Dramatik dan Demonstratif

Oleh: Suharyanto

Pasca reformasi, masyarakat Indonesia mengalami gejala yang cenderung menyukai hal-hal yang dramatis dan demonstartif. Iklim keterbukaan telah membawa masyarakat negara ini untuk selalu serba ingin tahu secara cepat dan langsung. Mungkin makna kebebasan dari alam reformasi adalah demikian sehingga segala hal harus diberitahukan kepada publik secara langsung. Ternyata, jualan hal-hal seperti ini membuahkan hasil lumayan bagi pengusaha media karena melalui media masyarakat dapat mengetahui. Tahu segala-galanya tanpa ditutup-tutupi, sekalipun itu seharusnya tidak perlu diketahui publik.

Fenomena demikian membawa media untuk mengejar sesuatu yang dapat disuguhkan secara langsung kepada publik seklaipun harus instan. Berkat instan inilah maka seringkali informasi yang disampaikan keliru dan perlu diralat. Celakanya, konsumen, masyarakat justru menyukai sesuatu yang sifatnya dramatis dan demonstartif.

Ketika mantan presiden soeharto sakit hingga meninggal, semua stasiun televise memberitakan secara “live” detik ke detik. Bahkan, penyakit yang seharusnya menjadi rahasia pasien dan keluarganya menjadi konsumsi publik. Entah apa maksud di balik itu semua, tetapi masyarakat juga menontonnya. Masyarakat terbius dengan “live event’ sekaratul mautnya pak Harto. Demikian juga dengan peristiwa kecil yang terjadi, maka akan didramatisasi. Kisah pertengkaran rumah tangga artis akan menjadi konsumsi berminggu-minggu di media televise. Bahkan peristiwa yang mungkin tidak sangkut pautnyapun akan dihubung-hubungkan sedemikian rupa. Apatah lagi fenomena Manohara. Kejadian yang selalu diangkat untuk mencari benang merah nasionalisme dimana warga Negara Indonesia teraniaya di Negara lain dan lain sebagainya. Semua itu selalu didramatisasi secara demonstartif.

Baru-baru ini, suatu operasi yang konon katanya merupakan operasi intelijen berubah menjadi sebua “reality show” yang benar-benar dramatis dan demonstartif. Penyergapan seorang teroris yang sebelumnya diberitakan seorang gembong teoris, ternyata hanya kroconya. Mengapa operasi intelijen bisa menjadi sebuah tontonan gratis adegan yang konon katanya menegangkan? Masyarakat juga menikmati tontonan live event tersebut karena memang dramatis mungkin karena benar-benar didramatisasi dan demonstartif.

Tetapi, bagaimana dengan perilaku koruptor? Mereka tidak pernah terendus dan tidak pula diperlakukan secara demonstratif. Koruptor yang telah menilep uang Negara milyaran rupiah bisa hidup tentram dan terhormat. Sekalipun ada kasus tidak akan pernah muncul ke public secara demonstrative. Inilah salah satu sumber ketidakadilan. Masyarakat membutuhkan pencerahan dalam bentuk keteladanan pemimpin dalam menjalankan pemerintahan dan kenegaraan ini secara adil. Ketidakadilan justru menjadi lahan empuk bagi tumbuh suburnya terorisme karena masyarakat juga selalu diteror dengan ketidakadilan. Oleh karenanya, karena korupsi merupakan salah satu musuh negara dan perlakuan terhadap mereka tidak sepadan dengan kejahatannya, maka masyarakat memandang ini sumber ketidakadilan. Mungkin demi keadilan bersama perlu dibentuk densus 88 antikoruptor! Sebagai mana layaknya densus 88 antiteror yang terus memburu dan memberangus teroris, maka densus 88 antikoruptor bertugas memburu, menangkap dan memberantas koruptor apa lagi hingga kabur ke luar negeri.

Leave a comment

Filed under Artikel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s