proyek pembangunan” pastilah dianggarkan untuk tambal sulamnya. Termasuk untuk biaya perawatan. Berbeda halnya bila tingkat kerusakan itu sudah dalam skala massif dan mayor, maka perbaikannya tidaklah bisa tambal sulam, melainkan perbaikan secara menyeluruh. Selain perbaikan secara menyeluruh, yang tak kalah pentingnya adalah mencari sebab mengapa kerusakan bisa terjadi secara cepat, masif dan menyeluruh. Bila sudah ditemukan maka kemudian selanjutnya dikeluarkan rekomendasi supaya penyebab kerusakan tidak ada lagi.

Kita bisa melihat di sekitar kita apa yang tengah terjadi. Kerusakan yang ada pun bisa bermacam-macam dimensi: social, lingkungan dan fisik. Hal paling terlihat secara fisik adalah kerusakan jalan. Jalan yang ada di kota dan provinsi kita sudah sangat parah tingkat kerusakannya. Perbaikan yang dilakukan selama ini tak kunjung usai, justru semakin memperparah kondisi jalan menjadi semakin tidak layak dilalui. Dalih perbaikan menjadi bemper dari keresahan masyarakat akan kondisi jalan yang dilalui. Seiring dengan itu, kerusakan di sisi lain terus berlangsung. Penyebab kerusakan sudah diketahui, kini tinggal giliran saling lempar tanggung jawab dan kewenangan. Masyarakat pengguna jalan tidaklah tahu ini jalan siapa dan itu jalan siapa. Yang diketahui oleh warga pengguna jalan adalah bahwa mereka telah membayar pajak dan pemerintahlah yang harus bertanggung jawab atas kerusakan jalan.

Melihat kenyataan yang demikian ini maka kiranya perbaikan harus secara menyeluruh, bukan saja perbaikan secara menyelurh atas kerusakan jalan yang ada, tetapi juga perbaikan menyeluruh dari sikap dan perilaku serta paradigm berfikir-bertindak para pembuat kebijakan. Dengan demikian maka kerusakan yang ada dapat segera diperbaiki dengan sebenar-benarnya.[]

Leave a comment

Filed under Ragam Bengkulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s