Integrasi sapi-kebun

November 19, 2009

Di sini ada makalah tentang integrasi sapi-kebun dalam rangka pencapaian swasembada daging sapi. Kita tahu bahwa swasembada daging sapi menjadi program pemerintah (namun belum tercapai) maka dari itu perlu upaya-upaya bagaimana pemenuhannya. Salah satu upaya yangbisa ditempuh adalah dengan memanfaatkan lahan perkebunan untuk peternakan sapi dalam arti luas atau sering disebut dengan integrasi sapi-kebun.

Hal ini penting mengingat dari waktu ke waktu, konversi lahan menjadi areal perkebunan meningkat hingga nyaris tidak menyisakan untuk keperluan lain termasuk peternakan. Oleh karenanya sistem integrasi menjadi alternatif penting untuk dipalikasikan.

 

Tulisan saya tersebut ditulis bebera tahaun lalu sehingga mungkin untuk ondisi sekarang sudah kurang tepat lagi, namun ide yang tertuang masih relevan untuk dicermati dan dikaji.

Unduh/download artikelnya di sini!


Selamat Idul Fitri

October 1, 2009

Oleh: Suharyanto

Tak terasa, kita telah memasuki hari ke-18 ramadhan 1430 H. Insya Allah 2 hari lagi sudah masuk 1 Syawal. Artinya, lebaran telah di ambang mata. Hiruk pikuk pun telah pula berlangsung seminggu sebelumnya, mulai dari yang sibuk mudik dengan segala atribut-atributnya (oleh-oleh, ongkos, barang bawaan dan lain-lain) dan yang tidak mudikpun sibuk dengan segala persiapan untuk lebaran. Kebanyakan orang sibuk membuat kue atau makanan untuk lebaran, pakaian baru hingga memperindah rumah. Prosesi tahunan ini sudah lazim bagi masyarakat Indonesia. Nyaris aktivitas “memperbaharui diri” secara fisik dan ekonomi menumpuk di akhir ramadhan hingga awal syawal.

Tidak ada yang salah, bagi warga yang penghasilannya pas-pasan memang hanya bisa memperbaharui pakaiannya sekali setahun dengan menggunakan momen lebaran. Demikian juga dengan memperindah rumah, memberikan oleh-oleh dan hadiah kepada sanak saudara terjadi pada momen setiap lebaran.

Selain memperbaharui diri secara fisik itu, melalui momen lebaran juga terjadi perbaharuan hubungan social. Melalui lebaran, warga masyarakat saling berkunjung satu sama lain, saling maaf-memaafkan. Saling berkomunikasi dengan kehangatan dan lain-lain yang telah menghangatkan hubungan yang sebelumnya biasa-biasa saja atau malah cenderung dingin. Lebaran telah mencairkan kebekuan, menghangatkan kedinginan, mengikhlaskan kedongkolan dan memaafkan kesalahan.

Tentu saja, selain secara perbaharuan secara fisik, melalui ramadhan dan syawal diharapkan terjadi pembaharuan spiritual. Puasa ramadhan, sebagaimana banyak disampaikan oleh tukang ceramah, adalah wahana untuk meningkatkan nilai spiritual seseorang. Lalu, nilai-nilai puasa akan disahkan dengan zakat fitrah, maka akhirnya jadilah orang itu sebagai orang yang telah kembali kepada fitrahnya. Seringkali, fitrah ini diartikan suci, sehingga kembali pada fitrah artinya kembali suci. Bisa jadi demikian, karena setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci, itu adalah fitrah manusia. Akan tetapi bukan hanya itu saja, fitrah adalah sesuatu yang sesuai dengan kaidah yang semestinya benar (dalam hal ini adalah agama) sehingga orang yang kembali kepada fitrahnya adalah orang yang sesuai dengan aturan agamanya.

Kembali fitri bukan hanya kembali suci (yang kemudian dikotori lagi), melainkan juga kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan, kesabaran, peduli dengan sesama, memiliki kepekaan social dan berperan aktif dalam hidup dan kehidupan di dunia. Maka barang siapa yang merasa diseur untuk berpuasa di bulan ramadhan ini, kemudian menunaikan kewajiban zakat fitrak sudah layak untuk merayakan kemenangan fitrahnya sebagai manusia ciptaan Allah. Dan layak pula mendapat ucapan Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1430 Hijriah. Minal Aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.[]


Bunga Rafflesia

September 8, 2009

Oleh: Suharyanto

Masyarakat Bengkulu telah mahfum bahwa Bunga Rafflesia merupakan bunga terbesar di dunia dan menjadi ikon Bengkulu dan bahkan dianggap bunga ini hanya tumbuh di daerah ini. Oleh karenanya Bengkulu kita juluki sebagai Bumi raflesia. Kita, ya kita yang menjuluki diri kita sendiri, bukan orang lain. Kondisi seperti itu bias kita mengerti karena nama Rafflesia dinisbatkan kepada Gubernur Jendral Inggris ketika masih menjajah Bengkulu di awal abad 19 yang bernama Stomford Raffles. Ketika itu, eksplorasi ilmu pengetahuan dan dunia flora di bawah Raffles cukup mendapat perhatian, konon Raffles sendiri sangat tertarik dengan bidang biologi. Nah, pada masa penjajahannya itulah ditemukan bunga oleh Dr Joseph Arnold yang merupakan tim ekspedisinya Raffles. Kemudian bunga ini kita kenal sebagai bunga Rafflesia, dengan spesies Rafflesia arnoldi, kombinasi antara Raffles dan Dr Arnlod.

Barang kali Karen ahal tersebut di atas maka kita menganggap rafflesia merupakan milik khas Bengkulu sehingga ketika ada iklan pariwisata Malaysia yang menayangkan bunga Rafflesia sempat membuat sejumlah masyarakat ingin memprotesnya. Benarkah bunga tersebut hanya ada di Bengkulu? Rafflesia itu sendiri merupakan nama genus dan terdiri dari beberapa spesies. Kebetulan yang ditemukan dan tumbuh di bumi Bengkulu adalah berspesies Rafflesia Arnoldi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa masih banyak jenis yang lainnya yang diperkirakan mencapai 26 spesies. Juga, sebaran tumbuhnya tidak hanya di Bengkulu. Cakupan sebaran tumbuh bunga ini ada di kawasan Asia Tenggara, khususnya Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan dan Filipina. Jadi Bunga Rafflesia bukan khas hanya tumbuh di Bengkulu.

Namun demikian bukan berarti kita terus meniadakan arti ikon Rafflesia dari Bengkulu. Hal ini karena keterkaitan sejarah dan frekuensi tumbuh yang tinggi di kawasan pegunungan Bengkulu. Hanya saja, apa yang telah diupayakan oleh segenap komponen Bengkulu belum bergaung besar. Hingga kini, masih sangat banyak warga Indonesia yang belum tahu bahwa rafflesia identik dengan Bengkulu. Berbeda dengan empek-empek yang diidentikkan dengan Palembang sekalipun empek-empek bisa dijumpai dan diproduksi di kawasan lain di luar Sumatera Selatan. Bahkan dalam sebuah novel terkenal, yang berjudul Saman, karya Ayu Utami, si penulis menyebutkan bahwa bunga Rafflesia tumbuh di tanah Malaya. Mengapa tidak menyebutkan Bengkulu yang jelas Bengkulu ada di Indonesia. Apakah ini indicator bahwa promosi Rafflesia identik dengan Bengkulu belum berhasil?

Kiranya kita masih membutuhkan upaya keras untuk mengiklankan diri bahwa rafflesia itu identik dengan Bengkulu tetapi bukan dengan memarahi Malaysia yang juga menampilkan Rafflesia di iklan promosi pariwisatanya.[]


Setelah Peringatan

August 20, 2009

Oleh : Suharyanto

Dalam bulan ini, paling tidak ada 3 peristiwa penting di negara kita. Yang pertama adalah peringatan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus. Tepat 17 Agustus tahun ini usia Negara kita 64 tahun. Selama 64 tahun sudah banyak peristiwa yang menyertai perjalanan bangsa ini. Berbagai perayaan telahpun dilakukan seperti pesta rakyat lomba panjat pinang dan berbagai lomba-lomba rakyat lainnya. Dalam perayaan dan perlombaan itu tidak terbersit seberapa besar hadiah yang akan diperoleh tetapi berbagai kegembiraan bersama walau cuma sehari. Suasana keakraban antar warga kelas menengah ke bawah sungguh terlihat dan terbangun. Bukti bahwa mereka mencintai republic ini tanpa pamrih, tanpa harus mengharapkan imbalan hadiah maupun hitung-hitungan untung-rugi. Mereka belepotan karena oli ataupun lumpur, tetapi tetap bergembira. Itulah potret masyarakat kita di level bawah social-ekonomi mayarakat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Peristiwa kedua, tentu saja adalah terorisme. Seperti yang sudah kita saksikan melalui media, aparat kepolisian berhasil menggerebek teroris dan kemudian melumpuhkannya baik ditembak mati maupun ditangkap menyusul setelah terjadi ledakan bom di hotel Ritz Carlton. Peristiwa ini menjadi perhatian dunia karena label teorisme menjadikan kejadian itu menginternasional. Apa lagi Indonesia sudah beberapa kali diserang teroris maka wajar bila perhatian dunia juga tertuju ke Indonesia. Lagi pula, terorisme menjadi agenda internasional dan menjadi musuh masyarakat internasional. Perilaku teroris, sebagaimana arti kata terror, adalah menebar ketakutan melalui ancaman dan tindakan yang membahayakan orang lain.

Bila kita selalu mendapatkan ancaman terror dari teroris terus menerus dan gembong dari teoris belum juga tertangkap maka wajar bila kita katakana bahwa negeri kita belum merdeka dari ancaman terror. Justru kini warga bukan saja terteror dari teroris, tetapi juga terteror dari aksi-aksi menangani teroris dan tindakan terror itu sendiri. Media telah membritakan adanya sekelompok orang yang kemudian ditangkap dan diusir oleh warga sekitar hanya karena atribut yang digunakan “menyerupai” kaum teroris. Hal ini menjadi kelompok-kelompok masyarakat tertentu menjadi tertuduh seakan-akan mereka adalah “teroris”. Bagi kelompok masyarakat tersebut, itu adalah bentuk terror itu sendiri. Mengapa demikian, karena symbol-simbol komunitas tertentu telah “disudutkan” sebagai bagian dari terorisme yang tercermin dari pola pemberitaan dan penanganan terorisme. Justru, sebenarnya ancaman terror yang dahsyat adalah terror kemiskinan dan ketitidakadilan. Inilah tugas pemerintah yang harus segera dilaksanakan, yaitu mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan menegakkan keadilan.

Peristiwa yang ketiga adalah puasa Ramadhan. Di bulan ini, kita umat Islam di dunia memasuki bulan suci ramadhan Insya Allah tanggal 22 Agustus. Bulan ini merupakan bulan penting bagi bangsa Indonesia karena 90% penduduk Indonesia adalah muslim. Sudah selayaknya nilai-nilai ke-Islaman masuk dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sinilah banang merahnya dengan kondisi Negara kita. Sebagaimana yang kita pahami, melalui puasa kita akan mencapai derajat takwa. Tentu saja selama proses puasa, berbagai hikmah akan dilalui dan didapati. Pesan puasa untuk berempati kepada golongan kecil, keadilan, dan menahan diri sudah sering disampaikan oleh para agamawan. Nah, nilai-nilai ini penting diterjemahkan dalam mengisi kemerdekaan yang baru saja kita peringati sehingga makna kemerdekaan substansial dapat diperoleh, bukan sekedar kemerdekaan seremonial seperti yang sering dilakukan selama ini.[]


Dramatik dan Demonstratif

August 13, 2009

Oleh: Suharyanto

Pasca reformasi, masyarakat Indonesia mengalami gejala yang cenderung menyukai hal-hal yang dramatis dan demonstartif. Iklim keterbukaan telah membawa masyarakat negara ini untuk selalu serba ingin tahu secara cepat dan langsung. Mungkin makna kebebasan dari alam reformasi adalah demikian sehingga segala hal harus diberitahukan kepada publik secara langsung. Ternyata, jualan hal-hal seperti ini membuahkan hasil lumayan bagi pengusaha media karena melalui media masyarakat dapat mengetahui. Tahu segala-galanya tanpa ditutup-tutupi, sekalipun itu seharusnya tidak perlu diketahui publik.

Fenomena demikian membawa media untuk mengejar sesuatu yang dapat disuguhkan secara langsung kepada publik seklaipun harus instan. Berkat instan inilah maka seringkali informasi yang disampaikan keliru dan perlu diralat. Celakanya, konsumen, masyarakat justru menyukai sesuatu yang sifatnya dramatis dan demonstartif.

Ketika mantan presiden soeharto sakit hingga meninggal, semua stasiun televise memberitakan secara “live” detik ke detik. Bahkan, penyakit yang seharusnya menjadi rahasia pasien dan keluarganya menjadi konsumsi publik. Entah apa maksud di balik itu semua, tetapi masyarakat juga menontonnya. Masyarakat terbius dengan “live event’ sekaratul mautnya pak Harto. Demikian juga dengan peristiwa kecil yang terjadi, maka akan didramatisasi. Kisah pertengkaran rumah tangga artis akan menjadi konsumsi berminggu-minggu di media televise. Bahkan peristiwa yang mungkin tidak sangkut pautnyapun akan dihubung-hubungkan sedemikian rupa. Apatah lagi fenomena Manohara. Kejadian yang selalu diangkat untuk mencari benang merah nasionalisme dimana warga Negara Indonesia teraniaya di Negara lain dan lain sebagainya. Semua itu selalu didramatisasi secara demonstartif.

Baru-baru ini, suatu operasi yang konon katanya merupakan operasi intelijen berubah menjadi sebua “reality show” yang benar-benar dramatis dan demonstartif. Penyergapan seorang teroris yang sebelumnya diberitakan seorang gembong teoris, ternyata hanya kroconya. Mengapa operasi intelijen bisa menjadi sebuah tontonan gratis adegan yang konon katanya menegangkan? Masyarakat juga menikmati tontonan live event tersebut karena memang dramatis mungkin karena benar-benar didramatisasi dan demonstartif.

Tetapi, bagaimana dengan perilaku koruptor? Mereka tidak pernah terendus dan tidak pula diperlakukan secara demonstratif. Koruptor yang telah menilep uang Negara milyaran rupiah bisa hidup tentram dan terhormat. Sekalipun ada kasus tidak akan pernah muncul ke public secara demonstrative. Inilah salah satu sumber ketidakadilan. Masyarakat membutuhkan pencerahan dalam bentuk keteladanan pemimpin dalam menjalankan pemerintahan dan kenegaraan ini secara adil. Ketidakadilan justru menjadi lahan empuk bagi tumbuh suburnya terorisme karena masyarakat juga selalu diteror dengan ketidakadilan. Oleh karenanya, karena korupsi merupakan salah satu musuh negara dan perlakuan terhadap mereka tidak sepadan dengan kejahatannya, maka masyarakat memandang ini sumber ketidakadilan. Mungkin demi keadilan bersama perlu dibentuk densus 88 antikoruptor! Sebagai mana layaknya densus 88 antiteror yang terus memburu dan memberangus teroris, maka densus 88 antikoruptor bertugas memburu, menangkap dan memberantas koruptor apa lagi hingga kabur ke luar negeri.


20 cara mengasuh bayi

August 10, 2009

Adik sanak segalonyo, iko sayo kasi gambar mano-mano yang buli kek yang idak buli dilakukan pada bayi. Jadi kelak kalu punyo bayi jangan salah ngasuh, soalnyo bayi kek anak kecik ko sensitip nian. Salah nimang pacak celako kito. Segalo gambar ko sayo ambik dari link iko na: http://bocahngapak.blogspot.com/2009/02/20-perkara-sing-olih-karo-ora-olih.html.

Sanok gegalue, kona akui behi gambar apo-apo yang buliak jo yang idak buliak dibuek otuk budok senet. Usak bahang bae ngasuh bayi de, kelok salak2 aok telak yang rugi, soale bayi ko budok sensitip. Gegalu gambar akui ambik dari link di siko ko: http://bocahngapak.blogspot.com/2009/02/20-perkara-sing-olih-karo-ora-olih.html

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20


Tambal Sulam

August 7, 2009


Oleh : Suharyanto

Tambal sulam adalah suatu istilah untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu hanya “ditambal dan diganti” dari sesuatu yang ‘rusak”. Contohnya roda kendaraan yang pecah atau bocor, maka mengatasinya dengan ditambal atau diganti dengan yang baru sama sekali. Bila ditambal maka kekuatannya akan lebih rendah bila dibandingkan dengan yang baru sama sekali. Contoh untuk sulam, misalnya, dalam suatu luasan kebun tanaman ada beberapa yang mati, maka tanaman yang mati itu diganti dengan yang baru (disulam).

Sekalipun ini benar menurut kaidah ilmu pertanian, makna “sulam” seperti ini menjadi kurang tepat untuk konteks perbaikan sesuatu. Tambal sulam merupakan memperbaiki secara parsial dan tidak mendalam hingga ketemu pangkal masalah suatu kerusakan. Hasil dari perbaikan tambal sulam ini adalah cepat atau mudahnya sesuatu yang diperbaiki itu rusak kembali. Apa lagi jika perbaikan tambal sulam itu hanya untuk “make up” saja.

Tambal sulam boleh dan perlu dilakukan bila tingkat kerusakan sesuatu itu bersifat minor dan kasuistik. Hal-hal yang begini memang diperbaiki secara “tambal-sulam” dan setiap kegiatan, katakanlah “proyek pembangunan” pastilah dianggarkan untuk tambal sulamnya. Termasuk untuk biaya perawatan. Berbeda halnya bila tingkat kerusakan itu sudah dalam skala massif dan mayor, maka perbaikannya tidaklah bisa tambal sulam, melainkan perbaikan secara menyeluruh. Selain perbaikan secara menyeluruh, yang tak kalah pentingnya adalah mencari sebab mengapa kerusakan bisa terjadi secara cepat, masif dan menyeluruh. Bila sudah ditemukan maka kemudian selanjutnya dikeluarkan rekomendasi supaya penyebab kerusakan tidak ada lagi.

Kita bisa melihat di sekitar kita apa yang tengah terjadi. Kerusakan yang ada pun bisa bermacam-macam dimensi: social, lingkungan dan fisik. Hal paling terlihat secara fisik adalah kerusakan jalan. Jalan yang ada di kota dan provinsi kita sudah sangat parah tingkat kerusakannya. Perbaikan yang dilakukan selama ini tak kunjung usai, justru semakin memperparah kondisi jalan menjadi semakin tidak layak dilalui. Dalih perbaikan menjadi bemper dari keresahan masyarakat akan kondisi jalan yang dilalui. Seiring dengan itu, kerusakan di sisi lain terus berlangsung. Penyebab kerusakan sudah diketahui, kini tinggal giliran saling lempar tanggung jawab dan kewenangan. Masyarakat pengguna jalan tidaklah tahu ini jalan siapa dan itu jalan siapa. Yang diketahui oleh warga pengguna jalan adalah bahwa mereka telah membayar pajak dan pemerintahlah yang harus bertanggung jawab atas kerusakan jalan.

Melihat kenyataan yang demikian ini maka kiranya perbaikan harus secara menyeluruh, bukan saja perbaikan secara menyelurh atas kerusakan jalan yang ada, tetapi juga perbaikan menyeluruh dari sikap dan perilaku serta paradigm berfikir-bertindak para pembuat kebijakan. Dengan demikian maka kerusakan yang ada dapat segera diperbaiki dengan sebenar-benarnya.[]


MOS

July 21, 2009

Oleh : Suharyanto

Beberapa tahun ini, setiap sekolah menengah melaksanakan program yang disebut dengan Masa Orientasi Siswa (baru), yaitu masa untuk memberikan orientasi bagi siswa baru suatu sekolah. Suatu program yang bertujuan bagus, yaitu memberikan pengenalan bagi siswa untuk lebih siap dan mengetahui dalam mengikuti proses pembelajaran selama di bangku sekolah sehingga ketika sekolah nantinya siswa

Dalam praktiknya, MOS diisi dengan berbagai cara kreatif, unik dan lucu. Beberapa sekolah justru melakukannya dengan acara yang memberikan nilai-nilai positif bagi siswa, yaitu semangat bergotong royong, kerja sama, empati, kreatif dan nilai-nilai positif lainnya. Kemudian, dengan adanya pembekalan berupa MOS, siswa akan termotivasi untuk disiplin, kerja keras, memahami lingkungan baru (sekolah baru) dan lain sebagainya.

Namun demikian, baru-baru ini juga muncul kekhuatiran dari beberapa kalangan mengenai pelaksanaan MOS yang rawan adanya tindakan kekerasan. Masa orientasi bisa menjadi ajang “perploncoan”. Beberapa media massa juga mensinyalir hal demikian. Uniknya, kegiatan sejenis MOS dulu marak dilakukan di perguruan tinggi yang penuh dengan nuansa perploncoan. Tak pelak lagi ketika itu muncul berbagai tindak kekerasan dari senior kepada yuniornya. Syukur, belakangan “plonco” di perguruan tinggi sudah berganti menjadi lebih “beradab”. Bahkan sekarang masa “plonco” yang dikenal dengan nama Pengenalan Kehidupan Kampus (PKK) lebih banyak diisi dengan materi yang menggugah motivasi, berorganisasi, kerjasama, pemecahan masalah, bagaimana berempati, kreativitas dan lain-lain. Ini adalah kemajuan yang patut disyukuri dimana mahasiswa selaku calon-calon intelektual maka kegiatan yang dilakukan hendaknya juga mencerminkan perilaku intelek.

Mumpung belum berjalan jauh, mulai sekarang MOS hendaknya lebih diarahkan kepada muatan-muatan yang akan mendorong pada kepemimpinan, kreativitas, kerjasama, empati kesuksesan dalam belajar dan lain sebagainya. Apa yang disinyalir oleh berbagai media massa tentang kekhawatiran MOS salah arah, perlu diperhatikan untuk kemudian tidak terlanjur menjadi sebuah kebiasaan buruk dari tahun ke tahun. Jangan sampai apa yang dulu pernah terjadi pada mahasiswa (plonco) yang kini sudah hilang justru terjadi pada level siswa sekolah menengah.

Sekolah, dalam hal ini guru dan system, masyarakat dan pemerintah harus sudah mulai mengantisipasi hal yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan MOS. Dari sini maka MOS akan berlangsung seperti yang diinginkan, yaitu tertanamkannya nilai-nilai positif bagi siswa baru. Nilai-nilai positif ini akan membentuk jiwa dan perilaku siswa di kemudian hari. Sungguh, MOS memiliki sisi rawan penyelewengan, maka pengendalian dari pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah mutlak diperlukan.

MOS harus terus dipantau menjadi kegiatan yang kreatif[]


Setelah Menyontreng

July 9, 2009

 Oleh : Suharyanto

             Akhirnya pilpres kali ini dapat dilewati dengan “aman dan damai” sebagaimana pilpres 5 (lima) tahun lalu. Seperti halnya pilpres 5 tahun lalu, pilpres kali ini juga diwarnai berbagai dinamika politik. Bahkan, dua hari menjelang pilpres ada indikasi pilpres untuk ditunda. Ternyata semua itu tak terjadi. Malah kini sudah menghitung hasil pemungutan suara 8 Juli lalu.

            Berdasarkan hasil hitung cepat dan perhitungan sementara KPU, terlihat bahwa capres incumbent memperoleh suara tertinggi yang bahkan melampaui 50% plus satu. Ini artinya pilpres cukup satu putaran. Gejolak yang diprediksi berbagai pengamat juga nyaris tidak terjadi. Kalaupun ada itu hanya riak-riak kecil yang mewarnai pilpres. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat sudah dewasa dalam berdemokrasi melalui pilpres. Tinggal bagaimana elit politiknya saja. Berbagai gejolak pasca pilkada tak terlepas dari peran elit politik daerah yang justru tidak mau memahami dan menerima kenyataan politik. Dus, perlunya penyelenggara pilkada ataupun pilpres meningkatkan netralitas dan profesionalismenya.

            Rakyat telah menentukan pilihan, tinggal menunggu hasil perhitungan pilihan rakyat itu. Rakyat Indonesia hanya menginginkan kehidupan yang dama dan tentram serta meningkat kesejahteraannya. Oleh karenanya, apapun hasilnya dan siapapun yang memperoleh suara pilihan rakyat terbanyak, maka hendaklah itu semua dalam kerangkan mensejahterakan rakyat. Rakyat sudah terlalu lelah untuk selalu menderita dan disuguhi dengan drama-drama politik yang menegangkan seakan-akan itu hanya akal-akaln para elit dengan mengatasnamakan rakyat. Rakyat butuh kedamaian dalam menjalani hari-harinya. Rakyat tidak ingin di pentas perpolitikan negeri kita diwarnai dengan drama-drama “lucu” para badut politik. Kini, setelah memilih calon presiden, suasana aman dan damai ini tetap kita pelihara agar semuanya berjalan dengan baik.

            Tanggal 8 Juli lalu, rakyat telah memberikan contoh kepada kita semua, khususnya elit-elit politik, bahwa berdemokrasi mereka telah mampu melaksnakan dengan damai tanpa kekisruhan. Masyrakat justru telah menunjukkan kepada kita bahwa seharusnya elit politik siap menang dan siap kalah. Masyarakat tidak lagi hiruk pikuk dengan siapa yang kalah dan siapa yang menang, mereka hanya memilih dengan ikhlas dan kemudian menghendaki kehidupan yang lebih baik. Untuk itu, tradisi yang baik seperti ini hendaknya dilanjutkan, yaitu tradisi aman dan damai di pemilu. Akan lebih baik lagi bila dalam berdemokrasi kita di pilpres dimulai dengan ucapan “selamat” dari yang kalah kepada yang menang. Alangkah indahnya. Sebaliknya, yang menang jangan sampai tinggi hati. Ingat dengan janji-janji yang telah disampaikan untuk kemudian ditunaikan dalam menjalankan pemerintahan dan kenegaraan lima tahun mendatang.

            Jika rakyat telah memberikan contoh dalam pemilu kali ini, kenapa para elit politik tidak mengikuti teladan yang telah ditunjukkan oleh rakyat, berupa kompetisi dalam kedamaian dan kedamaian dalam kompetisi. Artinya, segala bentuk persaingan yang dilakukan adalah dalam kerangka fastabiqul khairat. Berlomba-loba dalam kebaikan. Rakyat yakin bahwa visi-misi dan program yang diemban oleh masing-masing pasangan capres-cawapres, hakikatnya adalah demi kebaikan rakyat dan bagsa Indonesia dan demi kesejahteraan rakyat. Bukan untuk beberapa gelintir orang di Negara ini. Akhirnya, rakyat telah mendemonstrasikan demokrasi dengan baik, maka ikutilah dan tunaikan janji-jani bagi kandidat terpilih dan sama-sama kita control dalam pelaksanaan pemerintahan mendatang. Bagi yang kalah, maka “legowo” merupakan kebaikan yang tak ternilai.[]


Pilpres

July 3, 2009

Oleh : Suharyanto

Ini adalah kali kedua Indonesia menyelenggarakan pemilihan presiden secara langsung. Pertama adalah tahun 2004 yang menghasilkan pemenang pasangan SBY-JK. Kini, pasangan yang bertanding ada tiga, Mega-Prabowo, SBY-Boediono dan JK-WIN. Kampanye demi kampanye telah dan sedang dilalui, berbagai pernak-perniknya juga telah muncul ke permukaan. Ada yang mengatakan sebagai black campaign, ada yang mengatakan ini strategi lawan dan lain sebagainya. Isu yang digunakan jug abermacam-macam, ada yang menggunakan isu aliran (ideology) ekonomi, SARA dan lain sebagainya.

Pokoknya terkesan panas. Saling kritik, saling serang dan saling tuding selalu menghiasi kampanye dan iklan politik masing-masing pasangan. Kontras dengan apa yang kita saksikan pada layar kaca pada saat ”debat” capres maupun cawapres. Arena debat yang seharusnya menjadi ajang adu gagasan dan langkah penyelenggaraan negara dan bangsa ini secara baik dan benar dengan argumen yang menguatkan justru terlihat sebagai ajang pemaparan visi-misi tanpa deferensiasi. Banyak yang merasa “kurang puas” karena “debat” yang diharapkan tidak terjadi. Memang, sempat terjadi lontaran yang cukup menggelitik, tetapi tidak pada substansi.

Ada yang pro dan ada yang kontra dengan cara ”debat” capres dan wapres kita. Ada yang berpendapat, jika debatnya seperti yang terjadi pada debat capres USA maka ini tidak sesuai dengan kultur bangsa kita sehingga dengan cara seperti yang saat ini terjadi merupakan cara yang cocok. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa debat seharusnya melontarkan ide dan kritik terhadap pesaingnya, bukan adu tuding perkara pribadi.

Apapun, ini semua masih dalam proses menuju kedewasaan berdemikrasi. Yang penting jangan sampai pada saat dan setelah pilpress terjadi kerusuhan, yang sama-sama tidak kita inginkan. Seorang tokoh terkemuka dalam suatu resonansinya di harian nasional mengatakan bahwa jangan sampai pemilu Iran ”diimpor” oleh Indonesia. Yang dimaksudkan tentu saja kerusuhan pasca pemilu Iran baru-baru ini. Selama ini, Iran menyelenggarakan pemilu relatif tanpa gejolak. Nah, sekarang terjadi gejolak yang tidak terbayangkan sebelumnya hingga menelan korban puluhan orang. Hal inilah yang tidak diinginkan terjadi di Indonesia. Kita sudah terlalu lama mengalami kerusuhan. Sejak reformasi bergulir, hampri setiap hari kita disuguhkan dengan menu kerusuhan. Rakyat sudah letih dan bangsa ini menginginkan kedamaian. Masyarakat menginginkan ketenangan dalam menjalani hidup dan untuk menggapai kesejahteraan, bukan kerusuhan. Untuk itu, hal ini sangat membutuhkan kearifan para tokoh-tokoh politik, formal maupun informal untuk menciptaan suana yang damai, aman dan menyenangkan khususnya dalam pelaksanaan pilpress kali ini. Jangan hanya karena kepentingan kekuasaan, masyarakat menjadi korban. Mari kita ciptakan kedamaian dalam pilpress ini.[]


Kecewa dan Marah

June 19, 2009

Oleh: Suharyanto

Baru-baru ini, petinggi kota merasa kecewa dengan kerusakan jalan kota. Kecewa karena jalan raya kita semakin susah dilewati dan membahayakan bagi pengguna jalan. Maka kemudian, banyak kalangan justru bertanya, kepada siapakah petinggi kota ini marah? Bukankah kerusakan ini semakin diperparah dengan lalu lalangnya truk-truk fuso yang konon katanya kendaraan tersebut masuk kota atas restu sang petinggi. Jadi kepada siapakah beliau marah?

Jika alasan marah karena jalan rusak, mestinya marahnya sudah dari dulu-dulu, soalnya kerusakan jalan bukan baru seminggu dua minggu ini. Perbaikan yang dilakukan justru memperparah kerusakan karena perbaikannya “tidak” pernah selesai. Kerusakan yang semakin menjadi juga akibat truk-truk fuso yang melintasi jalan kota. Apakah marahnya kepada “fuso?”. Jika iya, tentunya harus diikuti dengan melarang fuso melintasi jalanan kota yang memang seharusnya tidak boleh lewat di dalam kota.

Lantas marah kepada siapa? Kepada masyarakat? Bukankah seharusnya yang marah adalah masyarakat si pengguna jalan? Dengan kerusakan yang semakin parah maka perjalanan menjadi terganggu dan berbahaya? Belum lagi bila berpapasan atau bersimpangan dengan truk-truk besar? Sebagai warga kota maka pertanyaan tersebut wajar timbul. Warga masyarakat telah membayar pajak yang seharusnya dapat menikmati perjalanan yang menyenangkan di dalam kotanya sendiri. Bahkan, bisa-bisa kekecewaan ini menimbulkan kemarahan. Buktinya, sudah beberapa kali jalan yang rusak kemudian ditanami pohon pisang. Ini adalah cara protes dan menunjukkan kemarahan mereka.

Wajar masyarakat kecewa dan protes walaupun dengan cara yang agak aneh karena cara yang biasanya tidak membuahkan hasil. Berbagai cara, mulai dari kirim layanan singkat di media massa, surat pembaca, demonstrasi, dan mendatangi kantor wali kota dan lain-lain. Meskipun tidak juga membuahkan hasil, dengan menanami pohon pisang ding tempat jalan yang rusak, paling tidak mendapat tanggapan dengan mencabut pohon dan meratakan kubangan jalan dengan korang. Semua tahu bahwa “perbaikan” yang seperti itu bukanlah jawaban. Masyarakat hanyalah menginginkan respon yang kemudian akan diikuti dengan tindakan perbaikan yang sesungguhnya dan mengeliminasi faktor-faktor yang mempercepat kerusakan jalan, termasuk melarang truk fuso melewati jalan.

Pemecahan masalah fuso di tengah kota harus diselesai terlebih dahulu maka kemudian satu faktor penghancur jalan sudah teratasi, tinggal faktor-faktor lainnya. Bila ketentraman masyarakat dari pengguna jalan dapat ditunaikan maka tinggal di dalam gang, lalu di dalam rumah. Jalan, adalah awal kesan bagi orang luar kota untuk menilai kondisi di dalam rumah warganya. Bila jalan yang ada terlihat bagus, indah, elok dan lain sebagainya maka kesan ini akan menetap di memori pengunjung kota. Maka klop antara program pemerintah dengan kenyataan yang ada, yaitu menjadikan Bengkulu sebagai kota wisata yang ditunjang dengan keindahan jalanannya. Dan, tidka menutup kemungkinan adipura yang lepas dari genggaman kita akan diraih kembali. Jangan sampai masyarakat kecewa dan marah hanya karena jalan.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 18 Juni 2009


P e n c u r i

June 15, 2009

(Sebuah Cerpen)

Oleh: Suharyanto

Aku dan istriku baru saja selesai membereskan pekarangan rumah baru kami ketika sinar matahari tepat di atas ubun-ubun yang tidak menimbulkan bayang-bayang badan. Kami beristirahat di emperan rumah sambil memandangi pekarangan yang baru kami bereskan dari rerumputan dan sampah-sampah.  Kebetulan hari itu kami sengaja tidak harus terburu-buru masak supaya cepat selesai membereskan rumah dan pekarangan.

Sebelumnya, rumah ini terlihat kotor dan banyak rumput liar di sekitarnya, maklum rumah yang seukuran tipe 36 yang sudah diperluas tambahan dapur ini sudah agak lama ditinggalkan pemiliknya pindah di rumah barunya yang lebih bagus dan mewah. Si pemilik adalah seorang pejabat daerah.

Mungkin karena dia seorang pejabat daerah dan banyak uang maka diapun menawarkan rumah dengan murah kepadaku sekaligus sebagai bentuk pertolongan kepada orang sepertiku. Akupun merasa bersyukur sekali walaupun bagiku tetap saja masih amat mahal. Sebagai PNS yang baru diangkat 6 bulan lalu melalui honorer golongan II, akupun mengikuti jejak rekan-rekan dan senior-seniorku menggadaikan SK PNS untuk membeli rumah ini.

Sekarang aku merasa lebih sumringah dan pede dengan memiliki rumah sendiri. Tidak seperti sebelumnya yang tinggal mengontrak 1 los kamar bedengan. Selain sempit untuk ukuran keluarga dengan dua orang anak sepertiku, juga sering terjadi salah paham dengan tetangga kamar los tentang penggunaan listrik dan air. Meteran listrik dan air bedengan 4 los kami dulu menjadi satu sehingga penggunaannya dibagi rata, tetapi di situlah perselisihan sering terjadi. Yah, sekarang kami terbebas dari itu semua. Aku sudah menjadi seorang PNS dengan rumah sendiri.

Sebenarnya kondisiku sebagai PNS dan ketika menjadi honorer dulu tidaklah jauh berbeda dalam banyak hal. Hanya sekarang aku menjadi bertambah yakin dengan statusku bila mengenakan seragam Pemda dan PNS. Terasa elegan, serasi antara pakaian dengan status. Jika ditanya orang, “Bapak bertugas dimana?” maka dengan penuh percaya diri aku jawab bersemangat. Tidak seperti waktu masih honorer dulu, justru baju seragamku menjadikan aku malu bila ditanya seperti itu. Apa lagi kalau pertanyaannya berlanjut ke job description maka aku dengan malu menambahkan jawaban “…tapi saya masih honorer…”.

Tetapi itu semua sudah tidak ada lagi. Sekarang betul-betul menikmati sebagai pegawai pemerintah daerah walaupun dengan gaji kecil. Aku dan istri kadang-kadang mengenang masa ketika masih honorer dulu. Betapa kami harus membanting tulang untuk menghidupi kedua anak kami. Selepas pulang kantor, aku masih cari obyekan lain. Lalu, keceriaan timbul ketika namaku muncul dalam daftar data base. Nama honorer yang masuk dalam data base pasti akan diangkat menjadi PNS. Kami bersujud syukur betapa akhirnya akupun siap diangkat menjadi pegawai pemerintah. Suatu harapan yang banyak diminati orang. Ini terbukti dari begitu membludaknya peserta tes CPNS dari tahun ke tahun. Ironinya, meskipun mereka tahu bahwa tes itu formalitas belaka, karena yang bakal lulus sudah ada, tetap saja diikuti. Bahkan semakin marak, termasuk aku dan istriku.

Nasib baik tengah berpihak kepadaku sehingga namaku masuk ke dalam data base sebagai honorer yang akan diangkat menjadi PNS. Tetapi inipun tidaklah selancar yang dibayangkan. Pada saat pengumuman tahun lalu namaku dan puluhan honorer data base tidak muncul, malah yang muncul nama-nama yang baru saja jadi tenaga honorer. Untungnya ada LSM dan mahasiswa serta kaum peduli pemberantasan KKN sehingga ada revisi pengumuman dan namaku tercantum di pengumuman versi revisi.

***

Pak RT lewat dan menyapa kami. Meskipun tadinya sekedar lewat, akhirnya kami terlibat perbincangan ringan. Pak RT datang kami sambut dengan senang. Maklum kami adalah warga baru jadi kedatangan orang lain apa lagi Pak RT membuat kami merasa gembira, sepertinya kedatangan kami sebagai warga baru sangat diharapkan.

“Mau ke mana Pak?” tanyaku seraya mendekat ke arah Pak RT. Rupanya Pak RT berhenti tepat di depan rumahku. Di depan gerbang dan akupun mempersilahkan masuk. Aku berbalik badan hendak masuk rumah dengan harapan akan diikuti Pak RT. Sementara istriku sudah terlebih dahulu masuk rumah.

“Biarlah Dik, di sini saja” Pak RT menolak, seraya  menawarkan  bahwa kalau perlu bantuan alat-alat buat bersih-bersih rumah bisa diambil di rumahnya. Pak RT juga memberi beberapa nasihat terutama terkait dengan keamanan rumah. Nasihatnya sangat  bisa kami terima apa lagi Pak RT sudah tua, seusia dengan orang tuaku di kampung sehingga petuah-petuahnya kami perhatikan.

“Di tempat kita ini sering diintai orang yang berniat tidak baik, Dik” Demikian Pak RT mengatakan. Katanya lagi, pencuri sering susah dibedakan dengan pemulung. Aku langsung terpikir, mungkin sama susahnya membedakan antara pejabat dengan penjahat di negeri ini.

“Kita ini serba bingung, soalnya pernah ada pemulung tertangkap tangan sedang mencongkel jendela kamar rumah Pak Dulah” kata Pak RT lagi. Mungkin ini yang menjadi alasan menyamaratakan setiap pemulung patut dicurigai sebagai pencuri.

Wah, rumah Pak Dulah saja mau dicongkel pencuri, padahal rumah Pak Dulah termasuk di deretan depan gang kami. Sedangkan rumahku agak ujung gang dan berbatasan dengan tanah berawa-rawa di bagian belakang rumah. Di bagian belakang itulah ada jalan kecil yang sering untuk lalu lalang anak-anak dan jalan pintas pemulung menuju jalan besar di sebelah kompleks. Apa lagi pagar kawat di belakang rumahku sudah banyak yang rusak sehingga sering digunakan pemulung atau anak-anak buat lewat ke gang kami.

“Jadi, Dik…” Pak RT meneruskan nasihatnya, “Nanti kalau ada rejeki sebaiknya pagar belakang itu diutamakan, diperbaiki”. Aku sudah menangkap maksudnya. Dalam hati aku sudah memikirkan perihal pagar kawat di belakang, tetapi aku tidak memprioritaskan apa lagi dikaitkan dengan pemulung yang dicurigai sebagai pencuri. Malah aku berpikir kenapa mencurigai pemulung. Bukankah mereka mencari rejeki bahkan berperan penting dalam mata rantai daur ulang. Mereka bekerja memungut barang-barang yang kita anggap sampah atau limbah untuk didaur ulang dan berdayaguna kembali. Bukankah ini peran penting bagi kelangsungan hidup di muka bumi dengan kualitas lingkungan yang tetap terjaga?

Dalam hati kecil aku tidak sanggup untuk mencurigai pemulung. Bukan saja karena aku secara sosial-ekonomi sama dengan mereka tetapi juga secara akal sulit diterima untuk mencurigai pemulung begitu saja. Tapi kenapa Pak RT sedemikian seriusnya menekankan tentang keamanan lingkungan dan pemulung. Ah, biarlah yang penting aku tidak akan ikut-ikutan berprasangka buruk dulu.

“Jadi begitu ya, Dik, supaya lingkungan kita aman” Pak RT mengakhiri perbincangan dengan kalimat kesimpulan penuh pengharapan seraya berujar “selamat berberes-beres rumah” sebagai tanda dukungan kepadaku sebagai warga baru di lingkungannya. Lalu ia meneruskan langkahnya menuju ujung gang. Entah mau ke rumah siapa, aku tidak tahu. Aku hanya mempersilakan Pak RT tanpa mengikutinya melalui pandanganku karena aku langsung masuk ke dalam rumah. Beristirahat.

***

Sore itu, di hari yang lain aku dan istriku tidak bersih-bersih dan beberes karena keadaan rumah dan sekitarnya sudah tampak bersih dan tertata rapi. Hari itu istriku hanya mencuci pakaian kotor kami yang kini sedang bergantungan di jemuran samping rumah. Meski terlihat sudah kering, kami belum ingin mengangkatnya. Kami merasa belum kering betul.

Istriku pergi ke warung depan gang membeli beberapa keperluan sehari-hari sekalian membelikan jajan anak-anak. Si kecil, tentu saja, digendong istriku dan yang besar, bersamaku di rumah. Tiba-tiba istriku kembali dan memberitahuku bahwa di depan rumah pak RT banyak orang berkerumun lantas istriku menyuruhku ke sana karena siapa tahu ada pertemuan warga. Akupun pergi ke rumah Pak RT bersama anakku yang besar sementara istriku pergi ke warung yang memang melewati depan rumah Pak RT.

Ternyata, para warga sedang membicarakan, menanyakan dan mendiskusikan perihal Pak Dulah yang sedang tersandung perkara korupsi di kantor pemerintah daerah. Aku memang tidak banyak tahu berita tentang hal tersebut. Apa lagi aku pegawai sebuah dinas teknis milik pemda, jadi tidak begitu tahu dengan kasus Pak Dulah. Rupanya berita itu dimuat di Koran. Wajarlah, soalnya Pak Dulah adalah tergolong pejabat di jajaran pemerintah daerah. Ternyata para warga merasa bahwa Pak Dulah ini banyak membantu kegiatan di lingkungan RT kami sehingga warga banyak yang bersimpati. Aku yang merupakan warga baru, sekalipun tahu Pak Dulah karena sama-sama satu kantor pemerintah daerah, aku belumlah merasa dekat. Bahkan aku berpikir jika memang Pak Dulah terlibat korupsi ya harus menanggung risikonya. Bagiku korupsi dan maling adalah sama saja, pencuri.

Aku jadi teringat cerita Pak RT tentang keamanan lingkungan dari para pemulung. Kenapa mencurigai pemulung? Kenapa kita tidak mencurigai pejabat? Toh nyatanya sekarang yang sedang berkasus korupsi adalah pejabat daerah, yang nota bene ada di lingkungan kita sendiri. Kita ternyata juga tidak adil cara memperlakukan orang karena statusnya.

Setelah berbincang-bincang dan tahu apa yang tengah terjadi, akupun pulang ke rumah. Kebetulan istriku juga sudah selesai berbelanja dan kamipun pulang bersama. Setiba di rumah, setelah istriku meletakkan belanjanya dan aku sedikit menceritakan apa yang terjadi di rumah Pak RT, istriku pergi ke samping rumah untuk mengangkat pakaian yang tadi di jemur.

“Yah.. Ayah…” istriku berteriak memanggilku.

“Ada apa!” sahutku sambil menengok ke arah istriku.

“Pakaian kita Yah… sebagian hilang” kata istriku dengan lemas.

“Astaga…!” teriakku sambil menyesal kenapa tadi tidak diangkat dulu sebelum meninggalkan rumah. Istriku terisak, menangis. Yah, beberapa celana panjangku dan satu buah jaket lenyap.

“Siapa yang berani berbuat seperti ini” gumamku. Begitu cepat kejadiannya. Oh, pencuri.

***

Bengkulu, 15 Juni 2009


Titi DJ

June 12, 2009

Oleh: Suharyanto

Siapakah orangnya yang tidak kenal Titi DJ? Rasanya kebanyakan kita mengenal sosok yang satu ini. Ia seorang penyanyi papan atas Indonesia yang juga mendapat julukan diva pop Indonesia. Sebuah julukan yang memperlihatkan si empunya nama sebagai “empu” dalam dunia tarik suara.

Namun, dalam dunia plesetan, kita juga mahfum dengan istilah Titi DJ. Biasanya kalangan remaja atau orang dewasa yang sedang plesetan, istilah ini biasa digunakan bila temannya akan bepergian. “Titi DJ, ya”. Maksudnya “hati-hati di jalan”. Kemudian dilanjutkan dengan “Dedi Dores, ya”. Kali ini maksudnya “dengan diiringi do’a restu”. Dedi Dores juga seorang penyanyi papan atas era 80-an. Demikianlah plesetan segar dengan mengambil nama-nama orang terkenal.

Saya tertarik dengan Titi DJ. Maksudnya plesetan hati-hati di jalan, bukan sosok Titi DJ-nya. Hati-hati di jalan memang sangat diperlukan demi keselamatan pengguna jalan dan masyarakat umum. Banyak kecelakaan yang terjadi karena para pengguna jalan tidak berhati-hati di jalanan. Bahkan, di salah satu pinggir jalan di kota kita ada tulisan yang menginformasikan pentingnya berhati-hati di jalan. “Jangan tumpahkan air mata dan darah sia-sia di jalan ini”, demikian kira-kira pesannya. Belakangan ini, di dinding facebook, Walikota juga menyampaikan pesan agar masyarakat pengguna jalan berhati-hati karena sedang ada perbaikan jalan.

Pesan Walikota tersebut menekankan pada alasan sedang ada perbaikan jalan. Dengan adanya perbaikan jalan maka banyak gangguan dalam perjalanan. Oleh karena itu perlu berhati-hati. Kita tidak tahu sampai kapan perbaikan itu berlangsung. Yang jelas, tentang berhati-hati di jalan harus selalu sepanjang menggunakan jalan dan dalam kondisi apapun jalan itu. Pun, sebenarnya, sudah cukup lama jalan raya di kota kita butuh perbaikan total. Bukan baru-baru ini saja. Banyak ruas jalan kota yang berlubang, berkubang dan bergelombang. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan lalu-lalangnya truk-truk besar melintasi jalanan kota. Wal hasil lubang, kubang dan gelombang jalan semakin berkembang.

Inilah kondisi infrastruktur kota (dan Provinsi kita). Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu singkat menjadi berlarut-larut di atas jalanan. Kendaraan yang seharusnya tidak boleh melintasi kota, malah diperbolehkan. Tingkat kerusakan dan gangguan lingkungan menjadi meningkat. Lalu, masyarakat protes, tetapi kemudian “tidak ditanggapi”. Maka, jalan yang di tempuh adalah dengan menanami pepohonan di tempat rusaknya jalan. Ternyata cara ini menarik perhatian sehingga segera diberikan tindakan berupa “perbaikan” sementara. Perbaikan yang sesungguhnya juga kita tidak tahu sebab, setiap hari kita hanya melihat seperti itu terus: pemerataan, penambahan koral, pemerataan, penimbunan koral dan seterusnya. Praktis, jalan kita semakin tidak layak berada di tengah kota.

Jadi, kita harus semakin berhati-hati di jalan. “Titi DJ, ya”.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 12 Juni 2009.


Meniti Jalan Kota

June 5, 2009

Oleh Suharyanto

Menelusuri seluk beluk Kota Bengkulu, sesungguhnya cukup mengasikkan. Sekalipun kata orang Bengkulu merupakan Kota kecil untuk ukuran ibukota sebuah provinsi, sebenarnya Kota ini memiliki kekhasan. Masing-masing kota memiliki cirri khas masing-masing. Di kota ini, hampir setiap simpang terdapat tugu. Ada tugu yang tepat di tengah-tengah persimpangan, ada pula yang tidak tepat di tengah-tengah. Peraturan memutari tugu persimpangan bagi kendaraan yang akan belok kanan menjadi kewajiban, oleh karenanya kadang cukup merepotkan bila posisi tugu tidak ada di tengah-tengah. Kadang-kadang jika hendak belok ke kanan, berhubung harus memutari bundaran (tugu) yang posisinya jauh ke arah sebelah kiri justru terasa jauh dan merepotkan. Malahan, deratan kendaraan dari posisi kita belum selesai memutari tugu, kendaraan dari simpang di sebelah kanan kita sudah lampu hijau, otomatis mereka berjalan dan akhirnya kendaraan bertemu di tengah-tengah jalan simpang. Tapi unik juga, jika dinikmati. Masing-masing kota punya proble sendiri-sendiri.

Namun demikian, karena kota kecil, maka tidaklah sampai meinmbulkan kemacetan. Suasana kota yang tenang tetap terasa. Di kota ini juga tidak ada rumah yang nyaris berbatasan langsung dengan badan jalan sebagaimana ditemui di kota-kota lain. Beberapa ruas jalan dua jalur cukup rindang oleh pepohonan kota. Hanya pada ruas dua jalur baru yang masih gersang, mungkin belum akan ditanami hijauan. Dulu ada yang coba di tanam pohon Jarak untuk menunjukkan bahwa Bengkulu peduli dengan sumber energi alternatif biodiesel sekalipun sekarang kita tidak tahu lagi kelanjutannya, tetapi pohon jara itu mati semua. Sekalipun tidak ada hijauan terbuka, kota ini masih terasa hijaunya karena memang populasi manusia dan kendaraan relatrif masih sedikit dan hijauan tanaman penduduk masih banyak. Tidak tahu beberapa puluh tahun yang akan dating. Ini musti ada perencanaan kota yang baik supaya tidak terjadi kesemerawutan kota masa depan seperti yang sekarang terjadi di kota-kota besar.

Suasana damai, sejuk, hijau dan beberapa jenis ketenangan lainnya nampaknya mulai memudar. Bukan oleh pertumbuhan kota, tapi oleh kerusakan ruas jalan kota. Jalan-jalan kota ini banyak yang bergelombang, berlubang, berkubang, aspal pecah, tinggal berkoral saja dan lain sebagainya. Debu beterbangan kian kemari terhempas oleh debutan truk-truk besar yang seharusnya tidak boleh melintasi jalan tengah kota. Sekarang juga semakin banyak ditemui lubang dan kubang jalan kota akibat tidak kuat menahan beban kendaraan besar melintas. Tak ayal lagi, protespun berdatangan dari segenap lapisan masyarakat. Tetapi nampaknya kucing-kucingan masih tetap terjadi. Malahan, ada warga yang kembali menanam pohon pisang di tengah jalan tepat pada lubang atau kubang jalan. Mereka protes dengan cara seperti itu karena melalui jalur yang semestinya tidak membuahkan hasil. Jika hal seperti ini tetap berlanjut maka di tengah-tengah jalanan kota kita akan menjadi kebun pisang. Jika musim hujan datang, tidak menutup kemungkinan kubangan di tengah jalan tak ubahnya kubangan kerbau. Apakah bentuk protresnya nanti dengan menambatkan kerbau di tengah jalan? []

Bengkulu Ekspress, Jumat 5 Juni 2009.


Gunung Api di Laut Bengkulu

May 29, 2009

Inilah temuan terbaru ahli geologi. Mereka menemukan gunung berapi di lautan Bengkulu. Tepatnya 330 barat Bengkulu. Berita lengkapnya berikut ini

Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Kamis, 28 Mei 2009 | 18:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatera. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dan berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.

Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

“Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).

Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330 km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.

“Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera.

Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).

WAH
Sumber : Antara


Jembatan Sungai Serut

May 25, 2009
Sungai Serut mengalir dengan tenang menuju muara (foto diambil dari atas jembatan)

Sungai Serut mengalir dengan tenang menuju muara (foto diambil dari atas jembatan)

Oleh: Suharyanto

Sekecil apapun, Bengkulu juga memiliki potensi wisata yang bila dikelola dengan baik akan mendatangkan nilai plus bagi kota dan provinsi ini. Salah satu objek wisata yang berada di Kota Bengkulu adalah kawasan pantai Jakat. Pantai ini persis berada di teluk antara daratan Pasar Bengkulu dan Pantai Tapak Paderi. Pantai ini sebenarnya lebih merupakan kawasan nelayan masyarakat Pasar Bengkulu dan sekitarnya. Semenjak dibukanya jalan lingkar luar yang menghubungkan Sungai Hitam (perbatasan Kota dengan Bengkulu Tengah hingga ke Pantai Panjang Bengkulu, kawasan ini menjadi ramai dan menarik untuk dikunjungi.

Pada saat-saat tertentu, sabtu sore, hari minggu atau hari-hari libur, kawasan lingkar luar dari Sungai Hitam hingga Pantai Panjang ramai saling sambung-menyambung, terutama di sore hari. Kali ini, saya coba tampilkan sepotong senja di seputar jembatan Sungai Serut, Bengkulu.

Jembatan Sungai Serut di suatu sore. Jembatan ini menghubungkan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam.

Jembatan Sungai Serut di suatu sore. Jembatan ini menghubungkan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam.

Sebuah cerita kebetulan saja saat saya jalan-jalan di sore hari di kawasan pantai di Kota Bengkulu. Saya memasuki kawasan pantai dari Pantai Panjang terus menelusuri jalan lingkar luar hingga tembus di Tapak Paderi dan terus ke Pantai Jakat hingga Jembatan Pasar Bengkulu-Sebuah jembatan yang menghubungan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam. Nah, dari Jembatan ini mula pertama terinspirasi untuk menampilkan cerita yang dihiasi gambar terkait. Tentu saja apa yang saya sampaikan ini bukanlah sebuah reportase atau sejenisnya.

Dulu, jalan yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan kawasan di utaranya melalui Pasar Bengkulu menuju Sungai Hitam melalui sebuah jembatan yang melintasi batang Sungai Serut. Jembatan lama tersebut terletak di sebelah hulu dari jembatan yang baru sekarang ini. Jembatan yang baru sekarang, selain untuk jalan penghubung, juga menjadi objek wisata. Sore itu nampak muda-mudi sedang berjajar menikmati pemandangan sore hari dari atas jembatan yang melintasi Sungai Serut. Apakah muda-mudi yang sedang asyik menikmati sore hari di atas sungai itu menyadari bahwa dari situlah nama Bengkulu terlahir, termasuk nama-nama yang menjadi legenda Bengkulu seperti Putri Gading Cempaka.

Sungai Serut, sebuah nama yang amat lekat dengan sejarah Bengkulu, yaitu kerajaan Sungai Serut. Menurut setengah cerita, dari Sungai Serut ini lahir nama yang sekarang menjadi Bengkulu. Ceritanya, ada

pembesar Kerajaan Aceh yang menyukai Putri Gading Cempaka, putri bungsu dari Raja Sungai Serut (Ratu Agung). Namun, masih

Tugu ini sebagai peringatan perjuangan pejuang Bengkulu melawan penjajah. Berdiri tegak di samping jembatan Sungai Serut.

Tugu ini sebagai peringatan perjuangan pejuang Bengkulu melawan penjajah. Tugu ini berdiri tegak di samping jembatan Sungai Serut.

menurut legenda, pihak Putri Gading Cempaka tidak berkenan sehingga terjadilah pertempuran dahsyat di sungai itu. Begitu dahsyatnya sehingga memakan korban kedua belah pihak yang amat banyak sehingga korban manusia berjajar-jajar dari muara hingga ke hulu. Banyak bangkai berhulu-hulu. Mungkin ini yang menelurkan nama Bangkahulu. Tentu saja ada teori lain yang menyebutkan tentang asal usul nama Bengkulu.

Di dekat jembatan terdapat tugu perjuangan. Sebuah tugu peringatan yang menandakan bahwa di kawasan tersebut pernah terjadi pertempuran heroik antara pejuang-pejuang Bengkulu melawan Belanda pada masa perang kemerdekaan. Semoga semangat perjuangan mereka tidak luntur tergilas oleh arus zaman. Semoga itu bukan sekedar tugu bisu yang di sebelahnya selalu ramai oleh muda-mudi (termasuk diriku) yang sekedar jalan-jalan. Justru seharusnya kita (kami) meneruskan semangat perjuangan mereka. Sungguh, ini suatu pemandangan yang ideal di mana Sungai Serut sebagai urat pangkal sejarah Bengkulu hadir, dan di sebelahnya terdapat simbol perjuangan. Dua simbol ini hendaknya diketahui dan dimaknai kembali nilai-nilai kesejarahan dan perjuangannya oleh siapapun yang melintasi dan menikmati pemandangan.[]

Bengkulu, 25 Mei 2009.

Dimuat di Bengkulu Ekspress, Jumat 29 Mei 2009.


Kebangkitan

May 22, 2009

 Oleh: Suharyanto

         Tepat 20 Mei, bangsa Indonesia kembali memperingati hari yang disebut dengan Kebangkitan Nasional. Hari dimana momen penting dalam babak sejarah nasional Indonesia modern dimulai, yaitu 20 Mei 1908 tatkala dibentukknya organisasi Budi Utomo (BU). Terlepas dari kontroversi, yaitu sebagian tokoh nasional masih memandang bahwa berdirinya BU bukanlah tonggak kebangkitan nasional karena corak BU yang masih bersifat kedaerahan. Kalangan yang kontra tersebut mengajukan hipotesis bahwa kebangkitan nasional hendaknya diawali dari berdirinya suatu organisasi yang bukan bersifat kedaerahan tertentu dan cakupannya nasional Hindia belanda dan ini lebih tepat diatribusikan pada Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905. Kelompok ini mengemukakan bahwa SDI lebih bercorak nasional (bukan kedaerahan) dimana kepengurusannya mencakup wilayah Hindia Belanda dan bersifat anti kolonial Belanda.

        Terlepas dari kontroversi, bagaimanapun kebangkitan suatu bangsa seperti Indonesia memiliki arti penting bagi generasi anak bangsa selanjutnya sebagai pedoman memaknai kebangkitan di eranya masing-masing. Jika pada awalnya, kebangkitan yang dimaksud adalah gerakan penyadaran dan kesadaran akan pentingnya persatuan nasional dan perjuangan secara politik maka sekarang adalah bagaimana mengaktrualisasikan nilai-nilai tersebut dalam konteks kekinian bangsa Indonesia. Di era perang kemerdekaan, kebangkitan adalah perlawanan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa orde baru lebih dimaknai sebagai upaya pembangunan nasional. Lantas di era reformasi ini haruslah dimaknai dengan nilai-nilai reformasi secara positif.

        Nilai reformasi yang diperjuangkan pada 1998 adalah memperjuangkan kebebasan dari sistem tiranik dan represif. Maka lahirlah demokratisasi seperti yang dirasakan saat ini. Banyak kalangan menilai ini sudah saatnya untuk meninggalkan masa transisi, artinya, proses transformasi dari masa “belum demokratis” menjadi masa yang “lebih demokratis” harusnya sudah lebih bersifat substansial ketimbang prosedural. Sayangnya, masih banyak yang menilai bahwa proses demokratisasi kita masih terbatas pada proses prosedural.  Celakanya, banyak aktor politik yang justru terjebak dan menjustifikasi proses prosedural ini. Prinsip-prinsip berdemokrasi, berpolitik, menyampaikan pendapat dan aspirasi, menjalankan pemerintahan dan lain sebagainya banyak mengabaikan prinsip-prinsip kebaikan dan kebenaran substansial. Semua itu dilakukan karena kepentingan pragmatis semata.

        Apa yang tengah berlangsung akhir-akhir ini, sehubungan dengan momen kebangkitan nasional, maka kiranya perlu direnungkan kembali apakah kita benar-benar sedang bangkit sebagaimana yang dicita-citakan pada awal kebangkitan dan gerakan reformasi digulirkan. Jika dahulu merupakan gerakan penyadaran dan kesadaran nasional mengorganisasikan diri untuk menlenyapkan kolonialisme di Indonesia dengan sebuah kesadaran kolektif nasional, maka sekarang perlu diaktualkan dalam bentuk penyadaran dan kesadaran nasional akan pentinya reformasi, ketebukaan dan demokratisasi yang lebih substansial. Lebih mengedepankan nilai-nilai luhur, etika dan kepentingan nasional. Sebab masih banyak hal yang harus dilakukan ketimbang hiruk-pikuk mabuk kepayang oleh adanya kebebasan saat ini.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 22 Mei 2009


Babi

May 15, 2009

 

Oleh : Suharyanto

 

 

            Belum begitu lama, Indonesia digemparkan oleh adanya temuan dendeng dan abon babi dengan cap sapi. Kini, seluruh dunia digegerkan dengan adanya flu babi yang disebabkan oleh virus H1N1. Untuk berita yang kedua, layak semua orang panic karena ini terkait dengan kesehatan manusia secara keseluruhan. Sedangkan untuk berita yang pertama, kepanikan dirasakan oleh konsumen muslim. Jelas, karena hewan ini merupakan hewan yang diharamkan secara agama. Barang siapa yang mengkonsumsi sesuatu yang berasal darinya maka balasannya adalah neraka.

            Demikianlah kemutlakannya babi. Nah, berhubung merupakan hewan yang benar-benar mutlak keharamannya maka banyak pemuka agama yang mengupas hewan ini dari segi tabiat, perilaku dan dampak negatif yang diakibatkan oleh babi. Terlebih lagi dengan adanya flu babi, ini semakin mengukuhkan nalar keharaman babi. Barangkali karena kecintaannya terhadap umat supaya berhati-hati terhadap satu jenis hewan ini maka tulisan, dakwah dan penjelasan mengenai babi sebegitu dalamnya mulai dari perilaku makan yang menyosor tanah dan comberan, jenis yang dimakan yang begitu menjijikkan seperti cacing dan kotornnya sendiri, hingga ke perilaku seksualnya, yang konon katanya libidonya sangat tinggi dan lain sebagainya. Belum lagi bila dikaitkan dengan sumber penyakit seperti cacing pita. Sudah banyak orang mengatakan bahwa daging babi merupakan tempat tumbuhnya cacing pita. Singkat kata, babi digambarkan sedemikian rupa bahwa hewan ini merupakan hewan yang menjijikkan, jelek, nista dan berbahaya seakan-akan hewan ini membawa sial dan perlu dimusnahkan karena hewan haram.

            Kita mungkin lupa bahwa babi, bagaimanapun, adalah makhluk ciptaan Allah juga. Kitapun tahu bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah itu bukanlah sia-sia, pasti ada maksud dan tujuannya. Jika babi digambarkan sebagai hewan yang suka memakan kotorannya sendiri, kitapun bisa menyaksikan kambing yang juga suka meminum air kencingnya sendiri. Perilaku ini tidaklah aneh bagi dunia hewan. Kambing membutuhkan zat-zat tertentu yang bisa didapat dari air kencingnya. Tentang cacing pita, kambing dan sapi juga tempat yang baik bagi berkembangnya cacing pita. Jika ada flu babi maka ada juga flu burung (ayam). Jadi, sama saja. Oleh karenanya justifikasi mengapa babi haram bukanlah sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan jelek (menurut ukuran manusia), dan sehat atau tidaknya dagingnya. Kita tidak tahu pasti kenapa babi haram. Yang jelas di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa babi adalah haram, titik. Tidak perlu penjelasan yang diilmiah-ilmiahkan. Malah bias kontra produktif karena sifat dan perilaku jelek babi juga ditemui pada hewan lain yang halal.

            Perlu diketahui, babi yang umum dikonsumsi orang-orang barat adalah daging babi yang berasal dari peternakan terbaik dimana babi-babi tersebut diberi pakan yang kualitasnya justru lebih baik daripada kualitas makanan rata-rata orang Indonesia. Jadi, justru babi-babi itu memakan makanan yang baikl, tapi yang namanya haram ya tetap haram. Tidak perlu penjelasan yang sok diilmiah-ilmiahkan.

            Satu hal lagi, berdasarkan temuan ilmiah, justru struktur DNA babi mirip dengan DNA manusia. Banyak penelitian obat sebelum diaplikasikan ke manusia, diaplikasikan ke babi terlebih dahulu. Lagi pula, organ-organ penting babi mirip dengan manusia, jenis makanan babi dengan manusia juga sama, system pencernaan babi juga sama dengan manusia yaitu sama-sama monogastrik (berlambung tunggal) dan ini berbeda dengan kambing, sapi, kerbau dan domba yang berlambung ganda (poligastrik). Konskuensi dari perbedaan jenis perut ini adalah pada jenis makanannya. Jika sama jenis perutnya maka makananannya juga memiliki kesamaan jenis.

Jadi keharaman babi tidaklah bias dijelaskan secara nalar. Haram ya haram. Tetapi bukan berarti menistakan babi begitu saja seakan-akan makhluk satu ini harus dimusnahkan dari muka bumi. Allah telah menciptakan makhluk dengan tujuan-tujuan tertentu, tanpa kesia-siaan.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 15 mei 2009.


Kalah Curang

May 11, 2009

Oleh: Suharyanto

Akhirnya, setahap demi setahap, setapak demi setapak penghitungan suara pemilihan umum legislatif sudah dilakukan. Banyak kalangan menilai bahwa penghtungan suara pemilu kali ini berjalan sangat lambat, alot, banyak protes sana-sini dan kekisruhan-kekisruhan lainnya. Belum lagi bila ditambah dengan keksruhan Daftar Pemilih Tetap, maka pemilu kali ini dinilai paling buruk dalam sejarah pemilu di Indonesia.

Kembali pada penghitungan suara. Jika pemilu sebelumnya, persaingan kandidat lebih kepada persaingan antar partai maka kali ini justru persaingan yang amat ketat dan berat adalah persaingan antar kandidat dalam satu partai. Sudah menjadi rahasia umum bahwa intrik-intrik untuk menuju kursi legislatif amatlah menyeramkan. Telikung sana,telikung sini. Bahkan, konon, terjadi pengalihan perolehan suara dari satu kandidat ke kandidat lain dalam satu partai. Memang, jumlah suara parpol secara keseluruhan tidaklah berubah, tetapi yang berubah adalah orang yang akan mewakili partai ke kursi legislatif. Jadi, “musuh” utama adalah teman separtai. Oleh karenanya, tidak sedikit kandidat yang merasa “dicurangi” justru bersahabat dekat dengan kandidat dari partai lain yang juga merasa dicurangi oleh teman separtainya.

Ternyata aroma telikung menelikung ini terjadi marak dan massal. Siapapun pasti akan melakukannya demi kursi legislatif. Apa lagi, para kandidat kali ini lebih banyak diisi oleh orang yang sebenarnya “sedang mencari pekerjaan”. Bukan oleh mereka yang memang terjun di dunia politik sebagai pengabdian hidupnya. Kepentingan pragmatis jangka pendek lebih mengemuka ketimbang kepentingan khalayak ramai sesuai dengan idealisme berpolitik, berbangsa dan bernegara. Wajar pula bila banyak kalangan yang menilai bahwa para penikmat kursi legislatif kali ini tidak lebih baik dari yang lalu.

Logika politik nasional kita memang suatu anomali dalam teori dan praktik politik di muka bumi. Sistem pemerintahan yang dianut adalah presidensial tetapi praktiknya parlementer. Politisi, pejabat, atau tokoh yang sebelumnya berseberangan, tiba-tiba bersahabat dekat, begitu pula sebaliknya. Semua terjadi secara tiba-tiba dan mengejutkan dan keterjadiannya lebih kepada kepentingan personal, tetapi mampu menarik gerbong politik. Konon yang katanya bernama koalisipun tak ubahnya hanya bikin blok-blokan yang dilandasi kepentingan pragmatis dan amat personal. Tidak ada “koalisi” berdasarkan platform, ideologi dan kesamaan cara pandang mengelola negara. Sepertinya dbutuhkan teori politik tersendiri untuk menjelaskan fenomena perpolitikan yang terjadi di Indonesia. Jika Miriam Budiarjo masih ada, beliau tentu akan mengecualikan praktik perpolitikan kita dalam bukunya teori politik, saking anomalinya sistem kita.

Barangkali karena berawal dari anomali yang demikian maka di bagian hilirnyapun terjadi penyimpangan. Semua mengalami penyimpangan tak terkecuali. Di kedai-kedai kopi, tempat nongkrong-nongkrong sekelompok orang, pembicaraan selalu terfokus pada kecurangan si A terhadap si B dalam satu partai. Katanya si A mestinya suaranya tidak sebanyak itu. Begitulah. Tetapi ada juga yang menimpali, sebenarnya si B pun melakukan hal yang sama, hanya si B kalah curang dibanding dengan si A.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 8 Mei 2009


Ujian Kejujuran

April 30, 2009

Oleh: Suharyanto

Minggu-minggu ini, dunia pendidikan kita tengah disibukkan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN), baik tingkat SLTA maupun SLTP. Untuk tingkat SLTA telah berlangsung minggu lalu dan kita dikejutkan dengan adanya berita perbuatan curang beberapa oknum kepala sekolah dan guru untuk alasan “menolong” siswanya supaya mendapatkan nilai yang baik.

Mengapa sampai terjadi “perbuatan tidak terpuji” seperti itu? Bukankah kejadian serupa pun terjadi pada UN tahun lalu, dimana beberapa oknum guru tengah mengerjakan soal UN untuk menggantikan hasil kerjaan siswanya dan kemudian tertangkap tangan oleh Densus 88 antiteror. Tidakkah hal tersebut mejadikan pelajaran berharga? Belum lagi bentuk-bentuk kecurangan yang lain yang mungkin tidak kita temui tetapi dapat “dirasakan” aromanya.
Mengapa tiap kali pelaksanaan UN banyak pihak mengalami stress, mulai dari orang tua murid, guru dan bahkan kepala sekolah? Bagi orang tua murid jelas mereka cemas, takut putra-putrinya tidak lulus. Bagi guru dan kepala sekolah barangkali terkait dengan reputasi diri dan sekolah yang bersangkutan. Belum lagi bila keberhasilan (dengan tingkat kelulusan tertentu), taruhannya adalah kedudukannya, jelas ini merupakan sesuatu yang “masuk akal” bila kemudian guru dan kepala sekolah merasa was-was dengan hasil UN.

Apakah hal tersebut merupakan justifikasi pentingnya pengawas dan pemantau independent dalam UN? Seperti kita ketahui, akhir-akhir ini, pelaksanaan UN harus diawasi oleh Pengawas Independen untuk ”menjamin” pelaksanaan UN berlangsung dengan fair. Walaupun ini tidak menjadi jaminan karena kebocoran bisa terjadi di banyak lini yang tidak terjangkau oleh pengawas independen. Namun dengan adanya pengawas independen menunjukkan bahwa paling tidak pelaksanaan UN yang sudah-sudah dicurigai tidak berlangsung dengan jujur, sebagaimana terlihat dari beberapa kasus dalam UN.

Yah, itulah keprihatinan kita. Kejujuran pelaksanaan UN sudah diragukan sehingga perlu adanya pengawas independen. Laksana pemilu saja, yang memerlukan pengawas dan pemantau independen demi pemilu yang LUBER. Jika dari tingkat sekolah sudah diawali dengan ketidakjujuran, lantas bagaimana dengan kelanjutannya? Inilah krisis pendidikan kita yang sesungguhnya. Sekolah, atau tepatnya pendidikan sudah menjadi objek penderita. Sekolah sudah menjadi ajang permainan pejabat politik, lebih-lebih menjelang pemilu, para petinggi daerah mematok target tertentu. Kedudukan guru dan kepala sekolah menjadi terancam oleh tindakan politis para pejabat politik sehingga untuk mengamankan kedudukannya bertindaklah di luar kejujuran, kasak-kusus tak tentu arah. Nilai-nilai kemandirian dan kejujuran dalam proses pendidikan selama tiga tahun hilang seketika hanya beberapa hari. Proses pendidikan yang juga berlangsung selama 3 tahun harus ditentukan oleh ujian ”kognitif” beberapa hari saja. Sekolah (guru dan kepala sekolah) benar-benar tidak memiliki akses untuk menilai dan menentukan kelulusan murid. Padahal mereka yang tahu persis akan siswa-siswanya. Sebuah sistem yang patut untuk dievaluasi.[]

Bengkulu Ekspress, Rabu 29 April 2009