Membuat Bahasa

Oleh: Suharyanto

Orang Indonesia tergolong cukup kreatif dalam menciptakan bahasa. Kita ingat pada masa Orde Lama, Presiden Soekarno kreatif sekali menciptakan akronim yang kemudian malah menjadi bahasa sehari-hari. Contohnya kata “berdikari” yang merupakan akronim dari “berdiri di kaki sendiri”.

Dulu, akronim “berdikari” sempat menjadi kosa kata lisan dan tulisan di Indonesia dan Malaysia. Sayangnya kemudian kata “berdikari” dihapuskan dari wacana bahasa Indonesia dan diganti dengan kata “mandiri”. Sementara di negara tetangga, kosa kata “berdikari” masih digunakan. Bila kita tanya kepada generasi sekarang, kebanyakan mereka tidak tahu kata “berdikari” tetapi mengetahui kata “mandiri”. Dan masih banyak contoh akronim-akronim ciptaan lainnya seperti ipoleksosbudhankam, manipol usdek, nasakom, gestapu, dan lain-lain yang sempat menjadi kosa kata dalam wacana bahasa nasional kita.

Hingga sekarang kita masih saja kreatif menciptakan “bahasa”. Apa lagi belakangan ini sejak pilpres 2014. Kita, apa lagi aktivis facebook, tentu tahu ada facebooker dan blogger JONRU. Ya, Jonru sebagai penulis di blog dan kemudian tulisannya di-share di facebook. Isi tulisannya selalu mengkritik Jokowi sejak dari pilpres sampai sekarang. Tentu saja ini mengundang ketidaksukaan dari kelompok pendukung Jokowi. Para pendukung Jokowi sering menganggap apa yang dilontarkan oleh Jonru lebih banyak berbau fitnah. Maka kemudian terciptakan istilah “men-jonru” untuk mengungkapkan “memfitnah”. Misalnya ada frasa “jangan menjonru”, maksudnya adalah “jangan memfitnah”. Karena ternyata Jonru banyak memiliki pengikut online, maka para pengikutnya disebut sebagai jonruwan (laki-laki) dan jonruwati (perempuan).

Baru-baru ini juga demikian, tercipta istilah baru untuk mengungkapkan sesuatu yang “tidak jelas” dengan istilah “Tedjo”. Ya, Tedjo merupakan nama dari menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM (Menkopolhukam) Tedjo Edhy Purdijatno. Istilah tedjo muncul setelah sang Menteri menyebutkan orang-orang yang mendukung KPK (dalam konflik KPK-Polri) sebagai “rakyat yang nggak jelas”. Tentu saja orang-orang ini marah. Lalu di media jejaring sosial terciptalah “Tedjo” untuk sesuatu yang “tidak jelas”. Misalnya ada frasa “semua serba tedjo”, maksudnya adalah “semuanya serba tidak jelas”.

Unik, menarik, dan asyik memang walau, tentu saja, istilah-istilah tersebut hanya gurauan atau lelucon yang bersifat satir saja.[]

Bengkulu, 6 Februari 2015.

2 Comments

Filed under Artikel Umum

2 responses to “Membuat Bahasa

  1. bahasa yang sopan dan baik budinya bahasa yang paling bagus menurut saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s