Nasi Diberi Coklat

Oleh: Suharyanto

Suatu ketika, saya dan beberapa teman sedang bincang-bincang ringan mengenai budaya nasional termasuk makanan-makanan khas di daerah masing-masing. Kebanyakan kami menyukai makanan tradisional akan tetapi sudah jarang dijumpai. Kita hanya bisa menjumpainya ketika momen-momen tertentu, seperti lebaran, atau hari raya lainnya, adanya hajatan dari sanak saudara atau tetangga. Atau pada acara khusus. Inipun sudah mulai digeser dengan jenis makanan-makanan “modern”.

Nah, tanpa disekenariokan, salah satu teman ini membawa anak perempuannya yang berumur lebih kurang 5 tahunan. Si Anak membawa sekotak makanan di dalamnya berisi beberapa jenis makanan. Ketika saya lihat dan buka kemudian saya, sambil bercanda kepada si anak, bertanya nama makanan di dalam kotak. Pertama saya bertanya “ini apa namanya” dengan menunjuk jenis makanan berwarna merah menyala berbentuk panjang dan kenyal diselipkan di dalam roti. Langsug si Anak menjawab dengan cepat “sosis”. Benar, kata saya dalam hati. Kemudian saya tujuk sepotong makanan berbentuk jajaran genjang terbuat dari beras berwarna coklat “kalau yang ini apa namanya?”. Si Anak terdiam berpikir kemudian menjawab “nasi diberi coklat”.

Saya tertawa begitu mendengarkan jawaban si Anak teman tersebut. Tertawa bukan untuk mencemoohkan si Anak, tetapi lucu juga mendengar jawabannya yang polos dan deskriptif. Anak itu memang tidak tahu namanya, yaitu wajik. Si Anak hanya mencoba mendeskripsikan dengan mengatakan nasi yang diberi coklat. Sebenarnya bukan coklat, melainkan gula merah sehingga berwarna kecoklatan. Bahan utamanyanya memang beras (nasi) sehingga si Anak menyebut nasi. Demikianlah cerita yang kemudian menggugah pikiranku untuk menulis ini.

Dari cerita di atas, terlihatlah bahwa makanan-makanan tradisional tidak diketahui oleh anak-anak jaman sekarang. Anak-anak lebih mengenali makanan-makanan “baru” dalam khazanah makanan di Indonesia seperti sosis, yogurt, spageti, jelly, dan lain sebagainya. Anak-anak memang tidak salah karena iklan jenis makanan “baru” tersebut amatlah massif dan terus menerus. Setiap kali anak menonton televisi, maka mereka disuguhkan tayangan sosis, yogurt, jelly dan lain sebagainya. Mereka tidak pernah melihat wajik, dadar gulung, lemper, apam dan lain sebagainya. Para orang tuapun sudah berkurang mengenalkan jenis-jenis makanan tradisional kepada anak-anaknya.

Akankah ke depannya makanan khas Indonesia terlupakan oleh generasi mendatang?

Bengkulu, 30 September 2010.

2 Comments

Filed under Artikel Umum

2 responses to “Nasi Diberi Coklat

  1. Miki suhadi (E1C009070)

    Maaf pak salah ketik……

  2. Miki suhadi (E1C009070)

    Miki suhadi (E1C009070)
    Saya sangat setuju atas jurnal yang telah bapak buat,karena suatu daerah ataupun negara kalau tidak ada yang memberi penyuluhan atau pengarahan untuk melakukan suatu kegiatan baik itu di bidang pertanian maupun di bidang yang lainnya.Karena keberhasilan suatu daerah atau negara itu tergantung oleh masyarakat yang ada di dalamnya karena tanpa ada kerja sama antara satu sama lainnya,sehingga masyarakat-masyarakat kecil dan yang kurang akan pengalaman serta ilmu pengetahuan sangat membutuhkan seseorang yang bisa memberi pengarahan atau penyuluhan agar tidak salah untuk melakukan suatu pekerjaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s