Masjid (Tidak) Ramah Anak

Oleh Suharyanto

Sesungguhnya masjid bukan hanya sebagai tempat sholat, melainkan juga sebagai tempat sosial-budaya, kemasyarakatan, tempat belajar anak, dan untuk kepentingan-kepentingan umum dan kebaikan lainnya.

Tetapi, sering orang hanya mempersempit makna masjid hanya sebagai tempat sholat, sehingga bila ada aktivitas non sholat dianggap tabu bila menggunakan masjid.

Salah satu aktivitas non sholat yang dilakukan di masjid adalah anak-anak belajar mengaji. Belajar mengaji sekarang lebih banyak dilakukan di rumah-rumah atau privat, melalui pendidikan non formal, dan lain sebagainya.

Menurunnya aktivitas belajar mengaji anak-anak di masjid, salah satunya disebabkan oleh sikap para jemaah dewasa pada masjid bersangkutan. Para jemaah dewasa sering memandang perilaku anak-anak sebagai pembuat kegaduhan, suka bermain-main, dan tidak serius. Hal ini dianggap mengganggu kekhusyukan ibadah kaum dewasa.

Padahal, masa kanak-kanak adalah masa bermain-main dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Sayangnya hal ini dipersepsi sebagai perilaku buruk anak. Maka wajar jika banyak anak-anak dimarahi oleh jemaah dewasa, bahkan melarang datang ke masjid.

Pelarangan anak untuk ke masjid bisa oleh orang lain atau juga oleh orang tuanya yang kuatir anaknya akan berbuat gaduh di masjid. Hal ini tentu saja bisa berakibat negatif karena anak-anak menjadi jauh dari masjid.

Satu hal yang mungkin perlu dipikirkan adalah mengenai desain masjid. Untuk masjid berukuran kecil, kegaduhan anak-anak memang terasa. Oleh karenanya masjid memerlukan ruang atau arena khusus anak-anak (untuk dapat bermain). Saat ini masjid hanya satu hamparan urang untuk keperluan sholat, akhirnya semua orang tua muda, anak-anak dan dewasa membaur menjadi satu.

Dulu, masjid di desa didesain untuk memiliki arena “non suci” yang ibarat rumah seperti teras, tetapi masih dalam satu bangunan dengan masjid. arena “non suci” inilah para anak-anak mengaji dan bermain-main tanpa menganggu kaum dewasa beribada (sholat sunat, baca Quran, dan lain-lain).

Mungkin, untuk masjid-masjid kecil, sudah saatnya memikirkan desain yang ramah untuk anak-anak sehingga masa bermain anak tidak dirampas, anak-anak dapat senang datang ke masjid, dan para dewasa dapat khusyuk menjalankan ibadah.

2 Comments

Filed under Artikel Umum, Hikmah

2 responses to “Masjid (Tidak) Ramah Anak

  1. @Hendro…
    Iya benar, masjid pada jaman Rasulullah itu untuk segala aktivitas kebaikan seperti ibadah khusus (Sholat dan lain sejenisnya), aktivitas-aktivitas bernilai ibadah seperti urusan umum sosial kemasyarakatan. Sepanjang aktivitas itu untuk kemaslahatan umum boleh dilakukan di Masjid. Jadi masjid bukan semata-mata untuk tempat sholat.

    Jaman Nabi, masjid berfungsi untuk sholat, aula, tempat menempa mental, tempat bediskusi tentang sosial kemasyarakatan, tentang strategi kenegaraan, tempat belajar ilmu agama, tempat belajar dan saling tukar pengetahuan dan kebaikan.

  2. Assalamualaikum….
    Pak…kata guru ngaji saya dulu, di dalam masjid kita tidak boleh melakukan urusan dunia, sebab nantinya apabila kita melakukan urusan dunia disana nantinya saat hari kiamat akan ada sejenis hewan raksasa sejenis kalajengking yang kalau tidak salah dinamakan “Huroisun” yang mencapit kita. Namun, menurut saya pernyataan tersebut masih diragukan. sebab masjid merupakan tempat aktivitas sosial yang sangat baik seperti juga yang telah Bapak kemukakan dalam artikel di atas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s