Setelah Menyontreng

July 9, 2009 at 06:27 (Artikel Umum) (, , , , , , , , , )

 Oleh : Suharyanto

             Akhirnya pilpres kali ini dapat dilewati dengan “aman dan damai” sebagaimana pilpres 5 (lima) tahun lalu. Seperti halnya pilpres 5 tahun lalu, pilpres kali ini juga diwarnai berbagai dinamika politik. Bahkan, dua hari menjelang pilpres ada indikasi pilpres untuk ditunda. Ternyata semua itu tak terjadi. Malah kini sudah menghitung hasil pemungutan suara 8 Juli lalu.

            Berdasarkan hasil hitung cepat dan perhitungan sementara KPU, terlihat bahwa capres incumbent memperoleh suara tertinggi yang bahkan melampaui 50% plus satu. Ini artinya pilpres cukup satu putaran. Gejolak yang diprediksi berbagai pengamat juga nyaris tidak terjadi. Kalaupun ada itu hanya riak-riak kecil yang mewarnai pilpres. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat sudah dewasa dalam berdemokrasi melalui pilpres. Tinggal bagaimana elit politiknya saja. Berbagai gejolak pasca pilkada tak terlepas dari peran elit politik daerah yang justru tidak mau memahami dan menerima kenyataan politik. Dus, perlunya penyelenggara pilkada ataupun pilpres meningkatkan netralitas dan profesionalismenya.

            Rakyat telah menentukan pilihan, tinggal menunggu hasil perhitungan pilihan rakyat itu. Rakyat Indonesia hanya menginginkan kehidupan yang dama dan tentram serta meningkat kesejahteraannya. Oleh karenanya, apapun hasilnya dan siapapun yang memperoleh suara pilihan rakyat terbanyak, maka hendaklah itu semua dalam kerangkan mensejahterakan rakyat. Rakyat sudah terlalu lelah untuk selalu menderita dan disuguhi dengan drama-drama politik yang menegangkan seakan-akan itu hanya akal-akaln para elit dengan mengatasnamakan rakyat. Rakyat butuh kedamaian dalam menjalani hari-harinya. Rakyat tidak ingin di pentas perpolitikan negeri kita diwarnai dengan drama-drama “lucu” para badut politik. Kini, setelah memilih calon presiden, suasana aman dan damai ini tetap kita pelihara agar semuanya berjalan dengan baik.

            Tanggal 8 Juli lalu, rakyat telah memberikan contoh kepada kita semua, khususnya elit-elit politik, bahwa berdemokrasi mereka telah mampu melaksnakan dengan damai tanpa kekisruhan. Masyrakat justru telah menunjukkan kepada kita bahwa seharusnya elit politik siap menang dan siap kalah. Masyarakat tidak lagi hiruk pikuk dengan siapa yang kalah dan siapa yang menang, mereka hanya memilih dengan ikhlas dan kemudian menghendaki kehidupan yang lebih baik. Untuk itu, tradisi yang baik seperti ini hendaknya dilanjutkan, yaitu tradisi aman dan damai di pemilu. Akan lebih baik lagi bila dalam berdemokrasi kita di pilpres dimulai dengan ucapan “selamat” dari yang kalah kepada yang menang. Alangkah indahnya. Sebaliknya, yang menang jangan sampai tinggi hati. Ingat dengan janji-janji yang telah disampaikan untuk kemudian ditunaikan dalam menjalankan pemerintahan dan kenegaraan lima tahun mendatang.

            Jika rakyat telah memberikan contoh dalam pemilu kali ini, kenapa para elit politik tidak mengikuti teladan yang telah ditunjukkan oleh rakyat, berupa kompetisi dalam kedamaian dan kedamaian dalam kompetisi. Artinya, segala bentuk persaingan yang dilakukan adalah dalam kerangka fastabiqul khairat. Berlomba-loba dalam kebaikan. Rakyat yakin bahwa visi-misi dan program yang diemban oleh masing-masing pasangan capres-cawapres, hakikatnya adalah demi kebaikan rakyat dan bagsa Indonesia dan demi kesejahteraan rakyat. Bukan untuk beberapa gelintir orang di Negara ini. Akhirnya, rakyat telah mendemonstrasikan demokrasi dengan baik, maka ikutilah dan tunaikan janji-jani bagi kandidat terpilih dan sama-sama kita control dalam pelaksanaan pemerintahan mendatang. Bagi yang kalah, maka “legowo” merupakan kebaikan yang tak ternilai.[]

Permalink 2 Comments

Pilpres

July 3, 2009 at 06:41 (Artikel Umum) (, , , , , )

Oleh : Suharyanto

Ini adalah kali kedua Indonesia menyelenggarakan pemilihan presiden secara langsung. Pertama adalah tahun 2004 yang menghasilkan pemenang pasangan SBY-JK. Kini, pasangan yang bertanding ada tiga, Mega-Prabowo, SBY-Boediono dan JK-WIN. Kampanye demi kampanye telah dan sedang dilalui, berbagai pernak-perniknya juga telah muncul ke permukaan. Ada yang mengatakan sebagai black campaign, ada yang mengatakan ini strategi lawan dan lain sebagainya. Isu yang digunakan jug abermacam-macam, ada yang menggunakan isu aliran (ideology) ekonomi, SARA dan lain sebagainya.

Pokoknya terkesan panas. Saling kritik, saling serang dan saling tuding selalu menghiasi kampanye dan iklan politik masing-masing pasangan. Kontras dengan apa yang kita saksikan pada layar kaca pada saat ”debat” capres maupun cawapres. Arena debat yang seharusnya menjadi ajang adu gagasan dan langkah penyelenggaraan negara dan bangsa ini secara baik dan benar dengan argumen yang menguatkan justru terlihat sebagai ajang pemaparan visi-misi tanpa deferensiasi. Banyak yang merasa “kurang puas” karena “debat” yang diharapkan tidak terjadi. Memang, sempat terjadi lontaran yang cukup menggelitik, tetapi tidak pada substansi.

Ada yang pro dan ada yang kontra dengan cara ”debat” capres dan wapres kita. Ada yang berpendapat, jika debatnya seperti yang terjadi pada debat capres USA maka ini tidak sesuai dengan kultur bangsa kita sehingga dengan cara seperti yang saat ini terjadi merupakan cara yang cocok. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa debat seharusnya melontarkan ide dan kritik terhadap pesaingnya, bukan adu tuding perkara pribadi.

Apapun, ini semua masih dalam proses menuju kedewasaan berdemikrasi. Yang penting jangan sampai pada saat dan setelah pilpress terjadi kerusuhan, yang sama-sama tidak kita inginkan. Seorang tokoh terkemuka dalam suatu resonansinya di harian nasional mengatakan bahwa jangan sampai pemilu Iran ”diimpor” oleh Indonesia. Yang dimaksudkan tentu saja kerusuhan pasca pemilu Iran baru-baru ini. Selama ini, Iran menyelenggarakan pemilu relatif tanpa gejolak. Nah, sekarang terjadi gejolak yang tidak terbayangkan sebelumnya hingga menelan korban puluhan orang. Hal inilah yang tidak diinginkan terjadi di Indonesia. Kita sudah terlalu lama mengalami kerusuhan. Sejak reformasi bergulir, hampri setiap hari kita disuguhkan dengan menu kerusuhan. Rakyat sudah letih dan bangsa ini menginginkan kedamaian. Masyarakat menginginkan ketenangan dalam menjalani hidup dan untuk menggapai kesejahteraan, bukan kerusuhan. Untuk itu, hal ini sangat membutuhkan kearifan para tokoh-tokoh politik, formal maupun informal untuk menciptaan suana yang damai, aman dan menyenangkan khususnya dalam pelaksanaan pilpress kali ini. Jangan hanya karena kepentingan kekuasaan, masyarakat menjadi korban. Mari kita ciptakan kedamaian dalam pilpress ini.[]

Permalink Leave a Comment

Kecewa dan Marah

June 19, 2009 at 07:35 (Ragam Bengkulu) (, , )

Oleh: Suharyanto

Baru-baru ini, petinggi kota merasa kecewa dengan kerusakan jalan kota. Kecewa karena jalan raya kita semakin susah dilewati dan membahayakan bagi pengguna jalan. Maka kemudian, banyak kalangan justru bertanya, kepada siapakah petinggi kota ini marah? Bukankah kerusakan ini semakin diperparah dengan lalu lalangnya truk-truk fuso yang konon katanya kendaraan tersebut masuk kota atas restu sang petinggi. Jadi kepada siapakah beliau marah?

Jika alasan marah karena jalan rusak, mestinya marahnya sudah dari dulu-dulu, soalnya kerusakan jalan bukan baru seminggu dua minggu ini. Perbaikan yang dilakukan justru memperparah kerusakan karena perbaikannya “tidak” pernah selesai. Kerusakan yang semakin menjadi juga akibat truk-truk fuso yang melintasi jalan kota. Apakah marahnya kepada “fuso?”. Jika iya, tentunya harus diikuti dengan melarang fuso melintasi jalanan kota yang memang seharusnya tidak boleh lewat di dalam kota.

Lantas marah kepada siapa? Kepada masyarakat? Bukankah seharusnya yang marah adalah masyarakat si pengguna jalan? Dengan kerusakan yang semakin parah maka perjalanan menjadi terganggu dan berbahaya? Belum lagi bila berpapasan atau bersimpangan dengan truk-truk besar? Sebagai warga kota maka pertanyaan tersebut wajar timbul. Warga masyarakat telah membayar pajak yang seharusnya dapat menikmati perjalanan yang menyenangkan di dalam kotanya sendiri. Bahkan, bisa-bisa kekecewaan ini menimbulkan kemarahan. Buktinya, sudah beberapa kali jalan yang rusak kemudian ditanami pohon pisang. Ini adalah cara protes dan menunjukkan kemarahan mereka.

Wajar masyarakat kecewa dan protes walaupun dengan cara yang agak aneh karena cara yang biasanya tidak membuahkan hasil. Berbagai cara, mulai dari kirim layanan singkat di media massa, surat pembaca, demonstrasi, dan mendatangi kantor wali kota dan lain-lain. Meskipun tidak juga membuahkan hasil, dengan menanami pohon pisang ding tempat jalan yang rusak, paling tidak mendapat tanggapan dengan mencabut pohon dan meratakan kubangan jalan dengan korang. Semua tahu bahwa “perbaikan” yang seperti itu bukanlah jawaban. Masyarakat hanyalah menginginkan respon yang kemudian akan diikuti dengan tindakan perbaikan yang sesungguhnya dan mengeliminasi faktor-faktor yang mempercepat kerusakan jalan, termasuk melarang truk fuso melewati jalan.

Pemecahan masalah fuso di tengah kota harus diselesai terlebih dahulu maka kemudian satu faktor penghancur jalan sudah teratasi, tinggal faktor-faktor lainnya. Bila ketentraman masyarakat dari pengguna jalan dapat ditunaikan maka tinggal di dalam gang, lalu di dalam rumah. Jalan, adalah awal kesan bagi orang luar kota untuk menilai kondisi di dalam rumah warganya. Bila jalan yang ada terlihat bagus, indah, elok dan lain sebagainya maka kesan ini akan menetap di memori pengunjung kota. Maka klop antara program pemerintah dengan kenyataan yang ada, yaitu menjadikan Bengkulu sebagai kota wisata yang ditunjang dengan keindahan jalanannya. Dan, tidka menutup kemungkinan adipura yang lepas dari genggaman kita akan diraih kembali. Jangan sampai masyarakat kecewa dan marah hanya karena jalan.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 18 Juni 2009

Permalink Leave a Comment

P e n c u r i

June 15, 2009 at 07:08 (Cerita) (, , , , )

(Sebuah Cerpen)

Oleh: Suharyanto

Aku dan istriku baru saja selesai membereskan pekarangan rumah baru kami ketika sinar matahari tepat di atas ubun-ubun yang tidak menimbulkan bayang-bayang badan. Kami beristirahat di emperan rumah sambil memandangi pekarangan yang baru kami bereskan dari rerumputan dan sampah-sampah.  Kebetulan hari itu kami sengaja tidak harus terburu-buru masak supaya cepat selesai membereskan rumah dan pekarangan.

Sebelumnya, rumah ini terlihat kotor dan banyak rumput liar di sekitarnya, maklum rumah yang seukuran tipe 36 yang sudah diperluas tambahan dapur ini sudah agak lama ditinggalkan pemiliknya pindah di rumah barunya yang lebih bagus dan mewah. Si pemilik adalah seorang pejabat daerah.

Mungkin karena dia seorang pejabat daerah dan banyak uang maka diapun menawarkan rumah dengan murah kepadaku sekaligus sebagai bentuk pertolongan kepada orang sepertiku. Akupun merasa bersyukur sekali walaupun bagiku tetap saja masih amat mahal. Sebagai PNS yang baru diangkat 6 bulan lalu melalui honorer golongan II, akupun mengikuti jejak rekan-rekan dan senior-seniorku menggadaikan SK PNS untuk membeli rumah ini.

Sekarang aku merasa lebih sumringah dan pede dengan memiliki rumah sendiri. Tidak seperti sebelumnya yang tinggal mengontrak 1 los kamar bedengan. Selain sempit untuk ukuran keluarga dengan dua orang anak sepertiku, juga sering terjadi salah paham dengan tetangga kamar los tentang penggunaan listrik dan air. Meteran listrik dan air bedengan 4 los kami dulu menjadi satu sehingga penggunaannya dibagi rata, tetapi di situlah perselisihan sering terjadi. Yah, sekarang kami terbebas dari itu semua. Aku sudah menjadi seorang PNS dengan rumah sendiri.

Sebenarnya kondisiku sebagai PNS dan ketika menjadi honorer dulu tidaklah jauh berbeda dalam banyak hal. Hanya sekarang aku menjadi bertambah yakin dengan statusku bila mengenakan seragam Pemda dan PNS. Terasa elegan, serasi antara pakaian dengan status. Jika ditanya orang, “Bapak bertugas dimana?” maka dengan penuh percaya diri aku jawab bersemangat. Tidak seperti waktu masih honorer dulu, justru baju seragamku menjadikan aku malu bila ditanya seperti itu. Apa lagi kalau pertanyaannya berlanjut ke job description maka aku dengan malu menambahkan jawaban “…tapi saya masih honorer…”.

Tetapi itu semua sudah tidak ada lagi. Sekarang betul-betul menikmati sebagai pegawai pemerintah daerah walaupun dengan gaji kecil. Aku dan istri kadang-kadang mengenang masa ketika masih honorer dulu. Betapa kami harus membanting tulang untuk menghidupi kedua anak kami. Selepas pulang kantor, aku masih cari obyekan lain. Lalu, keceriaan timbul ketika namaku muncul dalam daftar data base. Nama honorer yang masuk dalam data base pasti akan diangkat menjadi PNS. Kami bersujud syukur betapa akhirnya akupun siap diangkat menjadi pegawai pemerintah. Suatu harapan yang banyak diminati orang. Ini terbukti dari begitu membludaknya peserta tes CPNS dari tahun ke tahun. Ironinya, meskipun mereka tahu bahwa tes itu formalitas belaka, karena yang bakal lulus sudah ada, tetap saja diikuti. Bahkan semakin marak, termasuk aku dan istriku.

Nasib baik tengah berpihak kepadaku sehingga namaku masuk ke dalam data base sebagai honorer yang akan diangkat menjadi PNS. Tetapi inipun tidaklah selancar yang dibayangkan. Pada saat pengumuman tahun lalu namaku dan puluhan honorer data base tidak muncul, malah yang muncul nama-nama yang baru saja jadi tenaga honorer. Untungnya ada LSM dan mahasiswa serta kaum peduli pemberantasan KKN sehingga ada revisi pengumuman dan namaku tercantum di pengumuman versi revisi.

***

Pak RT lewat dan menyapa kami. Meskipun tadinya sekedar lewat, akhirnya kami terlibat perbincangan ringan. Pak RT datang kami sambut dengan senang. Maklum kami adalah warga baru jadi kedatangan orang lain apa lagi Pak RT membuat kami merasa gembira, sepertinya kedatangan kami sebagai warga baru sangat diharapkan.

“Mau ke mana Pak?” tanyaku seraya mendekat ke arah Pak RT. Rupanya Pak RT berhenti tepat di depan rumahku. Di depan gerbang dan akupun mempersilahkan masuk. Aku berbalik badan hendak masuk rumah dengan harapan akan diikuti Pak RT. Sementara istriku sudah terlebih dahulu masuk rumah.

“Biarlah Dik, di sini saja” Pak RT menolak, seraya  menawarkan  bahwa kalau perlu bantuan alat-alat buat bersih-bersih rumah bisa diambil di rumahnya. Pak RT juga memberi beberapa nasihat terutama terkait dengan keamanan rumah. Nasihatnya sangat  bisa kami terima apa lagi Pak RT sudah tua, seusia dengan orang tuaku di kampung sehingga petuah-petuahnya kami perhatikan.

“Di tempat kita ini sering diintai orang yang berniat tidak baik, Dik” Demikian Pak RT mengatakan. Katanya lagi, pencuri sering susah dibedakan dengan pemulung. Aku langsung terpikir, mungkin sama susahnya membedakan antara pejabat dengan penjahat di negeri ini.

“Kita ini serba bingung, soalnya pernah ada pemulung tertangkap tangan sedang mencongkel jendela kamar rumah Pak Dulah” kata Pak RT lagi. Mungkin ini yang menjadi alasan menyamaratakan setiap pemulung patut dicurigai sebagai pencuri.

Wah, rumah Pak Dulah saja mau dicongkel pencuri, padahal rumah Pak Dulah termasuk di deretan depan gang kami. Sedangkan rumahku agak ujung gang dan berbatasan dengan tanah berawa-rawa di bagian belakang rumah. Di bagian belakang itulah ada jalan kecil yang sering untuk lalu lalang anak-anak dan jalan pintas pemulung menuju jalan besar di sebelah kompleks. Apa lagi pagar kawat di belakang rumahku sudah banyak yang rusak sehingga sering digunakan pemulung atau anak-anak buat lewat ke gang kami.

“Jadi, Dik…” Pak RT meneruskan nasihatnya, “Nanti kalau ada rejeki sebaiknya pagar belakang itu diutamakan, diperbaiki”. Aku sudah menangkap maksudnya. Dalam hati aku sudah memikirkan perihal pagar kawat di belakang, tetapi aku tidak memprioritaskan apa lagi dikaitkan dengan pemulung yang dicurigai sebagai pencuri. Malah aku berpikir kenapa mencurigai pemulung. Bukankah mereka mencari rejeki bahkan berperan penting dalam mata rantai daur ulang. Mereka bekerja memungut barang-barang yang kita anggap sampah atau limbah untuk didaur ulang dan berdayaguna kembali. Bukankah ini peran penting bagi kelangsungan hidup di muka bumi dengan kualitas lingkungan yang tetap terjaga?

Dalam hati kecil aku tidak sanggup untuk mencurigai pemulung. Bukan saja karena aku secara sosial-ekonomi sama dengan mereka tetapi juga secara akal sulit diterima untuk mencurigai pemulung begitu saja. Tapi kenapa Pak RT sedemikian seriusnya menekankan tentang keamanan lingkungan dan pemulung. Ah, biarlah yang penting aku tidak akan ikut-ikutan berprasangka buruk dulu.

“Jadi begitu ya, Dik, supaya lingkungan kita aman” Pak RT mengakhiri perbincangan dengan kalimat kesimpulan penuh pengharapan seraya berujar “selamat berberes-beres rumah” sebagai tanda dukungan kepadaku sebagai warga baru di lingkungannya. Lalu ia meneruskan langkahnya menuju ujung gang. Entah mau ke rumah siapa, aku tidak tahu. Aku hanya mempersilakan Pak RT tanpa mengikutinya melalui pandanganku karena aku langsung masuk ke dalam rumah. Beristirahat.

***

Sore itu, di hari yang lain aku dan istriku tidak bersih-bersih dan beberes karena keadaan rumah dan sekitarnya sudah tampak bersih dan tertata rapi. Hari itu istriku hanya mencuci pakaian kotor kami yang kini sedang bergantungan di jemuran samping rumah. Meski terlihat sudah kering, kami belum ingin mengangkatnya. Kami merasa belum kering betul.

Istriku pergi ke warung depan gang membeli beberapa keperluan sehari-hari sekalian membelikan jajan anak-anak. Si kecil, tentu saja, digendong istriku dan yang besar, bersamaku di rumah. Tiba-tiba istriku kembali dan memberitahuku bahwa di depan rumah pak RT banyak orang berkerumun lantas istriku menyuruhku ke sana karena siapa tahu ada pertemuan warga. Akupun pergi ke rumah Pak RT bersama anakku yang besar sementara istriku pergi ke warung yang memang melewati depan rumah Pak RT.

Ternyata, para warga sedang membicarakan, menanyakan dan mendiskusikan perihal Pak Dulah yang sedang tersandung perkara korupsi di kantor pemerintah daerah. Aku memang tidak banyak tahu berita tentang hal tersebut. Apa lagi aku pegawai sebuah dinas teknis milik pemda, jadi tidak begitu tahu dengan kasus Pak Dulah. Rupanya berita itu dimuat di Koran. Wajarlah, soalnya Pak Dulah adalah tergolong pejabat di jajaran pemerintah daerah. Ternyata para warga merasa bahwa Pak Dulah ini banyak membantu kegiatan di lingkungan RT kami sehingga warga banyak yang bersimpati. Aku yang merupakan warga baru, sekalipun tahu Pak Dulah karena sama-sama satu kantor pemerintah daerah, aku belumlah merasa dekat. Bahkan aku berpikir jika memang Pak Dulah terlibat korupsi ya harus menanggung risikonya. Bagiku korupsi dan maling adalah sama saja, pencuri.

Aku jadi teringat cerita Pak RT tentang keamanan lingkungan dari para pemulung. Kenapa mencurigai pemulung? Kenapa kita tidak mencurigai pejabat? Toh nyatanya sekarang yang sedang berkasus korupsi adalah pejabat daerah, yang nota bene ada di lingkungan kita sendiri. Kita ternyata juga tidak adil cara memperlakukan orang karena statusnya.

Setelah berbincang-bincang dan tahu apa yang tengah terjadi, akupun pulang ke rumah. Kebetulan istriku juga sudah selesai berbelanja dan kamipun pulang bersama. Setiba di rumah, setelah istriku meletakkan belanjanya dan aku sedikit menceritakan apa yang terjadi di rumah Pak RT, istriku pergi ke samping rumah untuk mengangkat pakaian yang tadi di jemur.

“Yah.. Ayah…” istriku berteriak memanggilku.

“Ada apa!” sahutku sambil menengok ke arah istriku.

“Pakaian kita Yah… sebagian hilang” kata istriku dengan lemas.

“Astaga…!” teriakku sambil menyesal kenapa tadi tidak diangkat dulu sebelum meninggalkan rumah. Istriku terisak, menangis. Yah, beberapa celana panjangku dan satu buah jaket lenyap.

“Siapa yang berani berbuat seperti ini” gumamku. Begitu cepat kejadiannya. Oh, pencuri.

***

Bengkulu, 15 Juni 2009

Permalink Comments Off

Titi DJ

June 12, 2009 at 04:38 (Ragam Bengkulu)

Oleh: Suharyanto

Siapakah orangnya yang tidak kenal Titi DJ? Rasanya kebanyakan kita mengenal sosok yang satu ini. Ia seorang penyanyi papan atas Indonesia yang juga mendapat julukan diva pop Indonesia. Sebuah julukan yang memperlihatkan si empunya nama sebagai “empu” dalam dunia tarik suara.

Namun, dalam dunia plesetan, kita juga mahfum dengan istilah Titi DJ. Biasanya kalangan remaja atau orang dewasa yang sedang plesetan, istilah ini biasa digunakan bila temannya akan bepergian. “Titi DJ, ya”. Maksudnya “hati-hati di jalan”. Kemudian dilanjutkan dengan “Dedi Dores, ya”. Kali ini maksudnya “dengan diiringi do’a restu”. Dedi Dores juga seorang penyanyi papan atas era 80-an. Demikianlah plesetan segar dengan mengambil nama-nama orang terkenal.

Saya tertarik dengan Titi DJ. Maksudnya plesetan hati-hati di jalan, bukan sosok Titi DJ-nya. Hati-hati di jalan memang sangat diperlukan demi keselamatan pengguna jalan dan masyarakat umum. Banyak kecelakaan yang terjadi karena para pengguna jalan tidak berhati-hati di jalanan. Bahkan, di salah satu pinggir jalan di kota kita ada tulisan yang menginformasikan pentingnya berhati-hati di jalan. “Jangan tumpahkan air mata dan darah sia-sia di jalan ini”, demikian kira-kira pesannya. Belakangan ini, di dinding facebook, Walikota juga menyampaikan pesan agar masyarakat pengguna jalan berhati-hati karena sedang ada perbaikan jalan.

Pesan Walikota tersebut menekankan pada alasan sedang ada perbaikan jalan. Dengan adanya perbaikan jalan maka banyak gangguan dalam perjalanan. Oleh karena itu perlu berhati-hati. Kita tidak tahu sampai kapan perbaikan itu berlangsung. Yang jelas, tentang berhati-hati di jalan harus selalu sepanjang menggunakan jalan dan dalam kondisi apapun jalan itu. Pun, sebenarnya, sudah cukup lama jalan raya di kota kita butuh perbaikan total. Bukan baru-baru ini saja. Banyak ruas jalan kota yang berlubang, berkubang dan bergelombang. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan lalu-lalangnya truk-truk besar melintasi jalanan kota. Wal hasil lubang, kubang dan gelombang jalan semakin berkembang.

Inilah kondisi infrastruktur kota (dan Provinsi kita). Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu singkat menjadi berlarut-larut di atas jalanan. Kendaraan yang seharusnya tidak boleh melintasi kota, malah diperbolehkan. Tingkat kerusakan dan gangguan lingkungan menjadi meningkat. Lalu, masyarakat protes, tetapi kemudian “tidak ditanggapi”. Maka, jalan yang di tempuh adalah dengan menanami pepohonan di tempat rusaknya jalan. Ternyata cara ini menarik perhatian sehingga segera diberikan tindakan berupa “perbaikan” sementara. Perbaikan yang sesungguhnya juga kita tidak tahu sebab, setiap hari kita hanya melihat seperti itu terus: pemerataan, penambahan koral, pemerataan, penimbunan koral dan seterusnya. Praktis, jalan kita semakin tidak layak berada di tengah kota.

Jadi, kita harus semakin berhati-hati di jalan. “Titi DJ, ya”.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 12 Juni 2009.

Permalink Leave a Comment

Meniti Jalan Kota

June 5, 2009 at 01:56 (Ragam Bengkulu) (, )

Oleh Suharyanto

Menelusuri seluk beluk Kota Bengkulu, sesungguhnya cukup mengasikkan. Sekalipun kata orang Bengkulu merupakan Kota kecil untuk ukuran ibukota sebuah provinsi, sebenarnya Kota ini memiliki kekhasan. Masing-masing kota memiliki cirri khas masing-masing. Di kota ini, hampir setiap simpang terdapat tugu. Ada tugu yang tepat di tengah-tengah persimpangan, ada pula yang tidak tepat di tengah-tengah. Peraturan memutari tugu persimpangan bagi kendaraan yang akan belok kanan menjadi kewajiban, oleh karenanya kadang cukup merepotkan bila posisi tugu tidak ada di tengah-tengah. Kadang-kadang jika hendak belok ke kanan, berhubung harus memutari bundaran (tugu) yang posisinya jauh ke arah sebelah kiri justru terasa jauh dan merepotkan. Malahan, deratan kendaraan dari posisi kita belum selesai memutari tugu, kendaraan dari simpang di sebelah kanan kita sudah lampu hijau, otomatis mereka berjalan dan akhirnya kendaraan bertemu di tengah-tengah jalan simpang. Tapi unik juga, jika dinikmati. Masing-masing kota punya proble sendiri-sendiri.

Namun demikian, karena kota kecil, maka tidaklah sampai meinmbulkan kemacetan. Suasana kota yang tenang tetap terasa. Di kota ini juga tidak ada rumah yang nyaris berbatasan langsung dengan badan jalan sebagaimana ditemui di kota-kota lain. Beberapa ruas jalan dua jalur cukup rindang oleh pepohonan kota. Hanya pada ruas dua jalur baru yang masih gersang, mungkin belum akan ditanami hijauan. Dulu ada yang coba di tanam pohon Jarak untuk menunjukkan bahwa Bengkulu peduli dengan sumber energi alternatif biodiesel sekalipun sekarang kita tidak tahu lagi kelanjutannya, tetapi pohon jara itu mati semua. Sekalipun tidak ada hijauan terbuka, kota ini masih terasa hijaunya karena memang populasi manusia dan kendaraan relatrif masih sedikit dan hijauan tanaman penduduk masih banyak. Tidak tahu beberapa puluh tahun yang akan dating. Ini musti ada perencanaan kota yang baik supaya tidak terjadi kesemerawutan kota masa depan seperti yang sekarang terjadi di kota-kota besar.

Suasana damai, sejuk, hijau dan beberapa jenis ketenangan lainnya nampaknya mulai memudar. Bukan oleh pertumbuhan kota, tapi oleh kerusakan ruas jalan kota. Jalan-jalan kota ini banyak yang bergelombang, berlubang, berkubang, aspal pecah, tinggal berkoral saja dan lain sebagainya. Debu beterbangan kian kemari terhempas oleh debutan truk-truk besar yang seharusnya tidak boleh melintasi jalan tengah kota. Sekarang juga semakin banyak ditemui lubang dan kubang jalan kota akibat tidak kuat menahan beban kendaraan besar melintas. Tak ayal lagi, protespun berdatangan dari segenap lapisan masyarakat. Tetapi nampaknya kucing-kucingan masih tetap terjadi. Malahan, ada warga yang kembali menanam pohon pisang di tengah jalan tepat pada lubang atau kubang jalan. Mereka protes dengan cara seperti itu karena melalui jalur yang semestinya tidak membuahkan hasil. Jika hal seperti ini tetap berlanjut maka di tengah-tengah jalanan kota kita akan menjadi kebun pisang. Jika musim hujan datang, tidak menutup kemungkinan kubangan di tengah jalan tak ubahnya kubangan kerbau. Apakah bentuk protresnya nanti dengan menambatkan kerbau di tengah jalan? []

Bengkulu Ekspress, Jumat 5 Juni 2009.

Permalink Leave a Comment

Gunung Api di Laut Bengkulu

May 29, 2009 at 04:46 (Berita, Ragam Bengkulu) (, , , , , , )

Inilah temuan terbaru ahli geologi. Mereka menemukan gunung berapi di lautan Bengkulu. Tepatnya 330 barat Bengkulu. Berita lengkapnya berikut ini

Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Kamis, 28 Mei 2009 | 18:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatera. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dan berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.

Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

“Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).

Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330 km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.

“Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera.

Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).

WAH
Sumber : Antara

Permalink 1 Comment

Jembatan Sungai Serut

May 25, 2009 at 01:52 (Ragam Bengkulu) (, , , , , , , , , , )

Sungai Serut mengalir dengan tenang menuju muara (foto diambil dari atas jembatan)

Sungai Serut mengalir dengan tenang menuju muara (foto diambil dari atas jembatan)

Oleh: Suharyanto

Sekecil apapun, Bengkulu juga memiliki potensi wisata yang bila dikelola dengan baik akan mendatangkan nilai plus bagi kota dan provinsi ini. Salah satu objek wisata yang berada di Kota Bengkulu adalah kawasan pantai Jakat. Pantai ini persis berada di teluk antara daratan Pasar Bengkulu dan Pantai Tapak Paderi. Pantai ini sebenarnya lebih merupakan kawasan nelayan masyarakat Pasar Bengkulu dan sekitarnya. Semenjak dibukanya jalan lingkar luar yang menghubungkan Sungai Hitam (perbatasan Kota dengan Bengkulu Tengah hingga ke Pantai Panjang Bengkulu, kawasan ini menjadi ramai dan menarik untuk dikunjungi.

Pada saat-saat tertentu, sabtu sore, hari minggu atau hari-hari libur, kawasan lingkar luar dari Sungai Hitam hingga Pantai Panjang ramai saling sambung-menyambung, terutama di sore hari. Kali ini, saya coba tampilkan sepotong senja di seputar jembatan Sungai Serut, Bengkulu.

Jembatan Sungai Serut di suatu sore. Jembatan ini menghubungkan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam.

Jembatan Sungai Serut di suatu sore. Jembatan ini menghubungkan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam.

Sebuah cerita kebetulan saja saat saya jalan-jalan di sore hari di kawasan pantai di Kota Bengkulu. Saya memasuki kawasan pantai dari Pantai Panjang terus menelusuri jalan lingkar luar hingga tembus di Tapak Paderi dan terus ke Pantai Jakat hingga Jembatan Pasar Bengkulu-Sebuah jembatan yang menghubungan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam. Nah, dari Jembatan ini mula pertama terinspirasi untuk menampilkan cerita yang dihiasi gambar terkait. Tentu saja apa yang saya sampaikan ini bukanlah sebuah reportase atau sejenisnya.

Dulu, jalan yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan kawasan di utaranya melalui Pasar Bengkulu menuju Sungai Hitam melalui sebuah jembatan yang melintasi batang Sungai Serut. Jembatan lama tersebut terletak di sebelah hulu dari jembatan yang baru sekarang ini. Jembatan yang baru sekarang, selain untuk jalan penghubung, juga menjadi objek wisata. Sore itu nampak muda-mudi sedang berjajar menikmati pemandangan sore hari dari atas jembatan yang melintasi Sungai Serut. Apakah muda-mudi yang sedang asyik menikmati sore hari di atas sungai itu menyadari bahwa dari situlah nama Bengkulu terlahir, termasuk nama-nama yang menjadi legenda Bengkulu seperti Putri Gading Cempaka.

Sungai Serut, sebuah nama yang amat lekat dengan sejarah Bengkulu, yaitu kerajaan Sungai Serut. Menurut setengah cerita, dari Sungai Serut ini lahir nama yang sekarang menjadi Bengkulu. Ceritanya, ada

pembesar Kerajaan Aceh yang menyukai Putri Gading Cempaka, putri bungsu dari Raja Sungai Serut (Ratu Agung). Namun, masih

Tugu ini sebagai peringatan perjuangan pejuang Bengkulu melawan penjajah. Berdiri tegak di samping jembatan Sungai Serut.

Tugu ini sebagai peringatan perjuangan pejuang Bengkulu melawan penjajah. Tugu ini berdiri tegak di samping jembatan Sungai Serut.

menurut legenda, pihak Putri Gading Cempaka tidak berkenan sehingga terjadilah pertempuran dahsyat di sungai itu. Begitu dahsyatnya sehingga memakan korban kedua belah pihak yang amat banyak sehingga korban manusia berjajar-jajar dari muara hingga ke hulu. Banyak bangkai berhulu-hulu. Mungkin ini yang menelurkan nama Bangkahulu. Tentu saja ada teori lain yang menyebutkan tentang asal usul nama Bengkulu.

Di dekat jembatan terdapat tugu perjuangan. Sebuah tugu peringatan yang menandakan bahwa di kawasan tersebut pernah terjadi pertempuran heroik antara pejuang-pejuang Bengkulu melawan Belanda pada masa perang kemerdekaan. Semoga semangat perjuangan mereka tidak luntur tergilas oleh arus zaman. Semoga itu bukan sekedar tugu bisu yang di sebelahnya selalu ramai oleh muda-mudi (termasuk diriku) yang sekedar jalan-jalan. Justru seharusnya kita (kami) meneruskan semangat perjuangan mereka. Sungguh, ini suatu pemandangan yang ideal di mana Sungai Serut sebagai urat pangkal sejarah Bengkulu hadir, dan di sebelahnya terdapat simbol perjuangan. Dua simbol ini hendaknya diketahui dan dimaknai kembali nilai-nilai kesejarahan dan perjuangannya oleh siapapun yang melintasi dan menikmati pemandangan.[]

Bengkulu, 25 Mei 2009.

Dimuat di Bengkulu Ekspress, Jumat 29 Mei 2009.

Permalink Leave a Comment

Kebangkitan

May 22, 2009 at 02:22 (Artikel Umum) (, , , , , , , , , , )

 Oleh: Suharyanto

         Tepat 20 Mei, bangsa Indonesia kembali memperingati hari yang disebut dengan Kebangkitan Nasional. Hari dimana momen penting dalam babak sejarah nasional Indonesia modern dimulai, yaitu 20 Mei 1908 tatkala dibentukknya organisasi Budi Utomo (BU). Terlepas dari kontroversi, yaitu sebagian tokoh nasional masih memandang bahwa berdirinya BU bukanlah tonggak kebangkitan nasional karena corak BU yang masih bersifat kedaerahan. Kalangan yang kontra tersebut mengajukan hipotesis bahwa kebangkitan nasional hendaknya diawali dari berdirinya suatu organisasi yang bukan bersifat kedaerahan tertentu dan cakupannya nasional Hindia belanda dan ini lebih tepat diatribusikan pada Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905. Kelompok ini mengemukakan bahwa SDI lebih bercorak nasional (bukan kedaerahan) dimana kepengurusannya mencakup wilayah Hindia Belanda dan bersifat anti kolonial Belanda.

        Terlepas dari kontroversi, bagaimanapun kebangkitan suatu bangsa seperti Indonesia memiliki arti penting bagi generasi anak bangsa selanjutnya sebagai pedoman memaknai kebangkitan di eranya masing-masing. Jika pada awalnya, kebangkitan yang dimaksud adalah gerakan penyadaran dan kesadaran akan pentingnya persatuan nasional dan perjuangan secara politik maka sekarang adalah bagaimana mengaktrualisasikan nilai-nilai tersebut dalam konteks kekinian bangsa Indonesia. Di era perang kemerdekaan, kebangkitan adalah perlawanan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa orde baru lebih dimaknai sebagai upaya pembangunan nasional. Lantas di era reformasi ini haruslah dimaknai dengan nilai-nilai reformasi secara positif.

        Nilai reformasi yang diperjuangkan pada 1998 adalah memperjuangkan kebebasan dari sistem tiranik dan represif. Maka lahirlah demokratisasi seperti yang dirasakan saat ini. Banyak kalangan menilai ini sudah saatnya untuk meninggalkan masa transisi, artinya, proses transformasi dari masa “belum demokratis” menjadi masa yang “lebih demokratis” harusnya sudah lebih bersifat substansial ketimbang prosedural. Sayangnya, masih banyak yang menilai bahwa proses demokratisasi kita masih terbatas pada proses prosedural.  Celakanya, banyak aktor politik yang justru terjebak dan menjustifikasi proses prosedural ini. Prinsip-prinsip berdemokrasi, berpolitik, menyampaikan pendapat dan aspirasi, menjalankan pemerintahan dan lain sebagainya banyak mengabaikan prinsip-prinsip kebaikan dan kebenaran substansial. Semua itu dilakukan karena kepentingan pragmatis semata.

        Apa yang tengah berlangsung akhir-akhir ini, sehubungan dengan momen kebangkitan nasional, maka kiranya perlu direnungkan kembali apakah kita benar-benar sedang bangkit sebagaimana yang dicita-citakan pada awal kebangkitan dan gerakan reformasi digulirkan. Jika dahulu merupakan gerakan penyadaran dan kesadaran nasional mengorganisasikan diri untuk menlenyapkan kolonialisme di Indonesia dengan sebuah kesadaran kolektif nasional, maka sekarang perlu diaktualkan dalam bentuk penyadaran dan kesadaran nasional akan pentinya reformasi, ketebukaan dan demokratisasi yang lebih substansial. Lebih mengedepankan nilai-nilai luhur, etika dan kepentingan nasional. Sebab masih banyak hal yang harus dilakukan ketimbang hiruk-pikuk mabuk kepayang oleh adanya kebebasan saat ini.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 22 Mei 2009

Permalink Leave a Comment

Babi

May 15, 2009 at 08:52 (Artikel Umum) (, , , , , )

 

Oleh : Suharyanto

 

 

            Belum begitu lama, Indonesia digemparkan oleh adanya temuan dendeng dan abon babi dengan cap sapi. Kini, seluruh dunia digegerkan dengan adanya flu babi yang disebabkan oleh virus H1N1. Untuk berita yang kedua, layak semua orang panic karena ini terkait dengan kesehatan manusia secara keseluruhan. Sedangkan untuk berita yang pertama, kepanikan dirasakan oleh konsumen muslim. Jelas, karena hewan ini merupakan hewan yang diharamkan secara agama. Barang siapa yang mengkonsumsi sesuatu yang berasal darinya maka balasannya adalah neraka.

            Demikianlah kemutlakannya babi. Nah, berhubung merupakan hewan yang benar-benar mutlak keharamannya maka banyak pemuka agama yang mengupas hewan ini dari segi tabiat, perilaku dan dampak negatif yang diakibatkan oleh babi. Terlebih lagi dengan adanya flu babi, ini semakin mengukuhkan nalar keharaman babi. Barangkali karena kecintaannya terhadap umat supaya berhati-hati terhadap satu jenis hewan ini maka tulisan, dakwah dan penjelasan mengenai babi sebegitu dalamnya mulai dari perilaku makan yang menyosor tanah dan comberan, jenis yang dimakan yang begitu menjijikkan seperti cacing dan kotornnya sendiri, hingga ke perilaku seksualnya, yang konon katanya libidonya sangat tinggi dan lain sebagainya. Belum lagi bila dikaitkan dengan sumber penyakit seperti cacing pita. Sudah banyak orang mengatakan bahwa daging babi merupakan tempat tumbuhnya cacing pita. Singkat kata, babi digambarkan sedemikian rupa bahwa hewan ini merupakan hewan yang menjijikkan, jelek, nista dan berbahaya seakan-akan hewan ini membawa sial dan perlu dimusnahkan karena hewan haram.

            Kita mungkin lupa bahwa babi, bagaimanapun, adalah makhluk ciptaan Allah juga. Kitapun tahu bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah itu bukanlah sia-sia, pasti ada maksud dan tujuannya. Jika babi digambarkan sebagai hewan yang suka memakan kotorannya sendiri, kitapun bisa menyaksikan kambing yang juga suka meminum air kencingnya sendiri. Perilaku ini tidaklah aneh bagi dunia hewan. Kambing membutuhkan zat-zat tertentu yang bisa didapat dari air kencingnya. Tentang cacing pita, kambing dan sapi juga tempat yang baik bagi berkembangnya cacing pita. Jika ada flu babi maka ada juga flu burung (ayam). Jadi, sama saja. Oleh karenanya justifikasi mengapa babi haram bukanlah sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan jelek (menurut ukuran manusia), dan sehat atau tidaknya dagingnya. Kita tidak tahu pasti kenapa babi haram. Yang jelas di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa babi adalah haram, titik. Tidak perlu penjelasan yang diilmiah-ilmiahkan. Malah bias kontra produktif karena sifat dan perilaku jelek babi juga ditemui pada hewan lain yang halal.

            Perlu diketahui, babi yang umum dikonsumsi orang-orang barat adalah daging babi yang berasal dari peternakan terbaik dimana babi-babi tersebut diberi pakan yang kualitasnya justru lebih baik daripada kualitas makanan rata-rata orang Indonesia. Jadi, justru babi-babi itu memakan makanan yang baikl, tapi yang namanya haram ya tetap haram. Tidak perlu penjelasan yang sok diilmiah-ilmiahkan.

            Satu hal lagi, berdasarkan temuan ilmiah, justru struktur DNA babi mirip dengan DNA manusia. Banyak penelitian obat sebelum diaplikasikan ke manusia, diaplikasikan ke babi terlebih dahulu. Lagi pula, organ-organ penting babi mirip dengan manusia, jenis makanan babi dengan manusia juga sama, system pencernaan babi juga sama dengan manusia yaitu sama-sama monogastrik (berlambung tunggal) dan ini berbeda dengan kambing, sapi, kerbau dan domba yang berlambung ganda (poligastrik). Konskuensi dari perbedaan jenis perut ini adalah pada jenis makanannya. Jika sama jenis perutnya maka makananannya juga memiliki kesamaan jenis.

Jadi keharaman babi tidaklah bias dijelaskan secara nalar. Haram ya haram. Tetapi bukan berarti menistakan babi begitu saja seakan-akan makhluk satu ini harus dimusnahkan dari muka bumi. Allah telah menciptakan makhluk dengan tujuan-tujuan tertentu, tanpa kesia-siaan.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 15 mei 2009.

Permalink Leave a Comment

Kalah Curang

May 11, 2009 at 02:40 (Artikel Umum) (, , , , , , , , )

Oleh: Suharyanto

Akhirnya, setahap demi setahap, setapak demi setapak penghitungan suara pemilihan umum legislatif sudah dilakukan. Banyak kalangan menilai bahwa penghtungan suara pemilu kali ini berjalan sangat lambat, alot, banyak protes sana-sini dan kekisruhan-kekisruhan lainnya. Belum lagi bila ditambah dengan keksruhan Daftar Pemilih Tetap, maka pemilu kali ini dinilai paling buruk dalam sejarah pemilu di Indonesia.

Kembali pada penghitungan suara. Jika pemilu sebelumnya, persaingan kandidat lebih kepada persaingan antar partai maka kali ini justru persaingan yang amat ketat dan berat adalah persaingan antar kandidat dalam satu partai. Sudah menjadi rahasia umum bahwa intrik-intrik untuk menuju kursi legislatif amatlah menyeramkan. Telikung sana,telikung sini. Bahkan, konon, terjadi pengalihan perolehan suara dari satu kandidat ke kandidat lain dalam satu partai. Memang, jumlah suara parpol secara keseluruhan tidaklah berubah, tetapi yang berubah adalah orang yang akan mewakili partai ke kursi legislatif. Jadi, “musuh” utama adalah teman separtai. Oleh karenanya, tidak sedikit kandidat yang merasa “dicurangi” justru bersahabat dekat dengan kandidat dari partai lain yang juga merasa dicurangi oleh teman separtainya.

Ternyata aroma telikung menelikung ini terjadi marak dan massal. Siapapun pasti akan melakukannya demi kursi legislatif. Apa lagi, para kandidat kali ini lebih banyak diisi oleh orang yang sebenarnya “sedang mencari pekerjaan”. Bukan oleh mereka yang memang terjun di dunia politik sebagai pengabdian hidupnya. Kepentingan pragmatis jangka pendek lebih mengemuka ketimbang kepentingan khalayak ramai sesuai dengan idealisme berpolitik, berbangsa dan bernegara. Wajar pula bila banyak kalangan yang menilai bahwa para penikmat kursi legislatif kali ini tidak lebih baik dari yang lalu.

Logika politik nasional kita memang suatu anomali dalam teori dan praktik politik di muka bumi. Sistem pemerintahan yang dianut adalah presidensial tetapi praktiknya parlementer. Politisi, pejabat, atau tokoh yang sebelumnya berseberangan, tiba-tiba bersahabat dekat, begitu pula sebaliknya. Semua terjadi secara tiba-tiba dan mengejutkan dan keterjadiannya lebih kepada kepentingan personal, tetapi mampu menarik gerbong politik. Konon yang katanya bernama koalisipun tak ubahnya hanya bikin blok-blokan yang dilandasi kepentingan pragmatis dan amat personal. Tidak ada “koalisi” berdasarkan platform, ideologi dan kesamaan cara pandang mengelola negara. Sepertinya dbutuhkan teori politik tersendiri untuk menjelaskan fenomena perpolitikan yang terjadi di Indonesia. Jika Miriam Budiarjo masih ada, beliau tentu akan mengecualikan praktik perpolitikan kita dalam bukunya teori politik, saking anomalinya sistem kita.

Barangkali karena berawal dari anomali yang demikian maka di bagian hilirnyapun terjadi penyimpangan. Semua mengalami penyimpangan tak terkecuali. Di kedai-kedai kopi, tempat nongkrong-nongkrong sekelompok orang, pembicaraan selalu terfokus pada kecurangan si A terhadap si B dalam satu partai. Katanya si A mestinya suaranya tidak sebanyak itu. Begitulah. Tetapi ada juga yang menimpali, sebenarnya si B pun melakukan hal yang sama, hanya si B kalah curang dibanding dengan si A.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 8 Mei 2009

Permalink Leave a Comment

Ujian Kejujuran

April 30, 2009 at 01:57 (Artikel Umum) (, , , , )

Oleh: Suharyanto

Minggu-minggu ini, dunia pendidikan kita tengah disibukkan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN), baik tingkat SLTA maupun SLTP. Untuk tingkat SLTA telah berlangsung minggu lalu dan kita dikejutkan dengan adanya berita perbuatan curang beberapa oknum kepala sekolah dan guru untuk alasan “menolong” siswanya supaya mendapatkan nilai yang baik.

Mengapa sampai terjadi “perbuatan tidak terpuji” seperti itu? Bukankah kejadian serupa pun terjadi pada UN tahun lalu, dimana beberapa oknum guru tengah mengerjakan soal UN untuk menggantikan hasil kerjaan siswanya dan kemudian tertangkap tangan oleh Densus 88 antiteror. Tidakkah hal tersebut mejadikan pelajaran berharga? Belum lagi bentuk-bentuk kecurangan yang lain yang mungkin tidak kita temui tetapi dapat “dirasakan” aromanya.
Mengapa tiap kali pelaksanaan UN banyak pihak mengalami stress, mulai dari orang tua murid, guru dan bahkan kepala sekolah? Bagi orang tua murid jelas mereka cemas, takut putra-putrinya tidak lulus. Bagi guru dan kepala sekolah barangkali terkait dengan reputasi diri dan sekolah yang bersangkutan. Belum lagi bila keberhasilan (dengan tingkat kelulusan tertentu), taruhannya adalah kedudukannya, jelas ini merupakan sesuatu yang “masuk akal” bila kemudian guru dan kepala sekolah merasa was-was dengan hasil UN.

Apakah hal tersebut merupakan justifikasi pentingnya pengawas dan pemantau independent dalam UN? Seperti kita ketahui, akhir-akhir ini, pelaksanaan UN harus diawasi oleh Pengawas Independen untuk ”menjamin” pelaksanaan UN berlangsung dengan fair. Walaupun ini tidak menjadi jaminan karena kebocoran bisa terjadi di banyak lini yang tidak terjangkau oleh pengawas independen. Namun dengan adanya pengawas independen menunjukkan bahwa paling tidak pelaksanaan UN yang sudah-sudah dicurigai tidak berlangsung dengan jujur, sebagaimana terlihat dari beberapa kasus dalam UN.

Yah, itulah keprihatinan kita. Kejujuran pelaksanaan UN sudah diragukan sehingga perlu adanya pengawas independen. Laksana pemilu saja, yang memerlukan pengawas dan pemantau independen demi pemilu yang LUBER. Jika dari tingkat sekolah sudah diawali dengan ketidakjujuran, lantas bagaimana dengan kelanjutannya? Inilah krisis pendidikan kita yang sesungguhnya. Sekolah, atau tepatnya pendidikan sudah menjadi objek penderita. Sekolah sudah menjadi ajang permainan pejabat politik, lebih-lebih menjelang pemilu, para petinggi daerah mematok target tertentu. Kedudukan guru dan kepala sekolah menjadi terancam oleh tindakan politis para pejabat politik sehingga untuk mengamankan kedudukannya bertindaklah di luar kejujuran, kasak-kusus tak tentu arah. Nilai-nilai kemandirian dan kejujuran dalam proses pendidikan selama tiga tahun hilang seketika hanya beberapa hari. Proses pendidikan yang juga berlangsung selama 3 tahun harus ditentukan oleh ujian ”kognitif” beberapa hari saja. Sekolah (guru dan kepala sekolah) benar-benar tidak memiliki akses untuk menilai dan menentukan kelulusan murid. Padahal mereka yang tahu persis akan siswa-siswanya. Sebuah sistem yang patut untuk dievaluasi.[]

Bengkulu Ekspress, Rabu 29 April 2009

Permalink Leave a Comment

Salah Contreng

April 28, 2009 at 04:57 (Artikel Umum) (, , , , )

Oleh: Suharyanto

Usai sudah hajatan lima tahunan, pemilihan umum legislatif. Kini kita tinggal menunggu hasil perolehan secara resmi dari KPU meskipun prediksi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey telah pula dipublikasikan. Selanjutnya kitapun menunggu pemilihan umum presiden bulan Juli mendatang.

Pemilihan legisltaif telah berlalu dengan segala cerita amburadul dan kesuksesan yang saling seiring berjalan. Di sela-sela carut marut dan klaim kesuksesan, saya sempat mendapati adanya cerita menarik, lucu tepatnya, seputar pencontrengan. Setelah selai mencontreng, 4 April 2009 – setelah mengantri lama – saya menemui beberapa masyarakat ibu-ibu yang, maaf, kurang berpendidikan. Macam-macam cerita yang keluar dari mereka. Ada yang karena grogi, akhirnya asal mencontreng tanpa mengetahui siapa yang harus dicontreng. Ada juga yang mencari-cari nama kandidat tidak ketemu-ketemu akhirnya dipilihlah yang mudah terbaca saat itu. Nah, ada juga yang bingung mencari kandidat yang kebetulan nama panggilannya bukan nama yang sebenarnya sebagaimana tertera dalam kartu suara. Ini yang juga mencelakai perolehan suara si kandidat.

Untuk yang terakhir ini kejadiannya cukup sering. Kandidat yang terlanjur terkenal dengan nama alias, misalnya namanya X, tapi terkenal dengan sebutan Buyung Gondrong, sekali lagi ini misal. Maka puaslah pemilih itu mencari-cari nama Buyung Gondrong, dan memang tidak akan pernah ada di kartu suara. Ada juga orang yang misalnya bernama “Lazuardi”, dari kata tersebut terpanggilah menjadi “Edi”. Nah, kebetulan ada lebih dari satu “Edi” sehingga ada tambahan panggilan, umpamanya jenis pekerjaannya, sifatnya, performansnya dan lain-lain. Apa lagi bagi masyarakat kita, sebagaimana Andrea Hirata katakana dalam tetraloginya Laskar Pelangi bahwa masyarakat Melayu suka memberi julukan pada orang dengan menambah-nambahkan panggilan sesuai dengan karakter, profesi, kejadian penting dan lain-lain. Maka tak pelak lagi si “Edi” tadi mendapat tambahan panggilan, katakanlah ”Mancung” karena hidungnya yang mancung. Maka jadilah ia dipanggil Edi Mancung.

Maka, sekalipun ia menuliskan nama asli yang diberi kurung nama panggilan dalam sosialisasi dan kampanye melalui stiker, spanduk, baliho dan lain-lain, masyarakat terutama kalangan bawah tidaklah secara otomatis faham bahwa orang tersebut nama aslinya adalah berbeda dengan panggilan. Jadinya dengan berlama-lama mencari nama Edi Mancung tidaklah akan ketemu. Inilah, bahwa nama Edi Mancung sudah melekat di alam bawah sadar masyarakat kalangan bawah, karena julukan atau panggilan inilah yang selalu hadir di pikiran dan perasaan orang sekitarnya. Ini sudah sedemikian melekat sehingga tidak bisa secara cepat menemukan atau mengenali kembali bahwa nama sang kandidat yang akan dipilih namanya bukan Edi Mancung, melainkan Lazuardi. Suatu nama yang tidak menyangkut secara persis, berbeda misalnya namanya Edi XXXX yang jelas-jelas mengandung kata Edi.

Demikianlah sedikit pernak-pernik pemilu kali ini.

Permalink 1 Comment

Untuk Para Calon

April 7, 2009 at 03:57 (Artikel Umum) (, , , , , , , , , , , , , , , )

Oleh: Suharyanto

Kamis, 9 April 2009, kita, warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dan mau menggunakan hak pilihnya, akan memilih wakil-wakil kita di lembaga legislatif semua tingkatan pemerintahan dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Soal memilih wakil rakyat bukanlah barang baru bagi kita. Kita sudah melewati beberapa kali pemilihan umum dengan berbagai sistem, jadi rasanya sudah terbiasa dan bisa. Perbedaan dari pemilu ke pemilu tidaklah terlalu besar semisal cara memilih dari mencoblos menjadi mencontreng. Juga, ukuran kertas suara yang berubah sesuai dengan peserta pemilu baik dari jumlah partai maupun jumlah orang. Demikian juga dengan cara penghitungan perolehan suara dari nomor urut menjadi suara terbanyak, dan lain-lain yang semua itu tidak terlalu penting bagi pemilih.

Bagi pemilih, yang penting adalah bahwa apa yang telah dijanjikan selama kampanye dan sosialisasi haruslah ditunaikan dengan seksama. Ini yang menjadi perhatian pemilih. Pemilih mengharapkan bahwa mereka yang mencalonkan diri untuk dipilih adalah orang-orang yang memilkiki kemampuan untuk berbuat demi menyampaikan, melaksanakan dan mengawal aspirasi pemilih. Maka, mau tidak mau para calon harus siap dengan segala risiko dan konskuensi.

Jika selama ini banyak sekali kampanya bernada membujuk menyeru dan “membeli” pemilih untuk memilih calon-calon, maka setelah terpilih maka siaplah mereka berdiri di garda depan untuk kepentingan rakyat. Nah, hal yang seperti ini yang justru terlihat sebaliknya jika dilihat dari fenomena perilaku anggota legislatif di semua tingkatan. Maka tidaklah heran jika kemudian ada masyarakat yang menganggapinya secara apatis atas pelaksanaan pemilu dan hasilnya. Dalam pergaulan sehari-hari, masyarakat sudah jenuh dan muak dengan sajian tentang perilaku anggota legislatif.

Maka, bersiaplah wahai para calon untuk siap melaksanakan segala konskuensi baik terpilih maupun tidak terpilih. Kalian telah mendeklarasikan diri untuk bisa menjadi wakil rakyat maka berbuatlah untuk rakyat. Jangan kecewakan rakyat melalui perilaku tidak terpuji kalian nanti. Di pundak kalianlah masa aspirasi kami titipkan. Kami memilih berarti kami percaya, tapi kepercayaan kami bukanlah cek kosong. Kami akan menagihnya..

Selamat berkompetisi 9 April 2009.

Bengkulu, 7 April 2009.

Permalink Leave a Comment

Bencoolen

March 30, 2009 at 08:20 (Ragam Bengkulu) (, , , )

Oleh: Suharyanto

Sabtu malam Minggu, 28 Maret 2009 aku mendapat pesan singkat dari seorang teman di Magelang. Isi pesan singkat tersebut kira-kira begini, “Mas Unib namanya menjadi apa kalo kotanya menjadi Bencoolen?”. Aku maih belum mengerti maksud pesan singkat dari teman terebut. Sejenak aku coba pahami dan pikiranku tertuju pada sesuatu bahwa pasti telah dan sedang ada berita terkait Bengkulu. Kebetulan di tempat tinggalku, saat itu, sedang mendapat giliran (mungkin bukan giliran, tapi kejadian acak yang terlalu sering) pemadaman listrik jadi aku tidak bisa nonton tv. Namun hatiku tetap yakin bahwa temanku pasti telah dan sedang membaca, mendengar atau melihat berita.
Karena merasa penasaran dengan isi pesan singkat itu, akhirnya aku coba memancingnya dengan balasan “Unib ya tetap Unib orang nama kotanya Bengkulu kok, Provinsinya juga!”. Tak pelak, temanku membalas dengan nada meledekku (karena aku tidak mengikuti berita terbaru) “ha ha ha Bengkulu mau diubah menjadi Bencoolen”.

“Wah, benar” aku membatin, lantas aku balas lagi “Ah, di tv itu ngawur!”.

Malam itu aku cukup gelisah dengan adanya pesan singkat dari kawanku. Kegelisahanku karena aku merasa tengah ketinggalan kereta. Baru keesokan harinya aku membaca berita di Harian Rakyat Bengkulu. Ternyata benar dugaanku bahwa telah terjadi berita yang terkait dengan nama Bengkulu di media nasional. Selama ini memang aku kurang mengikuti perkembangan kota ini karena kebetulan sedang ada “kegiatan” di luar provinsi.

Setelah membaca berita itu aku baru mengerti dan opiniku mulai menari-nari di benakku. Kucoba telusuri segenap pengetahuanku tentang sejarah Bengkulu sedapat mungkin dan sekenanya sembari kuelaborasikan dengan pemahamanku tentang kata Bengkulu, Bencoolen, Bangkahulu. Ketiga kata inilah yang jelas memiliki benang merah makna.

Memang, Bengkulu pernah menjadi jajahan Inggris di abad 18. Mereka menyebut orang-orang Bengkulu dengan lidah mereka tentunya. Mengapa mereka menyebut Bencoolen? Tidak dengan kata atau sebutan lain? Pastinya orang-orang Inggris ini punya rujukan. Misalnya orang Belanda menyebut BATAVIA karena ada rujukannya, yaitu BETAWI, dan begitu pula BENCOOLEN. Usut punya usut, sebutan ini tak lain dan tak bukan berangkat dari kata BANGKAHULU. Sudah menjadi kebiasaan (atau aturan) bahwa orang Inggris jika menyebutkan suatu kelompok orang, tempat atau bangsa dengan tambahan -an, -ese misalnya Javanese, Indonesian dan lain-lain. Nah, tidak menutup kemungkinan nama BENCOOLEN itu berangkat dari BANGKAHULUAN, yang artinya NEGERI BANGKAHULU, atau KAUM (ORANG) BANGKAHULU. Jadi, BENCOOLEN adalah nama lain dari BANGKAHULU atau BENGKULU sekarang ini.

Analogi yang sama juga terjadi pada SULAWESI = CELEBES, MALUKU = MOLUCAS, KALIMANTAN = KLEMANTAN = BERUNAI = BARUNO = BORNEO, MAKASAR = MACASSAR. Mana yang nama asalnya? Tergantung siapa yang menyebutkannya. Sama seperti kita menyebutkan Netherland (Nederlan=Holand) dengan Belanda. Mana yang nama aslinya?

Jika keinginan merubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen karena ingin mengembalikan ke nama asal maka tak pelak lagi nama asalnya yang lebih tepat BANGKAHULU dari pada BENCOOLEN. Ganti saja menjadi BANGKAHULU.

Satu hal lagi yang menurut saya sangat tidak tepat, Bencoolen bukanlah sebutan lidah kita, melainkan lidah penjajah. Bencoolen memiliki konotasi “koloni”. Sama dengan nama Indonesia dulu Hindia Belanda (Holand Indie) yang berkonotasi “terjajah”. Jelas ini bertentangkan dengan spirit kita menjadi bangsa merdeka.

Setelah aku pikir-pikir lebih dalam lagi, mengapa sih sampai keluar gagasan tersebut? Ternyata, katanya untuk menarik minat wisatawan. Hah, aku pikir ini mengada-ada. Sama dengan mengada-adanya mengubah nama daerah ini. Kalau mau meningkatkan minat wisatawan, perbaiki kinerja pemerintah pada aspek pariwisata, tingkatkan sarana dan prasarana yang menunjang untuk itu dan ciptakan iklim yang mendukung. Rasakanlah, bila kita berkunjung ke pantai panjang, ke benteng Marllborough dan lain-lain, sudahkah kita merasa nyaman?

Benar-benar ini cerminan pejabat kota kita kurang kerjaan. Jangan-jangan yang perlu diganti bukan nama kotanya, melainkan para pejabatnya!

Akhirnya akupun berterimakasih dengan kawanku yang telah membangunkanku dari ketinggalan kereta berita tentang Bengkulu melalui pesan singkatnya.

Bengkulu, 30 Maret 2009.

Permalink Leave a Comment

Menjadi Wakil

December 5, 2008 at 07:43 (Artikel Umum) (, , , , )

Oleh : Suharyanto

 

 

          Harian Kompas, Jumat 28 November 2008 pada rubrik Bahasa menurunkan tulisan dengan judul “Pewakil”. Tulisan tersebut mengupas dari segi kebahasaan.  Wakil, dalam konteks indonesia memiliki berbagai arti. Wakil Presiden, Wakil Gubernur, Wakil Direktur dan lain sebagainya berarti “vice” atau “deputy”. Karena dia sebagai “hanya” sekedar “deputy” maka tidak heran bila kemudian keberadaannya sering dianggap sebagai “ban serep”. Pada masa orde baru, keberadaan Wakil Presiden dianggap sebagai ban serep. Tidak memiliki peran apa-apa kecuali bila ban utamanya lagi bocor, barulah ban serep digunakan. Nah, karena hal seperti itu berlangsung selama 32 tahun sehingga sosok presiden menjadi begitu menonjol dan tak tertandingi, maka di saat reformasi terjadi muncullah wacana untuk memfungsikan wakil presiden secara lebih “layak” lagi.

          Maka, kemudian di era reformasi peran wakil presiden diperbesar, secara teknis ada yang membaginya menjadi per wilayah, misalnya era Gus Dur, wapresnya mengurusi wilayah timur dan Gus Durnya sendiri, selain luar negeri juga wilayah barat. Ada juga yang membaginya berdasarkan peran dalam dan luar negeri. Ada juga yang kiprahnya begitu menonjol pada wakil presidennya sehingga muncul pertanyaan bahwa presiden kita siapa sih?. Bahkan, Buya Syafii Maarif mengatakan Jusuf Kalla sebagai “the real President” mengingat perannya yang begitu menonjol.

          Nah, ketika peran ”wakil” demikian menonjol, juga timbul tudingan, seakan-akan wakil menjadi pesaing. Maka lahirlah pula buku yang mengatakan apakah wapres itu pesaing atau bukan. Yah, demikianlah. Susah bagi kita yang segala sesuatunya masih belum terukur dan terdefinisi dengan jelas. Apapun bisa berubah dan berbeda-beda menjelaskannya, suasananya dan penafsirannya.

          Satu lagi makna “wakil” dalam konteks Indonesia, yaitu “representative”. Dalam arti ini kita mengenal kata “Wakil Rakyat”. Tidak seperti “Vice” atau “Deputy”, justru arti representasi ini menunjukkan adanya kekuasaan yang besar. Bahkan jauh lebih besar dari siapapun. Mungkin karena demikian besarnya maka tak heran jika “wakil rakyat” sering bertindak di luar kontrol. Sudah bukan rahasia lagi bahwa orang yang menyandang wakil rakyat jauh lebih “berkuasa” dari wakil presiden. Mungkin karena itu pulalah maka sekarang orang-berlomba-lomba mencari ‘pekerjaan” sebagai wakil rakyat. Jangan heran pula, banyak iklan berderet-deret di sepanjang jalan, di punggung-punggung angkot, di tempat-tempat strategis dan lain-lainnya adalah mereka yang sedang mencari pekerjaan sebagai wakil rakyat.

          Jika wakil direktur menjalankan perintah direktur dan bahkan banyak yang bercita-cita ingin menjadi direktur, maka sebaliknya wakil rakyat tidak pernah menghiraukan perintah rakyat dan nyaris tidak ada yang bercita-cita menjadi rakyat,  kecuali jika terpaksa (sudah tidak terpilih lagi).

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 5 Desember 2008

Permalink 4 Comments

Naik Haji Lagi

November 17, 2008 at 04:34 (Artikel Umum) (, , , , , )

Oleh : Suharyanto

 

          Tidak terasa memang, setahun seudah kita melewati haji tahu lalu. Kini sudah mulai memasuki musim haji lagi. Siapa orangnya yang tidak menginginkan menunaikan ibadah Haji? Setiap individu muslim pasti menginginkan dirinya bisa menunaikan rukun Islam yang kelima tersebut. Sayangnya syarat menunaikan idabah ini relative berat dari peryaratan ekonomi. Wajar, hanya beberapa orang saja dari kalangan umat Islam yang mampu menunaikannya.

          Meskipun berbiaya mahal, jemaah haji Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sepertinya tidak ada krisis finansial. Sesuatu yang patut disyukuri bahwa saudara-saudara kita masih diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ini. Kita yang belum sempat hanya turut mendoakan semoga saudara kita yang mampu menunaikannya akan menjadi Haji Mabrur. Dan kita akan segera menyusul menunaikannya di masa-masa mendatang apabila diberi rezeki dari Allah.

          Ibadah Haji bisa dikatakan puncak dari segenap rukun Islam. Dalam menunaikan ibadah Haji seseorang dituntut memiliki kemampuan yang memadai, yaitu financial, fisik, mental dan jiwa. Berbeda dengan jenis ibadah yang lain yang bisa dilakukan tanpa ada persyaratan “kemampuan” tersebut. Mengingat pentingnya ibadah Haji, tak heran berbagai kupasan tentang Haji dan makna dibaliknya dikupas dalam berbagai buku.

          Suatu kegembiraan bagi kita ternyata secara kuantitas jumlah jemaah Haji kita meningkat. Sayangnya ini belum mencerminkan dampak positif dari peningkatan jemaah haji kita. Peningkatan kesalehan pribadi yang kuantitif ini belum menyertakan peningkatan kesalehan sosial. Ini bisa dilihat dari penyelewengan oleh penyelenggara nagara dari semua tingkat dan lini yang justru dilakukan oleh orang yang notabene sering beribadah haji.

Ketika berhaji, jemaah telah melakukan pelemparan batu sebagai simbol melempari iblis angkara murka, maka ketika kembali di tanah air hendaknya mampu melempari iblis-iblis yang bercokol dalam sendi-sendi kehidupan nasional kita. Ketika berhaji, jemaah melakukan lari-lari kecil dari satu bukit (Safa) ke bukit lainnya (Marwa) untuk mencari air kehidupan dan diperolehnya, hendaknya ketika kembali di tanah air mampu memancarkan kebaikan dan kebenaran tanpa kenal lelah. Inilah yang akan menyelaraskan peningkatan jumlah jemaah haji dengan penurunan tingkat penyimpangan sosial-politik bangsa Indonesia. Malah terkadang sedang “ngetren” bagi mereka yang sedang tersandung hokum lalu menunaikan ibadah haji!

Barangkali karena itulah maka salah seorang penyair Persia, Nasher Khosrow, mengatakan ”Wahai Sahabat! Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji!// Sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah!// Memang engkau telah pergi ke Mekah untuk mengunjungi Ka’bah!; Memang engkau telah menghamburkan uang untuk membeli kerasnya padang pasir!// Jika engkau berniat akan menunaikan ibadah haji sekali lagi, Berbuatlah seperti yang telah aku ajarkan!”. Khosrow bukanlah sedang mengajarkan ajaran baru tentang Haji, melainkan bagaimana memaknai ibadah haji dan implikasinya dalam kehidupan.[]

 

Bengkulu Ekspress, 14 November 2008

Permalink 3 Comments

Pertumbuhan Kota dan Populasi ternak

November 10, 2008 at 02:28 (Artikel Peternakan) (, , , , , , , , , )

Tulisan kali ini merupakan tanggapan atas artikel yang ditulis oleh tim sentral ternak pada situs web-nya: http://www.sentralternak.com. Pada web tersebut admin menulis perlunya melindungi ternak asli Indonesia. Saya sangat tertarik dengan artikel tersebut. Kemudian saya tanggapi di web tersebut pula. Namun demikian, saya merasa perlu untuk menampilkannya juga di sini.

Berikut ini adalah artikel dari http://www.sentralternak.com yang dirilis 7 Oktober 2008: Read the rest of this entry »

Permalink Leave a Comment

Warna Kulit Obama

November 8, 2008 at 10:45 (Artikel Umum) (, , , , , , , , , , , , , , , )

obama1Oleh: Suharyanto

Tak pelak lagi, kini Obama terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Selama ini, semasa kampanye kita warga Indonesia dan bahkan dunia serasa memiliki kehadiran sosok Obama. Suasana batin kebanyakan penduduk dunia berpihak kepada Obama. Maka, tak heran bila pernah suatu ketika ada yang mengatakan seandainya warga dunia berhak memilih antara Obama vs McCain, pastilah Obama menang telak. Dan kenyataannya Obama telah menang telak di pilpres AS 4 November kemarin.

Banyak analisis tentang Obama ketika masa kampanye hingga saat ini setelah terpilih. Salah satu hal yang menarik dan sering ditulis dan dibicarakan adalah bahwa Obama berkulit hitam. Ketika masa kampanye, orang mengatakan bahwa bila Barach Hussein Obama menang, maka dialah orang kulit hitam pertama yang menjadi presiden AS. Dan kini pembicaraannya menjadi: Obama adalah presiden AS berkulit hitam yang pertama dalam sejarah. Karena “berkulit hitam” inilah ada sebagian (tadinya) menyangsikan dia akan memenangi pemilihan presiden dengan berbagai argumen dan analisis. Meskipun kemudian, si “kulit hitam” ini memenanginya.

Hal yang menarik adalah, mengapa Obama disebut sebagai berkulit hitam? Benarkah Obama berkulit hitam? Memang benar bahwa ayah kandung Obama berkulit hitam Kenya (Negara di Afrika). Tetapi, apakah orang-orang tidak melihat bahwa ibu kandung Obama dan kakek-nenek dari Ibu Obama adalah berkulit putih? Dan, jika kita lihat di TV dan di gambar tentunya, warna kulit Obama tidaklah hitam seperti orang Kenya dan Afrika pada umumnya. Mengapa tidak dikatakan saja Obama berkulit campuran, toh ayahnya berkulit hitam dan ibunya berkulit putih. Apakah karena bapaknya berkulit hitam maka anaknya dikatakan sebagai berkulit hitam? Jika demikian maka seandainya ayah Obama berkulit putih dan ibunya berkulit hitam kemudian Obama menjadi berkulit putih? Mengapa tidak kita katakan Obama berkulit putih karena ibunya berkulit putih. Apakah umat manusia melihat keturunan dari garis ayah? Sehingga status ras, etnik, sosial, dan lain-lain mengikuti ayahnya? Jika demikian maka warga dunia tanpa menyadari telah menyatakan kesetujuannya bahwa laki-laki adalah penentu silsilah.

Dalam ilmu genetika (tentang pewarisan sifat-sifat), perkawinan antara orang berkulit putih dengan berkulit hitam (negro) akan menghasilkan anak yang berkulit mulato. Pastinya, tidak berkulit hitam (negro). Nah, jika demikian mengapa orang menyebut Obama sebagai berkulit hitam?

Kiranya, ini sebagai simbol solidaritas dari kelompok yang selama ini termarjinalkan. Orang berkulit hitam di AS dan dunia merupakan kelompok ras yang kurang beruntung. Di AS saja sering terjadi diskriminasi. Apa lagi melihat AS yang kental dengan nuansa sebagai negeri orang eropa (berkulit putih), tentu dengan tampilnya sosok Obama yang berdarah campuran akan membawa solidaritas banyak pihak untuk mendukung Obama. Tentu saja ini juga ditunjukkan dengan kemampuan Obama untuk meraih dukungan dan simpati sebanyak itu. Jadi, dengan kemampuannya, si “kulit hitam” menjadi pemikat warga dunia untuk bersimpati kepadanya. D,an ini menjadi simbol solidaritas warga dunia lintas ras non kulit putih. Warga dunia sudah tidak mau “dipimpin” oleh ras kulit putih yang cenderung merasa superior dibandingkan dengan ras-ras lainnya. Walaupun sesungguhnya Obama tidaklah berkulit hitam dalam arti yang sesungguhnya, sebutan berkuli hitam baginya mengandung makna solidaritas warga dunia untuk terbebas dari “penindasan” kelompok berkulit putih.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat & November 2008

Permalink 5 Comments

Atas Nama Petani

October 31, 2008 at 02:39 (Artikel Umum) (, , , , )

 

Oleh: Suharyanto

 

          Belakangan ini sedang marak di Bengkulu tentang nasib petani. Petani di Indonesia pada umumnya dan di Bengkulu khususnya adalah kelompoki masyarakat mayoritas yang tertindas. Tertindas di sini dalam arti yang sangat luas. Petani-petani kita adalah orang-orang yang tidak memiliki kekuatan (baca: akses) apapun untuk memberdayakan dirinya meskipun petani bisa melakukannya. Ketiadaan kekuatan untuk memberdayakan ini jelas terlihat dari berbagai kebijakan yang belum memihak kepada petani ditambah lagi dengan adanya pelaksanaan kebijakan yang banyak penyimpangannya.

          Mari kita lihat bentuk-bentuk ketertindasan petani. Pertama, petani tidak memiliki daya tawar sedikitpun terhadap hasil pertaniannya. Setiap kali ada hasil panen, petani mengalami kerugian karena harga langsung anjlok. Seakan-akan mekanisme pasar betul-betul menghukum para petani. Hukum pasar yang berbunyi ”ketika jumlah barang meningkat maka harga akan turun” benar-benar merupakan contoh nyata betapa kejamnya kita, manusia yang tidak ”mengatasi” hukum itu. Tidak ada kebijakan untuk hal ini. Sekalipun ada semua adalah dalam nuansa eksploitasi kelemahan petani.

          Kedua, petani tidak memiliki akses terhadap sumber-sumber produksi dan pasar secara bebas dan berkeadilan. Contohnya adalah bibit unggul dan pupuk. Petani begitu sulit mendapatkan bibit unggul untuk pertaniannya. Untuk mendapatkan bibit unggul, petani harus menempuh berliku-liku jalan dan tak jarang sering kena tiu oleh oknum jahat yang memanfaatkan kelemahan petani.

Demikian halnya dengan pupuk. Pupuk, selain mahal juga sulit didapati. Banyak pupuk diproduksi tetapi tidak sampai ke tangan petani yang yang membutuhkannya. Justru pupuk subsidi masuk ke perusahaan pertanian raksasa yang juga telah meluluhlantakkan petani kecil. Banyak juga okjum jahat yang bermain pupuk ini. Praktis petani tidak pernah dapat pupuk dengan harga memadai dan kalaupun dapat pupuk tetapi dengan harga tinggi atau pupuk palsu. Kasian, deh!

Melihat kelemahan mendasar di atas, maka lahirlah upaya-upaya ”pemberdayaan” yang sebenarnya bermakna eksploitasi kelemahan petani untuk kepentingan golongan tertentu. Bagi pemerintah, kelemahan petani menjadi lahan untuk menumbuhkan program pemberdayaan petani melalui berbagai paket proyek. Di sini pemerintah tentu saja atas nama petani sedang mengupayakan perbaikan nasib petani mulai dari bimbingan teknis pertanian (padahal petani sudah pandai), introduksi sistem pertanian modern, penyediaan bibit unggul dan sebagainya. Celakanya, oknum jahat bergerak dengan nalar eksploitatif sehingga penyelewengan tak terhindarkan. Akhirnya petani bukan yang mendapat keuntungan, melainkan ketertindasan.

Melihat kondisi tersebut muncullah solidaritas pemberdayaan petani oleh ”volunter” untuk secara bersama-sama memberdayakan petani. Lahirlah advokasi-advokasi bagi petani. Tak jarang oknum jahat di sini juga bermain. Jika sebelumnya oknum jahat berbaju birokrat, sekarang berbaju volunter. Para oknum jahat ini tentu saja akan ”mengatasnakaman” petani untuk mendapatkan proyek ”pemberdayaan”. Jadi ujung-ujungnya lahirnya proyeksisasi atas nama petani. Meskipun demikian, tidak sedikit para ”volunter” yang bekerja secara sungguh-sungguh demi perbaikan nasib petani kita.

Begitulah, petani kita.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 31 Oktober 2008

Permalink 3 Comments

Next page »