Aneka Ria Terawih

Oleh: Suharyanto

Meskipun telah memasuki hari kedua Ramadhan 1431 H, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan kepada segenap pengunjung. Semoga puasa kita tahun ini dapat menghantarkan kita kepada sikap takwa. Takwa, sebagai derajat tertinggi manusia di dunia dan akhirat.

Selama bulan Ramadhan, sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk melakukan ibadah sebanyak-banyaknya, baik ibadah dalam arti khusus maupun dalam arti umum. Karena di dalam bulan ini terdapat keberkahan yang tidak terdapat di bulan-bulan lainnya. Salah satu ibadah yang sudah lazim dilakukan, seakan-akan ini sudah menjadi satu paket dengan ibadah puasa Ramadhan, adalah shalat terawih (Meskipun ada mazhab dalam Islam yang tidak melaksanakan shalat terawih).

Pada malam menjelang puasa pertama bulan Ramadhan, kaum muslim di seluruh dunia sudah mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan penuh suka cita, terutama dengan melaksanakan shalat terawih. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa nan sudah tua, laki-laki dan perempuan, berduyun-duyun ke masjid. Sesuatu yang tidak terjadi pada hari-hari di luar Ramadhan. Meskipun, biasanya hanya pada awal dan menjelang akhir Ramadhan yang penuh oleh para jemaah masjid.

Namun itulah kondisi yang terjadi yang mewarnai hari-hari bulan Ramadhan. Sungguh unik dan indah. Unik, karena masing-masing warga suatu daerah atau negara menyambutnya secara berbeda-beda. Perbedaan bukan hanya terjadi pada aspel sosial dan budaya dalam menyambut dan menjalani ramadhan, dalam aspek ibadah, khususnya terawih terdapat perbedaan. Lazimnya, dahulu, sering diangkat ke permukaan mengenai perbedaan sholat terawih. Ada yang 11 rekaat plus witir, ada pula yang 23 rekaat plus witir. Perbedaan yang tidak esensial, tetapi dulu dipandang penyebab perpecahan umat Islam. Alhamdulillah, dewasa ini perbedaan-perbedaan macam itu tidak lagi menggema, semua sudah saling memahami.

Terkait dengan perbedaan sholat terawih ini, saya memiliki cerita tersendiri. Pada terawih pertama ramadhan tahun ini, seperti biasanya, sebelumnya diisi dengan ceramah agama usai sholat Isya secara bergilir oleh ustad-ustad dari luar jamaah masjid sekaligus menjadi Imam sholat terawih. Pada sholat terawih kali ini, ternyata imam melaksanakannya dengan 4 rekaat 4 rekaat, sehingga ketika sudah di rekaat kedua para makmum sudah duduk tahiyat, sementara imam langsung berdiri meneruskan rekaat ketiga. Tentu saja ini menjadi “agak heboh” mengingat kebiasaan di masjid kami adalah 2 rekat 2 rekaat dengan total rekaat 11 plus witir. Untungnya, para makmum segera menyadari dan ikut berdiri rekaat ketiga.

Saya sendiri selalu mengantisipasi hal-hal demikian sejak dulu apa bila imamnya orang dari luar masjid kita atau orang yang belum kita ketahui “corak terawihnya”. Jadi dalam niat sholat saya “berniat sholat mengikuti imam” tanpa menyebut jumlah rekaatnya. Oleh karenanya ketika rekaat kedua saya sudah antisipasi apakah imam akan duduk tahiyat atau langsung berdiri untuk rekaat ketiga. Yah… inilah, perbedaan-perbedaan yang ada. Beruntung, para jemaah masjid sangat menyadari bahwa cara 4 rekaat 4 rekaat atau 2 rekaat 2 rekaat adalah sama-sama sahnya. Jadi tidak menimbulkan perpecahan. Inilah cerita terawih pertama tahun ini.

Pada malam kedua, kembali kami sholat terawih. Usai ceramah ba’da Isya, kami sholat terawih. Saya mengantisipasi dengan niat seperti di atas mengingat yang menjadi imam ini adalah ustad dari luar jamaah masjid kami. Saya belum tahu “corak sholat terawihnya”. Sholat terawih berjalan seperti biasanya karena ternyata pak Imam ini “menganut paham 2 rekaat  2 rekaat”. Begitu masuk sholat witir, kembali makmum dibuat “heboh” karena kebiasaan kami sholat witirnya 3 rekaat sekaligus. Nah, kali ini Imam melakukannya 2 – 1. Jadi, ketika rekaat kedua witir, para makmum hendak berdiri begitu imam mengucapkan takbir. Begitu tahu Imam duduk tahiyat maka para makmumin mengurungkan beridirnya dan duduk tahiyat. Tak urung banyak sudah makmum yang setengah membungkuk hendak berdiri. Barangkali makmum perempuan yang shafnya di belakang laki-laki dan dibatasi tirai, sudah banyak yang berdiri.

Usai sholat, aneka ria cerita meluncur dari mulut para jemaah. Cerita pengalamannya masing-masing sejak terawih malam pertama dan kedua ini terkait dengan kejadian tersebut. Bahkan ada yang nyeletuk, malam besok apa lagi yang akan terjadi ya? Lucu, unik, untungnya jemaah sangat menyadari bahwa cara apapun sah. Hanya, pelajaran yang dapat dipetik dengan peristiwa tersebut adalah bahwa pengurus masjid hendaknya mengkomunikasikan tentang cara sholat terawih yang mana yang yang akan dipakai kepada Imam dan makmum. Inilah adalah pelajaran moral nomor 31 (meminjam istilahnya Andrea Hirata).[sy]

Bengkulu, 12 Agustus 2010

Leave a comment

Filed under Hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s